AWAK BADUNSANAK, NDAN!!!

IKPS Bulat Dukung MK-Fauzi

Masyarakat Pesisir Selatan Siap menyatukan dukungan untuk pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

Dorong UNP Lahirkan Pemimpin Mumpuni

Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), bersama alumni UNP, Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Syamsu Rahim Dukung MK-Fauzi

Bukan hanya mendukung, tetapi Syamsu Rahim juga menerima amanat sebagai Ketua Tim Sukses Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Shadiq Pasadigoe Dukung MK-Fauzi

SP : Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana membangun Sumbar lebih baik, membenahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat.

Silaturahmi dengan Tokoh dan Perantau Minang

Muslim Kasim dan Fauzi Bahar Bersama tokoh dan perantau minang : Is Anwar, Azwar Anas, Fasli Djalal, Fahmi Idris dan Mulyadi.

Tampilkan postingan dengan label Nasrul Abit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasrul Abit. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

FADLI ZON JUAL GERBONG KOSONG KE PKS?


Sesuai prediksi, Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat, resmi bersanding dengan Nasrul Abit, Bupati Pesisir Selatan, untuk maju ke gelanggang Pilgub Sumbar Desember mendatang. IP didukung PKS, sedang NA diusung oleh Partai Gerindra. Adalah Fadli Zon yang disebut-sebut sebagai king maker perjodohan ini.
Tetapi perjodohan ini ternyata tidak berjalan mulus. Sejak mula, kader-kader Gerindra Sumbar tidak menginginkan Nasrul Abit menjadi cawagub dari Gerindra. Perkaranya NA dinilai bukan pribumi Gerindra. Kedekatan Nasrul Abit dan Gerindra baru terjalin menjelang kompetisi kepala daerah Sumbar ini. Na dinilai sebagai kader yang naik di jalan, dan tidak berkeringat dalam membesarkan Gerindra di Sumbar. 
Belum lagi ada isu politisi kutu loncat yang menerpa. Sebelumnya, Nasrul Abit tercatat sebagai kader Partai Demokrat Pesisir Selatan. Namun belakangan, demi memuluskan pencalonannya NA memutuskan berganti haluan ke Partai Gerindra.
Manuver ini tak pelak membuka luka lama Gerindra. Teringat kembali sepakterjang Basuki Tjahya Purnama (Ahok) yang merapat ke Gerindra pada pilgub DKI Jakarta, kemudian dengan durhakanya meninggalkan Gerindra. Luka didurhakai ini berimbas tidak direkomendasikannya NA oleh Gerindra Pesisir Selatan. Ketiadaan rekomendasi daerah ini kemudian dimanfaatkan oleh Pansel Pilkada Sumbar untuk mendepak NA dari kursi cagub/cawagub Sumbar yang diusung Gerindra Sumbar.
Berdasarkan tahapan yang dilakukan pansel Gerindra Sumbar, ada 6 nama yang telah dikirim ke DPP, yaitu untuk cagub masing-masingnya adalah Irwan Prayitno dan Suir Syam. sedangkan cawagub, adalah Hendra Irwan Rahim, Syamsu Rahim, Syafrudin Datuk Sanggono dan Zulkifli Jailani. Nama Nasrul Abit tidak termasuk yang direkomendasikan.
Sadar akan kebuntuan ini, Fadli Zon pun turun tangan. Kendati tugas pansel Gerindra Sumbar belum selesai, DPP Partai Gerindra mengeluarkan rekomendasi pencalonan Irwan Prayitno dan Nasrul Abit (IP-NA) sebagai pasangan cagub dan cawagub dari Gerindra lewat surat Nomor 07-018/Rekom/DPP-Gerindra/2015 tertanggal 4 Juli.Rekomendasi ini bahkan langsung dipublish ke media massa.
Di sinilah menariknya. Gerindra selama ini terkenal sebagai partai dengan gaya semi komando di mana kebijakan-kebijakannya berpusat pada Prabowo Subianto.Ibaratnya, apa yang diputuskan oleh Prabowo Subianto adalah sabda yang tidak boleh diganggugugat oleh segenap kader Gerindra.Sumbar sendiri terkenal akan kader-kader Gerindra yang militan. 
Pada Pileg lalu, Gerindra berhasil meraup 267.983 suara, menjadi partai ketiga terbesar setelah Golkar dan Demokrat di Sumbar. Gerindra Sumbar sukses menempatkan 8 wakilnya di DPRD Sumbar. Dalam pilpres lalu militansi kader-kader Gerindra kembali terbukti dengan menjadikan Sumbar sebagai propinsi tertinggi dalam prosentase kemenangan Prabowo Subianto -Hatta Rajasa
Lantas mengapa kader-kader Gerindra menentang rekomendasi DPP yang ditandatangani langsung oleh Prabowo Subianto dan Ahmad Muzani tersebut? Tidak tanggung-tanggung, pansel menklaim bahwa gugatan mereka didukung 12 dari 19 DPC Gerindra kota/kab.di Sumbar. 
Pertama, gugatan ini menandakan bahwa kader-kader Gerindra Sumbar sudah mati rasa dengan Nasrul Abit. Kebaradaan Nasrul Abit diyakini tidak akan bermanfaat banyak bagi perkembangan Gerindra di Sumbar, plus fakta bahwa Nasrul Abit adalah kader yang naik di jalan dan tidak berkeringat dalam membesarkan Gerindra selama ini.
Kedua, gugatan gugatan ini justru untuk menentang Fadli Zon yang dianggap tidak peka terhadap aspirasi kader-kader di daerah. Adli Zon bahkan terkesan arogan dan tidak menghargai kerja kader-kader di daetah karena sebelum rekomendasi Pansel selesai sudah ditelikung. Parahnya, hasil telikung tersebut berbeda jauh dengan apa yang hendak direkomendasikan oleh pansel.
Ketiga, gugatan ini bukan pembangkangan terhadap Prabowo Subianto, tetapi kritik konstruktif. Hal ini yang menyebabkan gugatan ini menjadi begitu santun, tidak besar-besaran sampai pakai unjukrasa, tetapi melalui jalur formal ke PTUN. Gugatan santu ini jelas merupakan salah satu bentuk hormat kepada Prabowo Subianto.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika DPP Gerindra tidak mau mencabut rekomendasinya? Tentu saja pasangan Irwan Prayitno dan Nasrul Abit akan jalan terus. Tetapi rombongannya lebih pendek. Ada potensi 12 DPC pendukung PTUN rekomendasi DPP Gerindra tidak bergeming. Aktivitas pasif ini bisa terbaca dari keberanian sekaligus kesantunan gugatan yang mereka lancarkan. Pada posisi ini, Fadli Zon seperti menjual Nasrual Abit kepada Irwan Prayitno, tetapi dengan gerbong kosong Gerindra.
Jika mesin politik Gerindra pasif, maka beban berat akan diemban oleh kader-kader PKS. Beban ini akan kian beray mengingat kemungkinan pasangan yang berlaga di Sumbar hanya 3 pasang. Artinya polarisasi pemilih yang ingin perubahan tidak akan pecah besar. Padahal, salab satu keuntungan dari petahana adalah semakin banyaknya pasangan agar basis yang kecewa atas program-program petanaha tercerai-berai. 
Kondisi di atas masih lebih baik, ketimbang kader-kader Gerindra ini emutuskan untuk pendukung poros pasangan yang lain. Dengan mesin politik yang tinggal setengah, PKS minus Gerindra, potensi kemenangan petahana tentu kian menipis

Senin, 01 Juni 2015

Nasrul Abit : Bidik BA 5, Andalkan Dukungan Keluarga


Berhasil mengeluarkan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dari ketertinggalan menjelang berakhirnya masa jabatan periode kedua sebagai bupati Pessel, menjadi modal bagi Nasrul Abit menatap Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar 2015 mendatang.
Lantas apa yang mendasari suami Wartawati ini maju dalam pilgub mendatang? Berikut hasil wawancara wartawan Padang Ekspres Yoni Syafrizal dengan Nasrul Abit.


Sebetulnya apa yang mendorong Anda maju dalam pilgub mendatang?
Motivasi saya maju ke provinsi berawal dari besarnya dukungan yang masuk. Dukungan itu bukan saja dari warga Pessel, tapi juga dari beberapa daerah lain, termasuk perantau yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pesisir Selatan.
Dukungan lebih besar itu, juga datang dari keluarga dan kerabat. Sebab tanpa dukungan dari mereka semua, sulit bagi saya menjalaninya. Selain itu, saya juga sudah berpengalaman selama 15 tahun memimpin Pessel, lima tahun jadi wakil bupati dan 10 tahun jadi bupati. 

Apa yang Anda perbuat selama ini?
Perlu diingat bahwa dulu Pessel tercatat sebagai kabupaten tertinggal, kini sudah keluar dari kabupaten tertinggal. Dulu produksi pangan masih rendah, sekarang surplus. Bahkan, tahun lalu surplusnya di atas delapan persen. Artinya, secara ekonomi ada peningkatan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga naik 73,20 persen, Indeks Pembangunan Kesehatan (IPK) naik, derajat kesehatan naik, angka harapan hidup naik. Ini semua sektor mendasar. Intinya, pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi terjadi perbaikan.
Secara ekonomi pertumbuhan Pessel tahun 2014  adalah 6,2 persen. Hasil yang telah dicapai ini  semacam dorongan atau potensi untuk bisa maju ke tingkat Sumbar. 

Apa langkah Anda mendapat dukungan partai politik?
Terkait hal ini, saya memang belum bisa berbicara. Namun, beberapa partai sudah saya hubungi dan melakukan komunikasi. Walau kenyataannya, sampai saat ini saya belum mendaftar.
Saya juga sudah berkomunikasi dengan beberapa partai yang belum membuka pendaftaran. Biarpun begitu, saya belum bisa menyebutnya. Insya Allah partainya ada. 

Bagaimana kesiapan finansial Anda? 
Untuk pertanyaan satu ini, saya tidak bisa menjelaskan. Tidak etis disebutkan. Tapi, saya sudah melakukan rapat-rapat dengan keluarga dan kolega saya, termasuk juga kerabat. Alhamdulillah mereka akan membantu.
Sebab, tidaklah mungkin saya menggunakan uang daerah untuk kepentingan ini. Makanya, dukungan keluarga dan kerabat sangat penting, serta menjadi motivasi terbesar bagi saya untuk berani maju.
Walau demikian, kesiapan 100 persen memang belum. Saya rasa kekuatan finansial itu bukanlah jaminan untuk menang, kecuali dukungan. Yang jelas, rezeki itu akan selalu ada. 

Apakah Anda maju menjadi cagub atau cawagub?  
Saya belum berani menyampaikan ini sekarang. Tapi, perkiraannya menjadi orang nomor dua (BA 5). Kami sedang mencari kesepakatan sebagai orang nomor dua dengan siapa pun partnernya. Kepada masyarakat Pessel, saya berpesan agar memberikan dukungan kepada saya dengan siapa pun partnernya nanti. 

Apa visi Anda terhadap Sumbar?
Tentu, kita akan menggarap bersama potensi dan permasalahan di Sumbar ini. Intinya, hampir sama atau tidak jauh berbeda dengan Pessel, baik permasalahan ekonomi, hutan lindung, bencana alam. Termasuk, potensi seperti pertanian dan lainnya.
Perbedaannya tergantung pada fokus daerah masing-masing, sesuai potensi yang dimiliki. Yang pasti, rata-rata potensi Pessel ada pada kabupaten dan kota lainnya di Sumbar.
Tinggal lagi fokusnya apa. Seperti Bukittinggi, fokus garap sektor pariwisata. Demikian juga daerah lainnya, harus sesuai potensi yang dimilikinya.
Meski begitu, saya melihat pariwisata menjadi unggulan ke depan di Sumbar. Dalam hal ini, saya bisa menyumbangkan pikiran bagaimana mengembangkan pariwisata ini. Tentunya,  sesuai adat  istiadat, budaya dan agama di Sumbar. (*)

Rabu, 13 Mei 2015

MENYIGI “MANDAN” IRWAN PRAYITNO




Sebagai petahana dengan basis konstituen PKS Sumbar yang relatif solid, Irwan Prayitno memang “barang bagus”. Tak heran bila kemudian banyak nama yang “dijodoh-jodohkan” dengannya.

Nama yang paling pertama muncul adalah Taslim Chaniago, politisi muda PAN. Sebagai ketua DPP PAN, Ketua DPP Muhammadiyah dan Ketua IKA Universitas Andalas se-Jakarta, Taslim cukup berpotensi mendampingi Irwan Prayitno untuk meraup harapan pemilih. Sayangnya, belakangan nama Taslim meredup.

Bola muntah ini disambut apik oleh Gerindra. Kedekatan emosional Prabowo-Anis Matta dalam Koalisi Merah Putih (KMP) dalam pilpres lalu menjadi penentu utama koalisi partai ini. Apalagi dalam kostelasi politik senayan untuk menggolkan Pilkada via DPRD, syarat mutlak PKS adalah KMP tidak mengutak-atik Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jawa Barat. Dan fraksi gerindra adalah yang pertama kali sepakat. Artinya Koalisi PKS-Gerindra dalam pilkada Sumbar sudah hampir pasti akan berlanjut.

Lantas siapa yang akan dijadikan pasangan Irwan Prayitno? Sejumlah nama disodorkan, mulai dari Fadli Zon, Sukri Bey dan Syuir Syam sampai Ade Rezki Pratama. Fadli Zon tidak bersedia, karena masih hendak mengawal ideologi Gerindra di DPR.

Suir Syam lansung ditolak. Bagi PKS perolehan 38,393 suara yang membawa Suir Syam menjadi anggota DPR RI dari Dapil Sumbar 1 masih terlalu kecil. Apalagi, Kendati pernah menjabat Walikota Padang Panjang pada pileg lalu Syuir Syam cuma bisa meraup 829 suara dari total 34.866 pemilih yang terdaftar pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan Daftar Pemilih Khusus (DPK) di Padang Panjang. Dan alasan terakhir, adalah perihal kesiapan dana Syuir Syam.

Sukri Bey juga demikian. Pada Pileg lalu, dia cuma bisa meraup 31,231 suara dari Dapil Sumbar II. Jauh ketinggalan dari Ade Rezki Pratama yang kini berkantor di Senayan dengan akumulasi suara sejumlah 71,847 pemilih pada Pileg lalu. Satu-satunya keunggulan  Sukri Bei adalah kekuatan finansial. Dan satu-satunya kelemahan Ade Rezki Pratama ada usia muda dan dinilai belum berpengalaman.

Dalam kondisi inilah, Nasrul Abit bergerak cepat. Sadar kalau potensi menangnya masih merayap,  Nasrul Abit merapat kepada Gerindra. 1001 manuver lihai dikeluarkan. Februari 2015 lalu, Nasrul Abit secara resmi menjadi kader Gerindra. Puncaknya adalah ketika Fadli Zon resmi mendukung duet Irwan Prayitno-Nasrul Abit.

Kendati Gerindra sangat kental nuansa garis komando, arahan Fadli Zon bukannya tanpa pertentangan. Isu yang dimainkan adalah Nasrul Abit belum berkeringat dalam membesarkan Gerindra di Sumbar. Nasrul Abit adalah kader yang naik di jalan, kenapa tidak mendukung kader yang lebih senior? Ada pula tudingan terkait aksi kutu-loncat Nasrul Abit dari parpol ke parpol. Siapa aktor-aktor yang bermain dalam gerakan ini? Silakan analisis sendiri.

Yang jelas, Irwan Prayitno memang politisi sejati. Sadar kalau konstelasi Gerindra di Sumbar belum berpadu, Irwan Prayitno pakai jurus “fokus kerja, belum mau urus pilgub”. Hal ini disampaikan Irwan Prayitno dengan bahasa baru tahap “dijodoh-jodohkan” dengan Nasrul Abit, posisi pasangan itu belum fix, tetapi dia siap bekerja dengan siapa saja yang satu visi, dan sementara itu masih mau fokus untuk menyelesaikan amanahnya sebagai Gubernur Sumbar. 

Taktik ini menunjukan Irwan Prayitno tidak mau ikut campur dalam urusan internal Gerindra, sekaligus sinyal bahwa posisi Irwan Prayitno adalah nonblok dari kedua kubu tersebut. Keuntungan lainnya adalah publikasi media. Isu ini membuat nama Irwan Prayitno semakin mengapung, menjadi pembicara di masyarakat.

Lalu, siapakah kader Gerindra yang akan Irwan Prayitno pilih? Nasrul Abit berpeluang besar. Pertama, Nasrul Abit sudah dapat dukungan dari Fadli Zon, dan kita semua tahu kalau Fadli Zon adalah “putera mahkota”-nya Prabowo. Kedua, sama seperti Sukri Bey, Nasrul Abit siap secara pendanaan. Ketiga, sebagai Bupati Pesisir Selatan, Nasrul Abit masih memiliki mesin politik yang cukup kuat –baik dari kalangan birokrat Pesisir Selatan, maupun ormas. Konon Ikatan Keluarga Pesisir Selatan (IKPS) sudah hampir pasti akan mendukung Nasrul Abit, apapun posisinya, dalam pilkada sumbar mendatang.   

Well, itu urusan di atas kertas. Yang jelas, gerakan penolakan terhadap Nasrul Abit masih bergema. Paling tidak sampai SK Rekomendasi DPP Gerindra turun.   

*Buyuang Binguang adalah analis kelas kampung yang masih suka linglung