AWAK BADUNSANAK, NDAN!!!

IKPS Bulat Dukung MK-Fauzi

Masyarakat Pesisir Selatan Siap menyatukan dukungan untuk pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

Dorong UNP Lahirkan Pemimpin Mumpuni

Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), bersama alumni UNP, Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Syamsu Rahim Dukung MK-Fauzi

Bukan hanya mendukung, tetapi Syamsu Rahim juga menerima amanat sebagai Ketua Tim Sukses Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Shadiq Pasadigoe Dukung MK-Fauzi

SP : Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana membangun Sumbar lebih baik, membenahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat.

Silaturahmi dengan Tokoh dan Perantau Minang

Muslim Kasim dan Fauzi Bahar Bersama tokoh dan perantau minang : Is Anwar, Azwar Anas, Fasli Djalal, Fahmi Idris dan Mulyadi.

Senin, 03 Agustus 2015

SHADIQ PASADIGOE DUKUNG MUSLIM KASIM –FAUZI BAHAR, SYAMSU RAHIM MENYUSUL?

Sekali sahabat, tetap sahabat. Sempat bersitegang dalam memperebutkan  tiket Pilgub Sumbar, tidak membuat persahabatan Muslim Kasim dan Shadiq Pasadigoe meluntur. Konsolidasi politik yang mengantarkan Muslim Kasim – Fauzi Bahar sebagai pasangan  cagub-cawagub Sumatera Barat menantang pasangan Irwan Prayitno – Nasrul Abit, disambut  Shadiq Pasadigoe dengan suka cita. Bahkan Bupati Tanah Datar dua periode tersebut berikrar untuk mendukung  Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

“Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana mem­ba­ngun Sumbar lebih baik, mem­benahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat,” kata Shadiq kepada Muslim Kasim –  Fauzi Bahar  yang berkunjung ke kediamannya.

Shadiq menyarankan agar Muslim Kasim –  Fauzi Bahar dapat merangkul semua pihak dalam menghadapi Pilkada 2015. Selain itu, Shadiq juga akan me­minta para relawannya untuk terjun mendukung pasangan Muslim Kasim –  Fauzi Bahar.

”Istri saya Betti Shadiq Pasadigoe akan turun langsung membantu pemenangan Pak Muslim dan Pak Fauzi, tentu bersama relawan saya di lapa­ngan. Mari jalin keber­sa­ma­an, ba­samo mang­ko man­jadi,” tegas Shadiq. 

Pertanyaannya sekarang, kemanakah Syamsu Rahim merapat? Kemungkinan Bupati Solok ini akan mendukung pasangan Muslim Kasim - Fauzi Bahar. Potensi ini terlihat dari komunikasi Muslim Kasim dan Syamsu Rahim yang dibangun jauh-jauh hari.

Muslim Kasim, Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim sudah melakukan pendekatan guna menyiasati revisi UU Pilkada. Ketika itu ada potensi Sumbar memiliki dua wakil gubernur. Maka disepakatilah Muslim Kasim sebagai gubernur, sementara Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim masing-masing menjadi wakil gubernur.

Kedekatan Syamsu Rahim dan Fauzi Bahar juga tampak menjelang detik-detik pendaftaran paslon ke KPU Sumbar. Sebelum paslon Muslim Kasim –  Fauzi Bahar terbentuk, pasangan Fauzi Bahar dan Syamsu Rahim sempatkan diwacanakan. Konon pasangan ini sudah diSK-kan oleh DPP Golkar, baik versi Abu Rizal Bakrie maupun Agung Laksono.Sayangnya kontelasi politik kemudian berjalan berbeda. Kedekatan antara Muslim Kasim, Fauzi Bahar dengan Shadiq Pasadigoe akan menjadi basis arah politik dari mantan Bupati Solok tersebut. Tinggal menunggu waktu saja sebelum Syamsu Rahim menyatakan dukungannya bagi Muslim Kasim - Fauzi Bahar. 

Jika ini yang terjadi, maka basis Syamsu Rahim khususnya di  Kab. Solok, Kab. Solok Selatan, Kota Solok dan Kota Sawahlunto akan tertarik ke Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Bagaimanapun Syamsu Rahim pernah menjadi Bupati Solok, Walikota Solok dan Ketua DPRD Sawahlunto. Tentu ini akan menjadi dukungan bingbang bagi Muslim Kasim –  Fauzi Bahar.

Ingin Perubahan, Parpol di Sumbar Bergabung Menentang Kandidat PKS


Posisi Irwan Prayitno dalam pilgub Sumbar kian terjepit. Berkat tangan dingin Fadli Zon, koalisi PKS-Gerindra untuk mengusung Irwan Prayitno dalam pilgub Sumbar memang terbentuk. Sayangnya, cawagubnya, Nasrul Abit malah digugat oleh kader-kader Gerindra Sumbar. Penggugat mengklaim bahwa Nasrul Abit yang disodorkan Gerindra untuk mendampingi Irwan Prayitno difolak oleh 12 dari 19 DPC Kab/Kota Gerindra di Sumbar. Kondisi ini seolah-olah membuat Fadli Zon menjual gerbong kosong, atau mobil tak bermesin kepada Irwan Prayitno dan PKS. Kalaupun gugatan itu kandas, tetap akan meninggalkan api dalam sekam. Mesin politik Gerindra di Sumbar tidak akan sesolid ketika memenangkan Pileg 2014 dan mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam pilpres lalu.
Sekarang, parpol diluar koalisi PKS-Gerindra mewacakan head to head dalam pilgub Sumbar. Parpol penentang status quo ini kian solid membangun kerjasama untuk hanya memajukan satu pasangan kandidat untuk menjadi penantang Irwan Prayitno-Nasrul Abit. Pasangan kandidat yang digadang-gadang adalah Muslim Kasim dan Fauzi Bahar.
Wacana ini kian mengerucut sehubungan dengan mundurnya Mulyadi dari gelanggang. Tampaknya Mulyadi telah terbawa arus besar demi memperkuat wacana ini. Kandidat lain, seperti Shadiq Pasadigue dan Syamsu Rahim, kemungkinan besar juga akan berjiwa besar demi menggolkan dan memberi jalan bagi Muslim Kasim-Fauzi Bahar.
Sepanjang sejarah pilgub Sumbar, dua pasang kandidat berlaga belum pernah terjadi. Jadi wacana head to head pilgub Sumbar ini adalah simbol kecerdasan sekaligus kearifan parpol dan kandidat penantang incumbent.
Kecerdasan karena semakin banyak pasang kandidat akan memperkuat incumbent. Jika pasangan kandidat penantang tidak tunggal, maka suara-suara pemilih yang kecewa dengan kepemimpinan incumbent akan tersebar ke beberapa kandidat. Perpecahan ini memperkokoh pasangan incumbent yang strategi utamanya adalah merangkul erbahaya suara pemilih yang puas dengan kinerja pemprov. Di kalangan pemilih yang puas, pasangan incumbent tentu tidak punya saingan. .
Arif artinya bukan hanya kesepahaman perlu ada perubahan, tetapi untuk berubah perlu ada kerjasama dalam wadah yang lebih mengikat. Apalagi, untuk membangun poros bersama, pasangan penentang tunggal, artinya akan ada pengorbanan-pengorbanan tambahan. Yang dikorbankan bisa berupa posisi kader yang hendak diusung jadi cagub/cawagub, posisi di tim sukses, hingga hilangnya sebagian kekuatan financial yang bisa dihimpun oleh parpol/ pemain pilgub ini. Di sinilah titik kedewasaab parpol dan para kandidat penentang diuji, yaitu memajukan kepentingan perubahan di Sumbar ketimbang ambisi pribadi dan kepentingan parpol semata. Dan tampaknya mereka berhasil.
Tentu saja wacana ini tidak berlangsung linier. Wacana ini juga mengalami penentangan. Penentang pertama adalah para pemain politik yang menjadikan pilgub sebagai ajang mengumpulkan pundi-pundi. Semakin sedikit pasangan, tentu semakin kecil pula peluang mereka untuk mengkooptasi sumberdaya politik para kandidat. Kedua, pasukan senyap incumbent, sebagai upaya agar pemilih yang kecewa tidak terpolarisasi ke satu titik.
Kedua kalangan ini yang terus menerus mengipas-kipas para kandidat penentang. Mereka memainkan hasil survei, menyerang kandidat secara personal, sampai jual deklarasi dukungan politik. Harapanny, tentu saja, kandidat penentang yang dijagokan melihat dirinya sebagai sosok yang paling tepat, paling diinginkan rakyat dan paling mungkin memenangkan pertarungan. Bahwa "Bapak jauh lebih hebat ketimbang si anu, jadi jangan mau disutuh mundur" demikian kira-kira kipas-kipas mereka. Dua kalangan ini yang perlu diwaspadai.
Dengan terpolarisasinya pemilih puas dan pemlih kecewa, potensi penantang untuk mengalahkan pasangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit akan semskin besar. Apalagi ditambah dengan ketidaksolidan mesin politik Gerindra Sumbar, paska Fadli Zon memaksakan Nasrul Abit yang tidak direkomendasikan pansel Gerindra Sumbar.. Mengingat hampir mustahil mengubah rekomendasi DPP Gerindra tersebut, maka pelecehan Fadli Zon akan ditangkapin dengan perlawanan diam. Mulutnya tidak menentang, tetapi kaki dan tangannya diam saja, tidak mau berkeringat demi menenangkan Irwan Prayitnon-Nasrul Abit, atau yang paling parah, kader-kader Gerindra ini akan loncat pagar, Mereka tidak ganti seragam, tetapi mendukung kandidat yang lain.

FADLI ZON JUAL GERBONG KOSONG KE PKS?


Sesuai prediksi, Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat, resmi bersanding dengan Nasrul Abit, Bupati Pesisir Selatan, untuk maju ke gelanggang Pilgub Sumbar Desember mendatang. IP didukung PKS, sedang NA diusung oleh Partai Gerindra. Adalah Fadli Zon yang disebut-sebut sebagai king maker perjodohan ini.
Tetapi perjodohan ini ternyata tidak berjalan mulus. Sejak mula, kader-kader Gerindra Sumbar tidak menginginkan Nasrul Abit menjadi cawagub dari Gerindra. Perkaranya NA dinilai bukan pribumi Gerindra. Kedekatan Nasrul Abit dan Gerindra baru terjalin menjelang kompetisi kepala daerah Sumbar ini. Na dinilai sebagai kader yang naik di jalan, dan tidak berkeringat dalam membesarkan Gerindra di Sumbar. 
Belum lagi ada isu politisi kutu loncat yang menerpa. Sebelumnya, Nasrul Abit tercatat sebagai kader Partai Demokrat Pesisir Selatan. Namun belakangan, demi memuluskan pencalonannya NA memutuskan berganti haluan ke Partai Gerindra.
Manuver ini tak pelak membuka luka lama Gerindra. Teringat kembali sepakterjang Basuki Tjahya Purnama (Ahok) yang merapat ke Gerindra pada pilgub DKI Jakarta, kemudian dengan durhakanya meninggalkan Gerindra. Luka didurhakai ini berimbas tidak direkomendasikannya NA oleh Gerindra Pesisir Selatan. Ketiadaan rekomendasi daerah ini kemudian dimanfaatkan oleh Pansel Pilkada Sumbar untuk mendepak NA dari kursi cagub/cawagub Sumbar yang diusung Gerindra Sumbar.
Berdasarkan tahapan yang dilakukan pansel Gerindra Sumbar, ada 6 nama yang telah dikirim ke DPP, yaitu untuk cagub masing-masingnya adalah Irwan Prayitno dan Suir Syam. sedangkan cawagub, adalah Hendra Irwan Rahim, Syamsu Rahim, Syafrudin Datuk Sanggono dan Zulkifli Jailani. Nama Nasrul Abit tidak termasuk yang direkomendasikan.
Sadar akan kebuntuan ini, Fadli Zon pun turun tangan. Kendati tugas pansel Gerindra Sumbar belum selesai, DPP Partai Gerindra mengeluarkan rekomendasi pencalonan Irwan Prayitno dan Nasrul Abit (IP-NA) sebagai pasangan cagub dan cawagub dari Gerindra lewat surat Nomor 07-018/Rekom/DPP-Gerindra/2015 tertanggal 4 Juli.Rekomendasi ini bahkan langsung dipublish ke media massa.
Di sinilah menariknya. Gerindra selama ini terkenal sebagai partai dengan gaya semi komando di mana kebijakan-kebijakannya berpusat pada Prabowo Subianto.Ibaratnya, apa yang diputuskan oleh Prabowo Subianto adalah sabda yang tidak boleh diganggugugat oleh segenap kader Gerindra.Sumbar sendiri terkenal akan kader-kader Gerindra yang militan. 
Pada Pileg lalu, Gerindra berhasil meraup 267.983 suara, menjadi partai ketiga terbesar setelah Golkar dan Demokrat di Sumbar. Gerindra Sumbar sukses menempatkan 8 wakilnya di DPRD Sumbar. Dalam pilpres lalu militansi kader-kader Gerindra kembali terbukti dengan menjadikan Sumbar sebagai propinsi tertinggi dalam prosentase kemenangan Prabowo Subianto -Hatta Rajasa
Lantas mengapa kader-kader Gerindra menentang rekomendasi DPP yang ditandatangani langsung oleh Prabowo Subianto dan Ahmad Muzani tersebut? Tidak tanggung-tanggung, pansel menklaim bahwa gugatan mereka didukung 12 dari 19 DPC Gerindra kota/kab.di Sumbar. 
Pertama, gugatan ini menandakan bahwa kader-kader Gerindra Sumbar sudah mati rasa dengan Nasrul Abit. Kebaradaan Nasrul Abit diyakini tidak akan bermanfaat banyak bagi perkembangan Gerindra di Sumbar, plus fakta bahwa Nasrul Abit adalah kader yang naik di jalan dan tidak berkeringat dalam membesarkan Gerindra selama ini.
Kedua, gugatan gugatan ini justru untuk menentang Fadli Zon yang dianggap tidak peka terhadap aspirasi kader-kader di daerah. Adli Zon bahkan terkesan arogan dan tidak menghargai kerja kader-kader di daetah karena sebelum rekomendasi Pansel selesai sudah ditelikung. Parahnya, hasil telikung tersebut berbeda jauh dengan apa yang hendak direkomendasikan oleh pansel.
Ketiga, gugatan ini bukan pembangkangan terhadap Prabowo Subianto, tetapi kritik konstruktif. Hal ini yang menyebabkan gugatan ini menjadi begitu santun, tidak besar-besaran sampai pakai unjukrasa, tetapi melalui jalur formal ke PTUN. Gugatan santu ini jelas merupakan salah satu bentuk hormat kepada Prabowo Subianto.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika DPP Gerindra tidak mau mencabut rekomendasinya? Tentu saja pasangan Irwan Prayitno dan Nasrul Abit akan jalan terus. Tetapi rombongannya lebih pendek. Ada potensi 12 DPC pendukung PTUN rekomendasi DPP Gerindra tidak bergeming. Aktivitas pasif ini bisa terbaca dari keberanian sekaligus kesantunan gugatan yang mereka lancarkan. Pada posisi ini, Fadli Zon seperti menjual Nasrual Abit kepada Irwan Prayitno, tetapi dengan gerbong kosong Gerindra.
Jika mesin politik Gerindra pasif, maka beban berat akan diemban oleh kader-kader PKS. Beban ini akan kian beray mengingat kemungkinan pasangan yang berlaga di Sumbar hanya 3 pasang. Artinya polarisasi pemilih yang ingin perubahan tidak akan pecah besar. Padahal, salab satu keuntungan dari petahana adalah semakin banyaknya pasangan agar basis yang kecewa atas program-program petanaha tercerai-berai. 
Kondisi di atas masih lebih baik, ketimbang kader-kader Gerindra ini emutuskan untuk pendukung poros pasangan yang lain. Dengan mesin politik yang tinggal setengah, PKS minus Gerindra, potensi kemenangan petahana tentu kian menipis

Jumat, 05 Juni 2015

Taslim Chaniago : Tak Takut Bersaing, Kalah-Menang Lumrah

Banyak tokoh muncul dan digadang-gadang berpeluang mengincar BA 1. Di antaranya, Taslim Chaniago, mantan anggota DPR, ikut meramaikan bursa calon gubernur Sumbar lima tahun ke depan. Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres, Revdi Iwan Syahputra dengan Taslim Chaniago.
  
Menurut Anda,  seberapa  penting Pilgub Sumbar 2015 ini?
Tentu saja penting. Ini berkaitan dengan kesinambungan pembangunan dan suksesi kepemimpinan di Sumbar. Harus diingat, pergantian kepala daerah jangan sampai mengikis prinsip pembangunan berkesinambungan, apalagi sampai mencabik-cabik bangunan demokrasi di daerah ini.

Pembangunan berkesinambungan seperti apa?
Bukan rahasia lagi, ganti pemimpin ganti pola pembangunan, akibatnya banyak program pembangunan terbengkalai dan tidak tepat sasaran. 

Contohnya?
Ah, saya rasa tak etis memaparkan contohnya. Saya rasa, Anda juga tahu (Taslim tersenyum sambil mengambil lemon tea dan menghirupnya).

Banyak meragukan Anda, apalagi pada 2014 Anda gagal kembali ke Senayan (DPR RI)?
Oke, saya maju karena panggilan hati dan hak konstitusional saya. Memang, usia saya baru 44 tahun, saya rasa bukan halangan bikin perubahan menuju Sumbar hebat dan modern.
Saya ditempa oleh partai saya PAN, ketakwaan saya pada Islam, saya dapat lewat tempaan ormas terbesar di Sumbar, Muhammadiyah. Lalu, saya alumni Unand jadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni Unand Jabodetabek.
Saya tujuh tahun menjadi anggota DPRD Sumbar, loyalis dan sahabat saya tersebar di semua daerah di Sumbar. Ini modal bagi saya. Saya tidak pernah mengenal rasa takut bersaing. Kalah dan menang lumrah.

 Apa nilai lebih Anda dibandingkan kandidat lain?
Tak mungkinlah saya menilai diri sendiri. Tapi sebagai referensi, data pemilih di KPU Sumbar itu pemilih muda dan pemula lebih banyak ketimbang pemilih tua. Ini segmen bagi perjuangan saya dan loyalis saya untuk menggarapnya.
Dan ingat, anak muda Sumbar bukan tipikal skeptis dengan politik. Saya sering nongkrong di banyak warung kopi dan kafe, mereka respek tentang politik. Malah kadang-kadang anak muda Sumbar sudah seperti politisi ulung saja gayanya.
Sejarah mencatat anak muda Sumbar tempo dulu punya andil besar merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik ini. Tokoh seperti Hatta, Natsir, Syahrir, Hamka dan Tan Malaka menjadi panutan orang muda Sumbar dengan dimensi berbeda saat ini.
Saya terinspirasi dengan tokoh-tokoh muda Sumbar tempo dulu itu, dan siap merefleksikan kembali sesuatu yang menjadi ikon anak muda Sumbar dalam ruang dan cara berbeda.

Sumbar sekarang menurut Anda?
Sumbar butuh percepatan segala lini agar sejajar dengan provinsi lain di Indonesia, tapi faktanya Sumbar kini justru mundur. Sumbar kini cuma posisi kesembilan di Sumatera dalam laju investasi.
Sumbar hanya unggul dari Bengkulu. Ini tamparan bagi kita. Nah, dengan fakta itu, Sumbar butuh kepemimpinan muda yang inovatif dan punya jaringan nasional dan global.
Saya tahu persis potensi sumber daya alam Sumbar. Seperti emas di Solok Selatan itu, kualitasnya menurut banyak penelitian lebih bagus dibandingkan emas Freeport, tapi hanya untungkan pemilik modal. Belum menyejahterakan rakyat Solok Selatan maupun Sumbar.
Lalu kekayaan energi terbarukan Sumbar sangat luar biasa. Seorang pemimpin jangan bersembunyi terus dengan miskin atau SDA, ini butuh lobi, kapan perlu perlawanan agar potensi itu bisa diurus oleh Sumbar.
Atau mengkonkretkan kompensasi atas jasa Sumbar menjaga hutan lindung sebagai paru-paru dunia, share dana kompensasi itu harus jelas dan masyarakat Sumbar harus tahu berapa dan untuk apa dana kompensasi tersebut.
Lalu, Sumbar harus dibangun dengan sinergisitas kekuatan rantau dan kampong. Ini kapital besar kalau digarap serius.

Bagaimana ‘gizi’ Anda hadapi pilgub?
Hehhe, tak etislah saya bilang di sini, nantilah kalau sudah ada tahapannya, pasti saya sampaikan. Tapi, pastilah ada ongkos politik. Maju sebagai cagub saya jamin tidak sebesar yang dibayangkan.
Modal utama saya Bismillahirahamanirrahim, lalu dukungan riil sahabat-sahabat, tokoh-tokoh dan ormas saya Muhammadiyah. Itu dukungan tak ternilai dengan rupiah. (*)

Rabu, 03 Juni 2015

Irwan Prayitno : Saya Menunggu Amanah dari Partai


Sejumah partai politik (parpol) telah membuka pendaftaran calon gubernur Sumbar, namun Gubernur Irwan Prayitno masih tenang-tenang saja. Beberapa nama yang selama ini digadang-gadang masuk bursa pemilihan gubernur (pilgub), telah mendaftarkan diri ke seluruh parpol yang membuka pendaftaran.
Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres Rommi Delfiano dengan Gubernur Irwan Prayitno di rumah dinasnya, Kamis (12/2) lalu.

Anda tak menggubris pendaftaran calon gubernur oleh sejumlah parpol, apakah Anda tidak maju lagi?
Hehehe…, tidak begitu juga. Bagaimana saya bisa menyatakan maju atau tidak, aturan yang digunakan sebagai bahan rujukan dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) masih dalam proses.
Bila sudah selesai dibahas oleh DPR bersama pemerintah sekitar 17 Februari nanti, barulah bisa kita jadikan rujukan guna melakukan persiapan. Termasuk, keputusan maju atau tidak dalam pilgub mendatang.    

Menurut Anda, apa saja poin penting dalam revisi UU Pilkada tersebut?
Sebetulnya banyak hal, namun terpenting ada tiga poin. Pertama, kendaraan parpol pengusung. Sekarang ini masih ada dua opsi yang masih berkembang, apakah 20 persen kursi di DPRD Sumbar atau 15 persen.
Ini jelas berpengaruh terhadap koalisi parpol pengusung calon nantinya. Kalau misalnya 15 persen, hanya Partai Golkar yang bisa mengusung calon sendiri tanpa berkoalisi. Sedangkan parpol lainnya harus berkoalisi.
Kedua, satu paket dengan calon wakil gubernur sekaligus atau cukup calon gubernur saja. Termasuk, opsi dua wakil gubernur bagi provinsi yang berpenduduk 3-10 juta jiwa.
Terakhir, soal jadwal pelaksanaan pilkada, tahun ini atau tahun depan. Kalau tahun depan, tentu kita masih memiliki waktu yang lebih panjang, ketimbang bila diputuskan pilkada dilaksanakan tahun ini. Akibat persoalan inilah, sampai sekarang ini kita belum bisa mengambil keputusan maju atau tidak.

Di samping aturan, tentu masih ada persoalan lainnya?
Ya. Saya ini kan kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera), jadi yang memutuskan saya maju atau tidak, tetap saja parpol. Artinya, saya tak bisa memutuskan maju atau tidak secara pribadi.
Di PKS, kader maju atau tidak, partailah yang berhak memutuskannya sesuai mekanisme di internal. Mulai dari pemilu internal, termasuk proses musyawarah dan mufakat. 
Nah setelah diputuskan, barulah partai yang mencari partai tambahan (pasangan koalisi, red). Di PKS, tak ada yang namanya kader mendaftar atau mencari-cari amanah.
Inilah pola di PKS, parpol lebih aktif ketimbang calon. Dalam Pilgub 2010 lalu, pola ini berjalan dengan baik. Waktu itu, saya datang ke Padang malam menjelang penutupan pendaftaran calon ke KPU Sumbar.
Kalau sekarang, jelas masih banyak waktu. (Dalam wawancara Padang Ekspres seusai mendaftarkan diri ke KPU Sumbar dalam Pilgub 2010 lalu, sebetulnya Irwan memang tak berniat maju dalam Pilgub 2010 lalu. Biarpun namanya paling diunggulkan dalam pemilu internal, namun Irwan menolaknya. Terlebih lagi, Irwan sudah mempersiapkan diri menjadi duta besar (dubes) di salah satu negara di Eropa. Namun di detik-detik akhir menjelang ditutupnya pendaftaran pasangan calon, hati Irwan luluh setelah dewan syuro DPP PKS memutuskan dirinya maju dalam pilgub).

Pertimbangan lainnya?
Tentu, pertimbangan paling penting lainnya soal kepuasan masyarakat Sumbar. Bila masyarakat puas dengan kinerja Pemprov Sumbar selama lima tahun terakhir dan menghendaki saya maju lagi, insya Allah saya akan maju lagi.
Sejauh ini, berdasarkan catatan sejumlah survei, tingkat kepuasan masyarakat di atas 70 persen (Irwan enggan menyebutkan secara pasti lembaga surveinya). Jelas ini bakal menjadi bahan pertimbangan saya sebelum memutuskan maju atau tidak dalam pilgub mendatang.

Bagaimana Anda melihat gerak cepat pesaing Anda? 
Bagi saya, semakin banyak orang yang maju dalam pilgub mendatang jelas semakin bagus. Ini pertanda demokrasi di Sumbar sudah berjalan dengan baik. Saya tak takut terhadap apa yang berkembang beberapa hari belakangan ini (beberapa tokoh politik mendaftarkan diri ke sejumlah parpol). Alhamdulillah, bila nantinya tak terpilih menjadi gubernur, masih banyak pekerjaan yang menunggu saya. Jadi, kenapa harus cemas.
Intinya, secara pribadi saya tak ingin mencalonkan diri jadi gubernur. Namun kalau diberi amanah oleh parpol, mau tak mau saya harus siap. Jadi, sekarang saya menunggu amanah dari parpol. (Irwan sendiri sebelum terpilih menjadi gubernur Sumbar, tercatat sebagai Guru Besar Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia, penulis buku bertemakan psikologi, pendidikan, dan agama, serta lainnya).

Kalau Anda maju, kabarnya Anda tidak lagi berpasangan dengan Muslim Kasim (Wakil Gubernur Sumbar), apa betul?
Jelas tidak mungkin. Beliau (Muslim Kasim, red) sudah mendaftarkan diri jadi calon gubernur. Dulunya (tahun 2010), beliau juga memang mencalonkan diri jadi calon gubernur. Mungkin beliau cocoknya menjadi gubernur.
Namun kalau beliau mencalonkan jadi wakil gubernur, tentu masih ada peluang. Tentu tak mungkin pula saya menjadi wakil gubernur nantinya. Jadi, tak mungkin pula saya meminta beliau mencalonkan diri jadi wakil gubernur. Itu kan hak asasi beliau. (Muslim Kasim sudah mendaftar menjadi cagub di Partai NasDem, PAN dan Hanura).
  
Sekarang ini berkembang isu di masyarakat, gubernur mendatang asal bukan Irwan, tanggapan Anda?
Bagi saya, semua itu wajar-wajar saja. Sudah biasa seorang incumbent jadi musuh bersama, dan itu sudah biasa pula terjadi dalam politik. Kalaupun itu betul, saya pikir itu hanyalah sentimen pribadi saja dan bukan pandangan partai. Soalnya, sejumlah partai sudah menginginkan saya maju menggunakan partainya. 

Bagaimana Anda melihat kinerja yang sudah dicapai lima tahun terakhir? 
Saya pikir masyarakat Sumbar lah yang berhak memberi penilaian. Namun, lima tahun terakhir saya sudah bekerja sebaik-baiknya. Pascagempa 30 September 2009, Sumbar pelahan bangkit. Ditandai bantuan rehab rekon gempa Rp 4,865 triliun melalui dana APBN 2010-2014.
Selain itu, pembangunan infrastruktur multiyears senilai Rp 1,025 triliun dalam APBD Sumbar. Lalu, menyelesaikan Hotel Balairung dan Jalan Sicincin-Malalak, pembangunan Kelok 9, meneruskan pembangunan Masjid Raya, pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur pembangunan Flyover di Bukittinggi dan lainnya.  
       
Ke depan, apa pembangunan strategis yang perlu dilanjutkan? 
Sebetulnya masih banyak. Mulai dari penyelesaian pembangunan Masjid Raya Sumbar, pembangunan terowongan Malalak-Balingka Kotogadang, Jembatan Ngarai Sianok, Jembatan Kabel Sungaidareh, Jalan Layang Silaing Padangpanjang, Stadion Utama Sumbar, Islamic Center dan Asrama Haji Sumbar, Pusat Kebudayaan Sumbar dan lainnya. (*)

Selasa, 02 Juni 2015

Epyardi Asda : Program tak Jelas, Kada Banyak Pencitraan

Setelah terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Sumbar 1 untuk periode ketiga kalinya, Epyardi Asda kini membidik Sumbar 1. Lantas apa yang melatar-belakangi politisi PPP ini maju dalam pemilihan gubernur (Pilgub) Sumbar akhir tahun ini?
Berikut hasil wawancara wartawan Padang Ekspres Zulkarnaini, Rommi Delfiano, dan Revdi Iwan Syahputra dengan Epyardi Asda yang secara khusus datang ke gedung Graha Pena Padang usai mendarat di BIM, kemarin (24/2). 
Apa yang sudah Anda lakukan selama menjadi anggota DPR RI?
Sebenarnya saya bukanlah orang baru di dunia politik. Saya sudah mulai berpolitik sejak tahun 2004. Keikutsertaan saya di politik, karena ingin mencoba sesuatu hal yang lain daripada mengelola perusahaan sendiri yang telah sukses yang saya tekuni sejak 1997 lalu.
Kalau ditanya seperti perjalanan saya di bidang politik ini, saya juga tidak pernah menduga sebelumnya. Saat maju pertama kali ke jalur legislatif, saya menduduki nomor urut pertama saat maju ke DPR RI lewat PPP.
Alhamdulillah terpilih. Di sinilah saya mulai mempelajari seperti apa kemauan masyarakat Sumbar. 
Ini juga yang sudah memberi saya kepercayaan untuk duduk di DPR RI hingga kini. Tapi setelah saya lihat, sejak mulai tahun 80-an meninggalkan kampung halaman, tak banyak perubahan Sumbar.
Berangkat dari situlah, saya pun berjuang  di Senayan (DPR RI, red) untuk membangun Sumbar. Ternyata perjuangan itu tak sisi, sebut saja seperti kelanjutan pembangunan Kelok Sembilan. Kalau bukan karena saya yang ngotot memperjuangkannya ke Kementerian PU, mungkin itu tidak akan dilanjutkan. 
Karena sejak 2012, pembangunannya sudah mulai terbengkalai. Bahkan, saya sempat ngotot agar pembangunan bisa tuntas pada 2013, dan itu akhirnya terwujud.
Sejak saat itulah saya dapatkan jawabannya, kenapa hanya sedikit kue pembangunan yang bisa diberikan kepada Sumbar. Karena, kepala daerahnya tidak memiliki program dan perencanaan yang jelas untuk pembangunan daerahnya.
Makanya, banyak kue pembangunan yang lari ke daerah lain. Karena itu, saya berniat untuk berbakti kepada tanah kelahiran saya.
Menurut Anda, apakah Sumbar sudah mengalami kemajuan?
Pertanyaan ini sudah saya temukan jawabannya saat duduk di Komisi V DPR RI. Tepatnya, dari data Kementerian PDT yang juga menjadi mitra kerja saya.
Ternyata, tingkat pembangunan Sumbar itu nomor sembilan dari 10 provinsi di Sumatera. Sedangkan tingkat kegembiraan, ternyata Sumbar nomor tiga paling buncit dari seluruh provinsi di tanah air.
Ini karena apa, karena pejabat yang menjabat saat ini trennya hanya pencitraaan. Sangat disayangkan dengan dana sebesar Rp 17 triliun yang tersedia di Ditjen Bina Marga, kenapa Sumbar hanya dapat Rp 56 miliar saja. 
Itu jauh berbanding terbalik dibandingkan daerah lainnya, seperti Jateng misalnya yang mendapatkan suntikan dana Rp 700-800 miliar.
Jadi saya dipercaya, saya target 2 tahun ini, Sumbar harus lebih maju. Karena teman-teman saya di DPR RI dan Kementerian PU, juga sudah menyatakan dukungan terkait pencalonan saya ini.
Banyak masyarakat bilang sikap Anda arogan, bagaiamana pendapat Anda?
Sebenarnya saya memang sudah didik di kapal yang memiliki kehidupan yang keras dan dituntut harus bisa bekerja sempurna. Di sanalah saya memahami jika ketegasan paling dibutuhkan dalam hidup.
Satu yang paling saya tanamkan dalam hati sampai kini adalah, saya belum merasa bahagia sebelum bisa membahagiakan masyarakat. Karena apa, saya sudah merasakan bagaimana pahitnya kehidupan saya sebelum saya merasakan keberhasilan ini.
Bahkan, saya juga tak segan-segan menjadi penjual jamu. Karena itu, sebenarnya saya sudah terbiasa dengan hidup susah dan miskin sejak dulunya. Prinsip saya, kalau iya itu ya, bukan sebaliknya. 
Banyak orang memprediksi kalau kubu Suryadharma Ali (SDA) kalah, maka Anda akan dihabis. Apa betul begitu?
Saya kira itu tidak akan terbukti. Karena, sampai saat ini saya masih mendapatkan dukungan penuh dari partai untuk maju sebagai calon gubernur.
Saya ini politikus, bayangkan saja sayalah satu-satunya politisi PPP yang maju sebagai cagub di tanah air. Karena saya orangnya fair, siapa yang menang itulah yang terbaik.
Karena yang harus dipikirkan itu bukan kepentingan pribadi lagi, tapi partai yang menjadi lembaga dan kebersamaan kita. Jadi kalau soal internal saat ini sudah tidak ada masalah lagi. 
Ke mana saja komunikasi politik yang sudah Anda jajaki?
Kalau soal itu, mungkin sudah banyak. Seperti, PAN, NasDem, PDI Perjuangan Hanura dan sebagainya. Mereka itu sangat mendukung saya.
Dan, saya pun sudah ketemu Rommy (Romahurmuziy, red), Eep (Eep Saefulloh Fatah, red), mereka juga sudah menyatakan kesiapannya untuk mendukung dan membantu saya. Jadi, saya kira sudah tidak ada masalah lagi.
Kerja sama seperti apa yang akan Anda lakukan dengan Eep selaku konsultan politik nantinya?
Eep sudah menyatakan kesiapannya untuk membantu penuh pencalonan saya dalam segi apa pun. Termasuk melakukan survei nantinya. Itu mereka lakukan ikhlas demi menolong saya. 
Banyak yang berpikiran jika materi juga faktor yang paling menentukan seseorang untuk bisa meruap suara sebanyak-banyaknya. Bagaimana penilaian Anda?
Itu (uang, red) bukan jaminan. Karena banyak masyarakat yang menerima uang, tapi tidak mau suaranya dibeli. Karena apa, masyarakat kita saat ini sudah cerdas dan tidak mau dibodoh-bodohi lagi dengan uang.
Kita lihat seperti pak Prabowo dalam penjaringan suara di Sumbar. Bagaimana beliau bisa mengumpulkan suara signifikan di Sumbar, tanpa mengeluarkan uang. Itu setidaknya sudah cukup sebagai bukti bagi kita.
Jadi saya tegaskan, jangan pernah anggap remeh harga diri Sumbar dengan uang, karena uang bukanlah segala-galanya.
Apa pendapat Anda soal rival yang akan Anda hadapi di pilkada nantinya? 
Saya tekan, saya tidak mau menganggap remeh lawan. Bagi saya semua lawan berat karena ini juga didukung dengan ketokohan mereka, termasuk incumbent. Jadi, saya akan buktikan jika itu bukan gombal. (*)

Senin, 01 Juni 2015

Nasrul Abit : Bidik BA 5, Andalkan Dukungan Keluarga


Berhasil mengeluarkan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dari ketertinggalan menjelang berakhirnya masa jabatan periode kedua sebagai bupati Pessel, menjadi modal bagi Nasrul Abit menatap Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar 2015 mendatang.
Lantas apa yang mendasari suami Wartawati ini maju dalam pilgub mendatang? Berikut hasil wawancara wartawan Padang Ekspres Yoni Syafrizal dengan Nasrul Abit.


Sebetulnya apa yang mendorong Anda maju dalam pilgub mendatang?
Motivasi saya maju ke provinsi berawal dari besarnya dukungan yang masuk. Dukungan itu bukan saja dari warga Pessel, tapi juga dari beberapa daerah lain, termasuk perantau yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pesisir Selatan.
Dukungan lebih besar itu, juga datang dari keluarga dan kerabat. Sebab tanpa dukungan dari mereka semua, sulit bagi saya menjalaninya. Selain itu, saya juga sudah berpengalaman selama 15 tahun memimpin Pessel, lima tahun jadi wakil bupati dan 10 tahun jadi bupati. 

Apa yang Anda perbuat selama ini?
Perlu diingat bahwa dulu Pessel tercatat sebagai kabupaten tertinggal, kini sudah keluar dari kabupaten tertinggal. Dulu produksi pangan masih rendah, sekarang surplus. Bahkan, tahun lalu surplusnya di atas delapan persen. Artinya, secara ekonomi ada peningkatan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga naik 73,20 persen, Indeks Pembangunan Kesehatan (IPK) naik, derajat kesehatan naik, angka harapan hidup naik. Ini semua sektor mendasar. Intinya, pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi terjadi perbaikan.
Secara ekonomi pertumbuhan Pessel tahun 2014  adalah 6,2 persen. Hasil yang telah dicapai ini  semacam dorongan atau potensi untuk bisa maju ke tingkat Sumbar. 

Apa langkah Anda mendapat dukungan partai politik?
Terkait hal ini, saya memang belum bisa berbicara. Namun, beberapa partai sudah saya hubungi dan melakukan komunikasi. Walau kenyataannya, sampai saat ini saya belum mendaftar.
Saya juga sudah berkomunikasi dengan beberapa partai yang belum membuka pendaftaran. Biarpun begitu, saya belum bisa menyebutnya. Insya Allah partainya ada. 

Bagaimana kesiapan finansial Anda? 
Untuk pertanyaan satu ini, saya tidak bisa menjelaskan. Tidak etis disebutkan. Tapi, saya sudah melakukan rapat-rapat dengan keluarga dan kolega saya, termasuk juga kerabat. Alhamdulillah mereka akan membantu.
Sebab, tidaklah mungkin saya menggunakan uang daerah untuk kepentingan ini. Makanya, dukungan keluarga dan kerabat sangat penting, serta menjadi motivasi terbesar bagi saya untuk berani maju.
Walau demikian, kesiapan 100 persen memang belum. Saya rasa kekuatan finansial itu bukanlah jaminan untuk menang, kecuali dukungan. Yang jelas, rezeki itu akan selalu ada. 

Apakah Anda maju menjadi cagub atau cawagub?  
Saya belum berani menyampaikan ini sekarang. Tapi, perkiraannya menjadi orang nomor dua (BA 5). Kami sedang mencari kesepakatan sebagai orang nomor dua dengan siapa pun partnernya. Kepada masyarakat Pessel, saya berpesan agar memberikan dukungan kepada saya dengan siapa pun partnernya nanti. 

Apa visi Anda terhadap Sumbar?
Tentu, kita akan menggarap bersama potensi dan permasalahan di Sumbar ini. Intinya, hampir sama atau tidak jauh berbeda dengan Pessel, baik permasalahan ekonomi, hutan lindung, bencana alam. Termasuk, potensi seperti pertanian dan lainnya.
Perbedaannya tergantung pada fokus daerah masing-masing, sesuai potensi yang dimiliki. Yang pasti, rata-rata potensi Pessel ada pada kabupaten dan kota lainnya di Sumbar.
Tinggal lagi fokusnya apa. Seperti Bukittinggi, fokus garap sektor pariwisata. Demikian juga daerah lainnya, harus sesuai potensi yang dimilikinya.
Meski begitu, saya melihat pariwisata menjadi unggulan ke depan di Sumbar. Dalam hal ini, saya bisa menyumbangkan pikiran bagaimana mengembangkan pariwisata ini. Tentunya,  sesuai adat  istiadat, budaya dan agama di Sumbar. (*)