AWAK BADUNSANAK, NDAN!!!

IKPS Bulat Dukung MK-Fauzi

Masyarakat Pesisir Selatan Siap menyatukan dukungan untuk pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

Dorong UNP Lahirkan Pemimpin Mumpuni

Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), bersama alumni UNP, Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Syamsu Rahim Dukung MK-Fauzi

Bukan hanya mendukung, tetapi Syamsu Rahim juga menerima amanat sebagai Ketua Tim Sukses Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Shadiq Pasadigoe Dukung MK-Fauzi

SP : Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana membangun Sumbar lebih baik, membenahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat.

Silaturahmi dengan Tokoh dan Perantau Minang

Muslim Kasim dan Fauzi Bahar Bersama tokoh dan perantau minang : Is Anwar, Azwar Anas, Fasli Djalal, Fahmi Idris dan Mulyadi.

Tampilkan postingan dengan label kandidat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kandidat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2015

BINGBANG Untuk Muslim Kasim - Fauzi Bahar


Bagi beberapa kalangan, pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar barangkali tidak terprediksi. Pasalnya, jauh sebelum Pemilu Gubernur (pilgub) Sumbar, Muslim Kasim lebih dekat dengan Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim. Konon, jika UU Pilkada tidak direvisi, sudah ada skenario untuk menjadikan Muslim sebagai Gubernur, sementara Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim masing-masing menjadi Wakil Gubernur.
Kisah “perjodohan”  Muslim Kasim – Fauzi Bahar banyak dimotori oleh Basrizal Koto (Basko) dengan melempar wacana di Harian Haluan. Namun jauh-jauh hari, sebenarnya kalangan alumni muda Universitas Negeri Padang (UNP) sudah bermanuver untuk menjodohkan, alumni Pasca Sarjana UNP dan ketua Iluni UNP ini.
Kalau dalam sepakbola, kesebelasan  Muslim Kasim – Fauzi Bahar  adalah kesebelasan pemain bintang. Pemain bintang pertama adalah mesin politik parpol. Kecuali PKS dan Gerindra, semua parpol pemilik kursi DPRD Sumbar mendukung  Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Parpol-parpol pendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar adalah PAN, NASDEM, HANURA, PDIP, GOLKAR, PPP, DEMOKRAT, PKB. Bisa dibayangkan mesin politik parpol yang berada di belakang Muslim Kasim – Fauzi Bahar.
Kedua, Muslim Kasim – Fauzi Bahar  didukung oleh para tokoh  Minangkabau.  Kalangan pertama, adalah mantan kompetitor mereka, yaitu Mulyadi, Epyardi Asda, Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim. Betty Shadiq, istri Shadiq Pasadigoe, anggota DPR RI bersama para relawannya siap terjun untuk memenangkan  Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Syamsu Rahim bahkan menjadi ketua Tim Sukses Muslim Kasim – Fauzi Bahar.
Dukungan selanjutnya dari para sesepuh minang, sebut saja Azwar Anas, Is Anwar, Fasli Djalal dan Fahmi Idris. Kehadiran mereka seolah menjawab permohonan dari para anak kemenakan agar para sesepuh Minang ini mau turun gunung untuk mendorong perubahan di Sumatera Barat. Belum lagi dukungan Indra Jaya Piliang yang mengkonsolidasi pemuda-pemuda minang intelektual yang mahir bersosmed-ria baik di ranah maupun di rantau.
Dukungan tokoh-tokoh, yang mayoritas merupakan sosok-sosk pemuncak di kawasan darek,  sontak menghapus isu calon pasisia. Isu ini merupakan strategi B pasangan incumbent, setelah strategi  A yaitu banyak pasangan agar cerai-berainya suara pemilih yang kecewa terhadap Irwan Prayitno, gagal dilaksanakan.
Ketiga, dukungan yang sifatnya primordial. Dukungan ini tergolong menarik. Lazim saja kalau Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) mendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Tapi kalau Ikatan Keluarga Pesisir Selatan (IKPS) kemudian mendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar tentu luar biasa. Pasalnya, Nasrul Abit, cawagubnya Irwan Prayitno, boleh disebut sebagai representasi dari Pesisir Selatan.
Ini juga mengingatkan saya pada DPC Gerindra Pesisir Selatan yang sebelumnya menolak Nasrul Abit sebagai cawagub-nya Gerindra Sumbar. Penolakan ini bahkan sampai ke ranah hukum.  Ada apa? Mengapa urang sekampuang Nasrum Abit justru menolak Bupati pesisir Selatan tersebut? Jika di kampuang  sendiri Nasrul Abit tidak didukung, bagaimana dengan pemilih di luar kampungnya?
Keempat, dukungan gerbong UNP. Pelopornya adalah alumni-alumni muda, di luar struktural kampus, yang berkutat di organisasi mahasiswa. Umur yang tidak terpaut jauh dan ikatan organisatoris ormawa ini menjadi tali perekat gerakan mereka. Bagi mereka  Pilgub Sumbar kali ini merupakan wahana untuk menyatukan barisan.
Dahulu, pada Pilgub 2010, gerbong UNP terpecah karena Muslim Kasim dan Fauzi Bahar maju sendiri-sendiri. Tetapi kali ini, dengan berkongsinya Muslim Kasim dan Fauzi Bahar menjadi kesempatan emas bagi para alumni muda UNP ini untuk menata barisan. Apalagi, duet Muslim Kasim dan Fauzi Bahar juga tidak bisa dilepaskan dari dorongan para alumni muda ini, baik yang dititipkan melalui para mahasiswa yang bersimpati dengan gerbong UNP, alumni UNP di parpol, sampai dorongan informal ketika Muslim Kasim – Fauzi Bahar bertemu dalam kegiatan-kegiatan resmi kampus.
Konon moment pulang kampuang lalu, di Kota Padang telah terjadi pertemuan antara alumni muda UNP baik yang bergerak di rantau maupun di ranah untuk berpadu memenangkan Muslim Kasim-Fauzi Bahar. Posko-posko pemenangan aktivis berlatar belakang kampus ini akan segera didirikan di berbagai kabupaten/ kota di Sumatera Barat.

Pekerjaan besar Syamsu Rahim selaku ketua tim pemenangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar  adalah mengkonsolidasikan semua mesin politik tersebut. Dengan manajemen kampanye yang apik, mesin-mesin politik ini akan mendorong  sebuah “bingbang” – ledakan besar, bagi pemenangang Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Selamat bekerja!

Jumat, 05 Juni 2015

Taslim Chaniago : Tak Takut Bersaing, Kalah-Menang Lumrah

Banyak tokoh muncul dan digadang-gadang berpeluang mengincar BA 1. Di antaranya, Taslim Chaniago, mantan anggota DPR, ikut meramaikan bursa calon gubernur Sumbar lima tahun ke depan. Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres, Revdi Iwan Syahputra dengan Taslim Chaniago.
  
Menurut Anda,  seberapa  penting Pilgub Sumbar 2015 ini?
Tentu saja penting. Ini berkaitan dengan kesinambungan pembangunan dan suksesi kepemimpinan di Sumbar. Harus diingat, pergantian kepala daerah jangan sampai mengikis prinsip pembangunan berkesinambungan, apalagi sampai mencabik-cabik bangunan demokrasi di daerah ini.

Pembangunan berkesinambungan seperti apa?
Bukan rahasia lagi, ganti pemimpin ganti pola pembangunan, akibatnya banyak program pembangunan terbengkalai dan tidak tepat sasaran. 

Contohnya?
Ah, saya rasa tak etis memaparkan contohnya. Saya rasa, Anda juga tahu (Taslim tersenyum sambil mengambil lemon tea dan menghirupnya).

Banyak meragukan Anda, apalagi pada 2014 Anda gagal kembali ke Senayan (DPR RI)?
Oke, saya maju karena panggilan hati dan hak konstitusional saya. Memang, usia saya baru 44 tahun, saya rasa bukan halangan bikin perubahan menuju Sumbar hebat dan modern.
Saya ditempa oleh partai saya PAN, ketakwaan saya pada Islam, saya dapat lewat tempaan ormas terbesar di Sumbar, Muhammadiyah. Lalu, saya alumni Unand jadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni Unand Jabodetabek.
Saya tujuh tahun menjadi anggota DPRD Sumbar, loyalis dan sahabat saya tersebar di semua daerah di Sumbar. Ini modal bagi saya. Saya tidak pernah mengenal rasa takut bersaing. Kalah dan menang lumrah.

 Apa nilai lebih Anda dibandingkan kandidat lain?
Tak mungkinlah saya menilai diri sendiri. Tapi sebagai referensi, data pemilih di KPU Sumbar itu pemilih muda dan pemula lebih banyak ketimbang pemilih tua. Ini segmen bagi perjuangan saya dan loyalis saya untuk menggarapnya.
Dan ingat, anak muda Sumbar bukan tipikal skeptis dengan politik. Saya sering nongkrong di banyak warung kopi dan kafe, mereka respek tentang politik. Malah kadang-kadang anak muda Sumbar sudah seperti politisi ulung saja gayanya.
Sejarah mencatat anak muda Sumbar tempo dulu punya andil besar merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik ini. Tokoh seperti Hatta, Natsir, Syahrir, Hamka dan Tan Malaka menjadi panutan orang muda Sumbar dengan dimensi berbeda saat ini.
Saya terinspirasi dengan tokoh-tokoh muda Sumbar tempo dulu itu, dan siap merefleksikan kembali sesuatu yang menjadi ikon anak muda Sumbar dalam ruang dan cara berbeda.

Sumbar sekarang menurut Anda?
Sumbar butuh percepatan segala lini agar sejajar dengan provinsi lain di Indonesia, tapi faktanya Sumbar kini justru mundur. Sumbar kini cuma posisi kesembilan di Sumatera dalam laju investasi.
Sumbar hanya unggul dari Bengkulu. Ini tamparan bagi kita. Nah, dengan fakta itu, Sumbar butuh kepemimpinan muda yang inovatif dan punya jaringan nasional dan global.
Saya tahu persis potensi sumber daya alam Sumbar. Seperti emas di Solok Selatan itu, kualitasnya menurut banyak penelitian lebih bagus dibandingkan emas Freeport, tapi hanya untungkan pemilik modal. Belum menyejahterakan rakyat Solok Selatan maupun Sumbar.
Lalu kekayaan energi terbarukan Sumbar sangat luar biasa. Seorang pemimpin jangan bersembunyi terus dengan miskin atau SDA, ini butuh lobi, kapan perlu perlawanan agar potensi itu bisa diurus oleh Sumbar.
Atau mengkonkretkan kompensasi atas jasa Sumbar menjaga hutan lindung sebagai paru-paru dunia, share dana kompensasi itu harus jelas dan masyarakat Sumbar harus tahu berapa dan untuk apa dana kompensasi tersebut.
Lalu, Sumbar harus dibangun dengan sinergisitas kekuatan rantau dan kampong. Ini kapital besar kalau digarap serius.

Bagaimana ‘gizi’ Anda hadapi pilgub?
Hehhe, tak etislah saya bilang di sini, nantilah kalau sudah ada tahapannya, pasti saya sampaikan. Tapi, pastilah ada ongkos politik. Maju sebagai cagub saya jamin tidak sebesar yang dibayangkan.
Modal utama saya Bismillahirahamanirrahim, lalu dukungan riil sahabat-sahabat, tokoh-tokoh dan ormas saya Muhammadiyah. Itu dukungan tak ternilai dengan rupiah. (*)

Rabu, 03 Juni 2015

Irwan Prayitno : Saya Menunggu Amanah dari Partai


Sejumah partai politik (parpol) telah membuka pendaftaran calon gubernur Sumbar, namun Gubernur Irwan Prayitno masih tenang-tenang saja. Beberapa nama yang selama ini digadang-gadang masuk bursa pemilihan gubernur (pilgub), telah mendaftarkan diri ke seluruh parpol yang membuka pendaftaran.
Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres Rommi Delfiano dengan Gubernur Irwan Prayitno di rumah dinasnya, Kamis (12/2) lalu.

Anda tak menggubris pendaftaran calon gubernur oleh sejumlah parpol, apakah Anda tidak maju lagi?
Hehehe…, tidak begitu juga. Bagaimana saya bisa menyatakan maju atau tidak, aturan yang digunakan sebagai bahan rujukan dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) masih dalam proses.
Bila sudah selesai dibahas oleh DPR bersama pemerintah sekitar 17 Februari nanti, barulah bisa kita jadikan rujukan guna melakukan persiapan. Termasuk, keputusan maju atau tidak dalam pilgub mendatang.    

Menurut Anda, apa saja poin penting dalam revisi UU Pilkada tersebut?
Sebetulnya banyak hal, namun terpenting ada tiga poin. Pertama, kendaraan parpol pengusung. Sekarang ini masih ada dua opsi yang masih berkembang, apakah 20 persen kursi di DPRD Sumbar atau 15 persen.
Ini jelas berpengaruh terhadap koalisi parpol pengusung calon nantinya. Kalau misalnya 15 persen, hanya Partai Golkar yang bisa mengusung calon sendiri tanpa berkoalisi. Sedangkan parpol lainnya harus berkoalisi.
Kedua, satu paket dengan calon wakil gubernur sekaligus atau cukup calon gubernur saja. Termasuk, opsi dua wakil gubernur bagi provinsi yang berpenduduk 3-10 juta jiwa.
Terakhir, soal jadwal pelaksanaan pilkada, tahun ini atau tahun depan. Kalau tahun depan, tentu kita masih memiliki waktu yang lebih panjang, ketimbang bila diputuskan pilkada dilaksanakan tahun ini. Akibat persoalan inilah, sampai sekarang ini kita belum bisa mengambil keputusan maju atau tidak.

Di samping aturan, tentu masih ada persoalan lainnya?
Ya. Saya ini kan kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera), jadi yang memutuskan saya maju atau tidak, tetap saja parpol. Artinya, saya tak bisa memutuskan maju atau tidak secara pribadi.
Di PKS, kader maju atau tidak, partailah yang berhak memutuskannya sesuai mekanisme di internal. Mulai dari pemilu internal, termasuk proses musyawarah dan mufakat. 
Nah setelah diputuskan, barulah partai yang mencari partai tambahan (pasangan koalisi, red). Di PKS, tak ada yang namanya kader mendaftar atau mencari-cari amanah.
Inilah pola di PKS, parpol lebih aktif ketimbang calon. Dalam Pilgub 2010 lalu, pola ini berjalan dengan baik. Waktu itu, saya datang ke Padang malam menjelang penutupan pendaftaran calon ke KPU Sumbar.
Kalau sekarang, jelas masih banyak waktu. (Dalam wawancara Padang Ekspres seusai mendaftarkan diri ke KPU Sumbar dalam Pilgub 2010 lalu, sebetulnya Irwan memang tak berniat maju dalam Pilgub 2010 lalu. Biarpun namanya paling diunggulkan dalam pemilu internal, namun Irwan menolaknya. Terlebih lagi, Irwan sudah mempersiapkan diri menjadi duta besar (dubes) di salah satu negara di Eropa. Namun di detik-detik akhir menjelang ditutupnya pendaftaran pasangan calon, hati Irwan luluh setelah dewan syuro DPP PKS memutuskan dirinya maju dalam pilgub).

Pertimbangan lainnya?
Tentu, pertimbangan paling penting lainnya soal kepuasan masyarakat Sumbar. Bila masyarakat puas dengan kinerja Pemprov Sumbar selama lima tahun terakhir dan menghendaki saya maju lagi, insya Allah saya akan maju lagi.
Sejauh ini, berdasarkan catatan sejumlah survei, tingkat kepuasan masyarakat di atas 70 persen (Irwan enggan menyebutkan secara pasti lembaga surveinya). Jelas ini bakal menjadi bahan pertimbangan saya sebelum memutuskan maju atau tidak dalam pilgub mendatang.

Bagaimana Anda melihat gerak cepat pesaing Anda? 
Bagi saya, semakin banyak orang yang maju dalam pilgub mendatang jelas semakin bagus. Ini pertanda demokrasi di Sumbar sudah berjalan dengan baik. Saya tak takut terhadap apa yang berkembang beberapa hari belakangan ini (beberapa tokoh politik mendaftarkan diri ke sejumlah parpol). Alhamdulillah, bila nantinya tak terpilih menjadi gubernur, masih banyak pekerjaan yang menunggu saya. Jadi, kenapa harus cemas.
Intinya, secara pribadi saya tak ingin mencalonkan diri jadi gubernur. Namun kalau diberi amanah oleh parpol, mau tak mau saya harus siap. Jadi, sekarang saya menunggu amanah dari parpol. (Irwan sendiri sebelum terpilih menjadi gubernur Sumbar, tercatat sebagai Guru Besar Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia, penulis buku bertemakan psikologi, pendidikan, dan agama, serta lainnya).

Kalau Anda maju, kabarnya Anda tidak lagi berpasangan dengan Muslim Kasim (Wakil Gubernur Sumbar), apa betul?
Jelas tidak mungkin. Beliau (Muslim Kasim, red) sudah mendaftarkan diri jadi calon gubernur. Dulunya (tahun 2010), beliau juga memang mencalonkan diri jadi calon gubernur. Mungkin beliau cocoknya menjadi gubernur.
Namun kalau beliau mencalonkan jadi wakil gubernur, tentu masih ada peluang. Tentu tak mungkin pula saya menjadi wakil gubernur nantinya. Jadi, tak mungkin pula saya meminta beliau mencalonkan diri jadi wakil gubernur. Itu kan hak asasi beliau. (Muslim Kasim sudah mendaftar menjadi cagub di Partai NasDem, PAN dan Hanura).
  
Sekarang ini berkembang isu di masyarakat, gubernur mendatang asal bukan Irwan, tanggapan Anda?
Bagi saya, semua itu wajar-wajar saja. Sudah biasa seorang incumbent jadi musuh bersama, dan itu sudah biasa pula terjadi dalam politik. Kalaupun itu betul, saya pikir itu hanyalah sentimen pribadi saja dan bukan pandangan partai. Soalnya, sejumlah partai sudah menginginkan saya maju menggunakan partainya. 

Bagaimana Anda melihat kinerja yang sudah dicapai lima tahun terakhir? 
Saya pikir masyarakat Sumbar lah yang berhak memberi penilaian. Namun, lima tahun terakhir saya sudah bekerja sebaik-baiknya. Pascagempa 30 September 2009, Sumbar pelahan bangkit. Ditandai bantuan rehab rekon gempa Rp 4,865 triliun melalui dana APBN 2010-2014.
Selain itu, pembangunan infrastruktur multiyears senilai Rp 1,025 triliun dalam APBD Sumbar. Lalu, menyelesaikan Hotel Balairung dan Jalan Sicincin-Malalak, pembangunan Kelok 9, meneruskan pembangunan Masjid Raya, pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur pembangunan Flyover di Bukittinggi dan lainnya.  
       
Ke depan, apa pembangunan strategis yang perlu dilanjutkan? 
Sebetulnya masih banyak. Mulai dari penyelesaian pembangunan Masjid Raya Sumbar, pembangunan terowongan Malalak-Balingka Kotogadang, Jembatan Ngarai Sianok, Jembatan Kabel Sungaidareh, Jalan Layang Silaing Padangpanjang, Stadion Utama Sumbar, Islamic Center dan Asrama Haji Sumbar, Pusat Kebudayaan Sumbar dan lainnya. (*)

Selasa, 02 Juni 2015

Epyardi Asda : Program tak Jelas, Kada Banyak Pencitraan

Setelah terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Sumbar 1 untuk periode ketiga kalinya, Epyardi Asda kini membidik Sumbar 1. Lantas apa yang melatar-belakangi politisi PPP ini maju dalam pemilihan gubernur (Pilgub) Sumbar akhir tahun ini?
Berikut hasil wawancara wartawan Padang Ekspres Zulkarnaini, Rommi Delfiano, dan Revdi Iwan Syahputra dengan Epyardi Asda yang secara khusus datang ke gedung Graha Pena Padang usai mendarat di BIM, kemarin (24/2). 
Apa yang sudah Anda lakukan selama menjadi anggota DPR RI?
Sebenarnya saya bukanlah orang baru di dunia politik. Saya sudah mulai berpolitik sejak tahun 2004. Keikutsertaan saya di politik, karena ingin mencoba sesuatu hal yang lain daripada mengelola perusahaan sendiri yang telah sukses yang saya tekuni sejak 1997 lalu.
Kalau ditanya seperti perjalanan saya di bidang politik ini, saya juga tidak pernah menduga sebelumnya. Saat maju pertama kali ke jalur legislatif, saya menduduki nomor urut pertama saat maju ke DPR RI lewat PPP.
Alhamdulillah terpilih. Di sinilah saya mulai mempelajari seperti apa kemauan masyarakat Sumbar. 
Ini juga yang sudah memberi saya kepercayaan untuk duduk di DPR RI hingga kini. Tapi setelah saya lihat, sejak mulai tahun 80-an meninggalkan kampung halaman, tak banyak perubahan Sumbar.
Berangkat dari situlah, saya pun berjuang  di Senayan (DPR RI, red) untuk membangun Sumbar. Ternyata perjuangan itu tak sisi, sebut saja seperti kelanjutan pembangunan Kelok Sembilan. Kalau bukan karena saya yang ngotot memperjuangkannya ke Kementerian PU, mungkin itu tidak akan dilanjutkan. 
Karena sejak 2012, pembangunannya sudah mulai terbengkalai. Bahkan, saya sempat ngotot agar pembangunan bisa tuntas pada 2013, dan itu akhirnya terwujud.
Sejak saat itulah saya dapatkan jawabannya, kenapa hanya sedikit kue pembangunan yang bisa diberikan kepada Sumbar. Karena, kepala daerahnya tidak memiliki program dan perencanaan yang jelas untuk pembangunan daerahnya.
Makanya, banyak kue pembangunan yang lari ke daerah lain. Karena itu, saya berniat untuk berbakti kepada tanah kelahiran saya.
Menurut Anda, apakah Sumbar sudah mengalami kemajuan?
Pertanyaan ini sudah saya temukan jawabannya saat duduk di Komisi V DPR RI. Tepatnya, dari data Kementerian PDT yang juga menjadi mitra kerja saya.
Ternyata, tingkat pembangunan Sumbar itu nomor sembilan dari 10 provinsi di Sumatera. Sedangkan tingkat kegembiraan, ternyata Sumbar nomor tiga paling buncit dari seluruh provinsi di tanah air.
Ini karena apa, karena pejabat yang menjabat saat ini trennya hanya pencitraaan. Sangat disayangkan dengan dana sebesar Rp 17 triliun yang tersedia di Ditjen Bina Marga, kenapa Sumbar hanya dapat Rp 56 miliar saja. 
Itu jauh berbanding terbalik dibandingkan daerah lainnya, seperti Jateng misalnya yang mendapatkan suntikan dana Rp 700-800 miliar.
Jadi saya dipercaya, saya target 2 tahun ini, Sumbar harus lebih maju. Karena teman-teman saya di DPR RI dan Kementerian PU, juga sudah menyatakan dukungan terkait pencalonan saya ini.
Banyak masyarakat bilang sikap Anda arogan, bagaiamana pendapat Anda?
Sebenarnya saya memang sudah didik di kapal yang memiliki kehidupan yang keras dan dituntut harus bisa bekerja sempurna. Di sanalah saya memahami jika ketegasan paling dibutuhkan dalam hidup.
Satu yang paling saya tanamkan dalam hati sampai kini adalah, saya belum merasa bahagia sebelum bisa membahagiakan masyarakat. Karena apa, saya sudah merasakan bagaimana pahitnya kehidupan saya sebelum saya merasakan keberhasilan ini.
Bahkan, saya juga tak segan-segan menjadi penjual jamu. Karena itu, sebenarnya saya sudah terbiasa dengan hidup susah dan miskin sejak dulunya. Prinsip saya, kalau iya itu ya, bukan sebaliknya. 
Banyak orang memprediksi kalau kubu Suryadharma Ali (SDA) kalah, maka Anda akan dihabis. Apa betul begitu?
Saya kira itu tidak akan terbukti. Karena, sampai saat ini saya masih mendapatkan dukungan penuh dari partai untuk maju sebagai calon gubernur.
Saya ini politikus, bayangkan saja sayalah satu-satunya politisi PPP yang maju sebagai cagub di tanah air. Karena saya orangnya fair, siapa yang menang itulah yang terbaik.
Karena yang harus dipikirkan itu bukan kepentingan pribadi lagi, tapi partai yang menjadi lembaga dan kebersamaan kita. Jadi kalau soal internal saat ini sudah tidak ada masalah lagi. 
Ke mana saja komunikasi politik yang sudah Anda jajaki?
Kalau soal itu, mungkin sudah banyak. Seperti, PAN, NasDem, PDI Perjuangan Hanura dan sebagainya. Mereka itu sangat mendukung saya.
Dan, saya pun sudah ketemu Rommy (Romahurmuziy, red), Eep (Eep Saefulloh Fatah, red), mereka juga sudah menyatakan kesiapannya untuk mendukung dan membantu saya. Jadi, saya kira sudah tidak ada masalah lagi.
Kerja sama seperti apa yang akan Anda lakukan dengan Eep selaku konsultan politik nantinya?
Eep sudah menyatakan kesiapannya untuk membantu penuh pencalonan saya dalam segi apa pun. Termasuk melakukan survei nantinya. Itu mereka lakukan ikhlas demi menolong saya. 
Banyak yang berpikiran jika materi juga faktor yang paling menentukan seseorang untuk bisa meruap suara sebanyak-banyaknya. Bagaimana penilaian Anda?
Itu (uang, red) bukan jaminan. Karena banyak masyarakat yang menerima uang, tapi tidak mau suaranya dibeli. Karena apa, masyarakat kita saat ini sudah cerdas dan tidak mau dibodoh-bodohi lagi dengan uang.
Kita lihat seperti pak Prabowo dalam penjaringan suara di Sumbar. Bagaimana beliau bisa mengumpulkan suara signifikan di Sumbar, tanpa mengeluarkan uang. Itu setidaknya sudah cukup sebagai bukti bagi kita.
Jadi saya tegaskan, jangan pernah anggap remeh harga diri Sumbar dengan uang, karena uang bukanlah segala-galanya.
Apa pendapat Anda soal rival yang akan Anda hadapi di pilkada nantinya? 
Saya tekan, saya tidak mau menganggap remeh lawan. Bagi saya semua lawan berat karena ini juga didukung dengan ketokohan mereka, termasuk incumbent. Jadi, saya akan buktikan jika itu bukan gombal. (*)

Senin, 01 Juni 2015

Nasrul Abit : Bidik BA 5, Andalkan Dukungan Keluarga


Berhasil mengeluarkan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dari ketertinggalan menjelang berakhirnya masa jabatan periode kedua sebagai bupati Pessel, menjadi modal bagi Nasrul Abit menatap Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar 2015 mendatang.
Lantas apa yang mendasari suami Wartawati ini maju dalam pilgub mendatang? Berikut hasil wawancara wartawan Padang Ekspres Yoni Syafrizal dengan Nasrul Abit.


Sebetulnya apa yang mendorong Anda maju dalam pilgub mendatang?
Motivasi saya maju ke provinsi berawal dari besarnya dukungan yang masuk. Dukungan itu bukan saja dari warga Pessel, tapi juga dari beberapa daerah lain, termasuk perantau yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pesisir Selatan.
Dukungan lebih besar itu, juga datang dari keluarga dan kerabat. Sebab tanpa dukungan dari mereka semua, sulit bagi saya menjalaninya. Selain itu, saya juga sudah berpengalaman selama 15 tahun memimpin Pessel, lima tahun jadi wakil bupati dan 10 tahun jadi bupati. 

Apa yang Anda perbuat selama ini?
Perlu diingat bahwa dulu Pessel tercatat sebagai kabupaten tertinggal, kini sudah keluar dari kabupaten tertinggal. Dulu produksi pangan masih rendah, sekarang surplus. Bahkan, tahun lalu surplusnya di atas delapan persen. Artinya, secara ekonomi ada peningkatan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga naik 73,20 persen, Indeks Pembangunan Kesehatan (IPK) naik, derajat kesehatan naik, angka harapan hidup naik. Ini semua sektor mendasar. Intinya, pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi terjadi perbaikan.
Secara ekonomi pertumbuhan Pessel tahun 2014  adalah 6,2 persen. Hasil yang telah dicapai ini  semacam dorongan atau potensi untuk bisa maju ke tingkat Sumbar. 

Apa langkah Anda mendapat dukungan partai politik?
Terkait hal ini, saya memang belum bisa berbicara. Namun, beberapa partai sudah saya hubungi dan melakukan komunikasi. Walau kenyataannya, sampai saat ini saya belum mendaftar.
Saya juga sudah berkomunikasi dengan beberapa partai yang belum membuka pendaftaran. Biarpun begitu, saya belum bisa menyebutnya. Insya Allah partainya ada. 

Bagaimana kesiapan finansial Anda? 
Untuk pertanyaan satu ini, saya tidak bisa menjelaskan. Tidak etis disebutkan. Tapi, saya sudah melakukan rapat-rapat dengan keluarga dan kolega saya, termasuk juga kerabat. Alhamdulillah mereka akan membantu.
Sebab, tidaklah mungkin saya menggunakan uang daerah untuk kepentingan ini. Makanya, dukungan keluarga dan kerabat sangat penting, serta menjadi motivasi terbesar bagi saya untuk berani maju.
Walau demikian, kesiapan 100 persen memang belum. Saya rasa kekuatan finansial itu bukanlah jaminan untuk menang, kecuali dukungan. Yang jelas, rezeki itu akan selalu ada. 

Apakah Anda maju menjadi cagub atau cawagub?  
Saya belum berani menyampaikan ini sekarang. Tapi, perkiraannya menjadi orang nomor dua (BA 5). Kami sedang mencari kesepakatan sebagai orang nomor dua dengan siapa pun partnernya. Kepada masyarakat Pessel, saya berpesan agar memberikan dukungan kepada saya dengan siapa pun partnernya nanti. 

Apa visi Anda terhadap Sumbar?
Tentu, kita akan menggarap bersama potensi dan permasalahan di Sumbar ini. Intinya, hampir sama atau tidak jauh berbeda dengan Pessel, baik permasalahan ekonomi, hutan lindung, bencana alam. Termasuk, potensi seperti pertanian dan lainnya.
Perbedaannya tergantung pada fokus daerah masing-masing, sesuai potensi yang dimiliki. Yang pasti, rata-rata potensi Pessel ada pada kabupaten dan kota lainnya di Sumbar.
Tinggal lagi fokusnya apa. Seperti Bukittinggi, fokus garap sektor pariwisata. Demikian juga daerah lainnya, harus sesuai potensi yang dimilikinya.
Meski begitu, saya melihat pariwisata menjadi unggulan ke depan di Sumbar. Dalam hal ini, saya bisa menyumbangkan pikiran bagaimana mengembangkan pariwisata ini. Tentunya,  sesuai adat  istiadat, budaya dan agama di Sumbar. (*)

Minggu, 31 Mei 2015

Hendra Irwan Rahim "Pimpin Partai Pemenang, Pede Punya Nilai Jual"


Belum setahun memangku jabatan ketua DPRD Sumbar, kini nama Hendra Irwan Rahim masuk bursa calon gubernur periode lima tahun mendatang. Ketua DPD I Partai Golkar Sumbar ini disebut-sebut sudah menggalang “koalisi” dengan sejumlah partai politik guna memuluskan langkahnya bertarung di Pilgub 2015.
Bukan itu saja, Hendra disebut-sebut juga sudah menyiapkan pasangannya. Benarkah? Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres Rommi Delfiano dengan Hendra Irwan Rahim di Padang, kemarin (20/2).

Anda kan baru menjabat ketua DPRD Sumbar, kenapa mencalonkan juga dalam Pilgub 2015?
Maaf dinda, ini bukan soal mencalonkan atau tidak. Boleh jadi sepintas orang menilai saya terkesan rakus jabatan. Namun, tidak begitu sebetulnya. Semua pasti menyadari bahwa setiap pendirian partai politik, pastilah tujuannya untuk merebut kekuasaan.
Tentunya, kekuasaan itu diperuntukkan bukan serampangan. Namun, sepenuhnya untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Nah, kekuasaan itu bukanlah berada di lembaga legislatif (DPRD, red), tapi di tangan eksekutif selaku eksekutor.
Jadi, bagaimana kita bisa leluasa menyejahterakan rakyat, sedangkan kita tak memiliki kewenangan mengeksekusi kegiatan atau program. Beranjak dari pertimbangan inilah, saya plus dukungan kawan-kawan dan DPP, saya memutuskan maju dalam pilgub mendatang.

Anda percaya diri (pede) figur Anda ‘menjual’?
Bisa jadi dibilang begitu. Alasannya, tentu tidak muluk-muluk. Saya kan ketua parpol pemenang Pemilu 2014, dan terpilih menjadi ketua DPRD Sumbar.
Ini tentu kredit poin bagi saya untuk maju menjadi cagub atau cawagub. Prosesnya kini sedang berjalan di internal parpol. Bila sudah clear semua, barulah saya sampaikan ke rekan-rekan media.
Tahapan pilgub pun kan belum berjalan, revisi UU Pilkada saja baru disahkan DPR bersama pemerintah. Sama-sama kita lihatlah bagaimana nantinya.
  
Parpol koalisi dan pasangan cagub/cawagubnya, bagaimana?
Saya sulit juga memberi gambarannya. Tetapi, sebetulnya saya sudah mulai berkomunikasi dengan parpol lain. Tak terkecuali, soal pasangan calonnya. Tapi apakah menjadi Sumbar 1 atau tidak, saya tak terlalu mematok target. Ya, bisa cagub atau cawagub.
Parpol-parpol yang akan kita ajak berkoalisi pun sudah mulai mengerucut. Parpol apa saja itu, tunggu tanggal mainnya hehehe…Begitu juga siapa pasangan saya, bukan sekarang saya ungkap.

Dari sekian banyak calon, siapa paling Anda anggap paling berat?
Jelas kedua calon incumbent. Bagaimanapun, keduanya memiliki kekuasaan dan fasilitas. Kendati keduanya harus mengundurkan diri empat bulan jelang pemilihan, tetap saja posisi calon petahana diuntungkan.
Soalnya, waktunya sangat singkat. Namun bagaimanapun, bagi saya tetap saja ada peluang membalikkan keadaan. Ibarat bermain bola, belum tentu tim-tim kuat yang selalu menang. Fakta pilkada di Sumbar, tak semua calon incumbent memenangkan pilkada
Anda tentu sudah menyiapkan ongkos politik, berapa nominalnya?   
Soal nominal, nggak enak disebutkan. Insya Allah, teman-teman banyak yang siap membantu. Bagaimanapun, saya maju dalam pilgub nanti bukan atas nama pribadi. Tapi, atas nama dukungan partai dan orang-orang yang menginginkan saya maju. Mau tak mau, mereka tentu tak membiarkan saya berjuang sendiri.  

Apa yang Anda tawarkan bagi kemajuan Sumbar?
Soal ini, nantilah kita bicarakan. Kalau sekarang diekspose, bisa jadi “jualan” juga bagi calon atau pihak lainnya. Insya Allah, kita sama-sama berkomitmen memberikan yang terbaik bagi Sumbar. Tentunya, demi kesejahteraan masyarakat. (*)

Sabtu, 30 Mei 2015

Shadiq Pasadigoe "Siap Ulangi Sejarah Kalahkan Incumbent"


Dinilai sukses memimpin Tanahdatar selama dua periode, Bupati Tanahdatar Shadiq Pasadigoe digadang-gadang berpeluang mengalahkan incumbent pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar mendatang.
Bahkan, salah satu lembaga survei sempat menempatkannya sebagai salah satu calon yang memiliki elektabilitas tertinggi. Berikut bincang-bincang wartawan Padang Ekspres Hijrah Adi Sukrial dengan Shadiq Pasadigoe, kemarin (17/2).

Anda disebut-sebut penantang terkuat incumbent dalam Pilgub Sumbar mendatang, apa betul begitu? 
Saya menyambutnya dengan ucapan Alhamdulillah, dan kita tentu berterima kasih kepada masyarakat yang menyebut-nyebut tadi.
Yang jelas, tentu mereka mempunyai harapan kepada saya untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi sesuai amanah yang saya terima dari Allah SWT dan kepercayaan masyarakat. 

Sebetulnya, apa modal Anda maju sebagai Cagub Sumbar?
Saya dilahirkan, dibesarkan dan dididik di dalam keluarga yang taat beragama. Orangtua saya seorang pejuang perintis kemerdekaan (eks-buangan Boven Digoel), kemudian saya telah menyelesaikan pendidikan S-1 dua bidang (bidang hukum dan peternakan), serta satu S-2 (bidang sumber daya manusia), dan saya juga seorang pegawai negeri sipil yang pernah bertugas hampir 20 tahun di Provinsi Sumbar yang akan pensiun tahun 2020. 
Kemudian, sebelum menjadi bupati di Tanahdatar, saya sudah banyak terlibat di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, olahraga dan pemuda di tingkat provinsi.
Setelah itu, saya dipercaya menjadi bupati Tanahdatar dua periode: 2005-2010 dan 2010-2015. Lalu, pengalaman sebagai Sekjen Asosiasi Bupati Seluruh Indonesia, dan yang sangat penting adalah pengalaman dalam memimpin kabupaten yang topografinya sulit.
Sekitar 70 persen penduduk Tanahdatar hidup bertani. Pertanian masih dikelola dengan cara sederhana dan sulit dikembangkan menjadi pertanian modern. Alhamdulillah, dari 12 kabupaten di Sumbar, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tata kelola pemerintahan Tanahdatar paling terbaik.
Termasuk opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK tahun 2013 yang murni dalam bidang pengelolaan keuangan. Tentu, itulah hal-hal yang menjadi modal bagi saya ikut berkompetisi dalam pemilihan gubernur Sumbar periode 2015-2020.
Insya Allah, niat lurus untuk tidak melakukan hal-hal yang tercela sebagai seorang pemimpin.

Selama ini Anda dikenal sebagai salah seorang kader Golkar, tapi kenapa Anda mendaftar ke partai lain?
Saya mendaftar ke partai selain Golkar, adalah proses yang harus dilalui oleh seorang bakal calon menjadi calon gubernur Sumbar tahun 2015-2020. Sebab, bagaimanapun dukungan dari semua pihak untuk memajukan Sumbar terhadap gubernur yang terpilih adalah suatu hal yang sangat diperlukan.

Jika Anda akhirnya ditetapkan sebagai cagub Sumbar, siapa kira-kira cawagub Anda?
Saya akan memilih orang yang akan mampu bekerja keras dan paham kondisi Sumbar, dan apa yang dimaui oleh masyarakat di ranah maupun di rantau. Soal nama, kurang etis rasanya kalau saya ungkapkan. Sebab, siapa yang akan menjadi wakil tersebut tidak terlepas dari hasil musyawarah dengan partai pengusung.

Menurut Anda, siapa rival Anda dalam pilgub nanti?
Di dalam berjuang  dan berkompetisi, kita tidak boleh menganggap ada lawan yang berat. Tapi, kita tidak boleh takabur dalam perjuangan, dan berserah diri kepada Allah SWT. Jika kita yang terbaik, mudah-mudahan perjuangan itu dikabulkan Allah SWT dan berhasil.

Anda sudah menyiapkan modal dalam pilgub nanti? 
Sebenarnya ini kegamangan saya. Tapi, saya sudah pernah menjalani hal seperti ini saat saya akan maju menjadi calon bupati Tanahdatar tahun 2005 lalu.
Saat itu, saya mengalahkan incumbent dan saya haqqul yaqin kalau saya dikehendaki memimpin Sumbar tahun 2015-2020, pertolongan Allah SWT itu akan datang dengan sendirinya.
Dulu di Tanahdatar tahun 2005, ada masyarakat yang mengumpulkan beras segenggam dari rumah ke rumah lalu beras itu dijualnya. Hasil penjualan beras tersebut dibelikan ke kain dan cat untuk membuat spanduk untuk memilih saya dengan pasangan bapak Aulizul Syuib.

Apakah Anda sudah berkomunikasi dengan parpol di pusat?
Mana yang dapat saya lakukan, sudah saya lakukan. Kemudian soal kemungkinan saya akan diusung oleh partai tertentu, tentu mereka sekarang sedang menimang-nimang juga siapa yang akan diusungnya.
Kita berharap dan berdoa mudah-mudahan pertimbangan utama partai politik mengusung calon adalah semata kepentingan Sumbar ke depan yang lebih baik.

Selama memimpin Tanahdatar dua periode, apa saja prestasi Anda? 
Sebetulnya kurang etis kalau saya yang menceritakan prestasi saya, biarlah orang lain atau masyarakat yang menilainya. Tapi kalau ditanyakan apa yang bisa saya banggakan, saya akan jawab.
Pertama, empat tahun berturut-turut Tanahdatar kabupaten paling banyak lulusan SLTA masuk perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia. Dari yang lulus tersebut, 35 persen dari keluarga miskin.
Tidak ada seorang pun lulusan tersebut yang  tidak kuliah karena ketiadaan uang. Mereka dibantu APBD, BAZ, Bank Nagari dan perantau. Kedua, boleh dikatakan 99 persen permasalahan yang menyangkut kesehatan masyarakat dapat tertangani dengan baik, khususnya bagi keluarga miskin.
Ketiga, infrastruktur jalan dari 395 jorong yang tidak bisa ditempuh dengan mobil, kini lebih kurang 95 persen sudah diaspal, begitu juga irigasi. Keempat, pelebaran jalan Batusangkar-Ombilin, pembangunan irigasi Batang Sinamar, pembangunan Istana Basa Pagaruyung dan penanganan gempa tahun 2007. 

Apa saja menurut Anda keunggulan Sumbar yang selama ini belum dikelola dengan maksimal?
Adalah bidang pendidikan, kebudayaan dan pariwisata, perekonomian, sumber daya alam, serta kelautan. Potensi itu dapat dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumbar. (*)

Kamis, 28 Mei 2015

Syamsu Rahim "Fleksibel, Cagub Yes, Cawagub Oke"


Dari sekian banyak tokoh yang disebut-sebut berpeluang maju dalam pemilihan gubernur Sumbar mendatang, nama Syamsu Rahim jelas tak bisa dipandang sebelah mata.
Memiliki pengalaman lengkap di birokrasi pemerintahan mulai kepala desa, camat, pejabat eselon, ketua DPRD, wali kota, dan bupati, memberi garansi bagi Syamsu Rahim menatap pilgub mendatang.
Bagaimana kesiapan Bupati Solok Syamsu Rahim, berikut wawancaranya dengan wartawan Padang Ekspres Rommi Delfiano dan Refdi Iwan Syahputra di Padang, Rabu (18/2).

Sebetulnya apa yang memotivasi Anda maju dalam pilgub mendatang?
Salah satunya, tentu pengalaman saya selama ini. Dari sekian banyak calon gubernur/wakil gubernur yang bermunculan, saya jelas paling lengkap pengalamannya. Saya perna menjadi dosen, kepala desa, camat, ketua DPRD Sawahlunto, Wali Kota Solok, dan Bupati Solok.
Di samping itu, sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang revisinya baru saja disahkan DPR RI, masa jabatan kepala daerah maksimal hanya dua periode.
Saya kan sudah dua periode menjadi kepala daerah, jadi wali kota Solok dan Bupati Solok. Kalau tetap ingin menjadi kepala daerah, mau tak mau harus maju ke atas. Ya, lewat pemilihan gubernur (pilgub) Sumbar.

Seberapa yakin Anda bisa bertarung dalam pilgub mendatang?
Pertanyaan ini jelas tak mudah dijawab. Namun, saya perlu kemukakan bahwa saya termasuk salah seorang kandidat calon gubernur/wakil gubernur yang berpotensi. Semua ini bukan saya buat-buat, namun berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga.
Baik Mika Consultant and Research Center (MCRC) 2014, survei internal PKS dan lembaga survei lainnya, selalu menempatkan elektabilitas saya pada posisi empat atau lima besar. Terlebih lagi dari survei itu, sebaran pemilih saya tak hanya di Kota Solok, Kabupaten Solok, atau Kota Sawahlunto.
Namun, juga tersebar di Pariaman, Padangpariaman, Pasaman, Bukittinggi, Payakumbuh dan lainnya. Artinya, saya berpotensi menjadi cagub/cawagub.

Sebetulnya, Anda ingin jadi cagub atau cawagub?
Saya tak mematok diri menjadi cagub atau cawagub. Fleksibel saja. Bisa menjadi orang nomor satu dan bisa pula menjadi orang nomor dua. Itulah sebabnya, di Nasdem saya mendaftar jadi Cagub, PAN jadi Cawagub, dan Hanura jadi Cagub. Saya tentu harus mengukur diri jugalah.
Terlebih hasil-hasil survei seperti yang sudah saya uraikan di atas, elektabilitas saya berada di posisi empat atau lima besar. Di mana, kedua calon petahana (incumbent), elektabilitasnya berada jauh di atas saya. Itulah sebabnya, saya memilih fleksibel saja.

Anda tentu sudah berkomunikasi dengan parpol atau kemungkinan pasangan Anda mendatang?
Tentu begitulah. Saya memang sedang menjajaki dengan siapa berpasangan nantinya. Kemarin itu, saya sudah menjajaki berpasangan dengan Muslim Kasim (MK) dan Shadiq Pasadigoe guna mengantisipasi kemungkinan wakil gubernur Sumbar dua orang.
Namun setelah revisi UU Pilkada disahkan DPR, ternyata wakil gubernur Sumbar hanya seorang. Jadi, sekarang saya belum bisa memastikan bagaimana jadinya.
Soal parpol, saya pun sudah menjajakinya. Salah satunya, ya lewat mendaftarkan ke sejumlah parpol. Selain ke Nasdem, Hanura, PAN, saya juga sudah mendaftar ke PBB.
Saya berharap prosesnya berjalan sesuai aturan. Bila pun saya terpilih, harapannya murni dorongan kader-kader partai dari bawah, bukan melalui lobi-lobi ke pusat.

Bicara “amunisi”, berapa yang Anda siapkan menghadapi pilgub mendatang?
Tentulah saya sudah menyiapkannya. Namun tak etis pulalah saya kemukakan secara gamblang sekarang. Yang pasti ada, baik dari keluarga maupun pendukung saya. Tentu tak melimpah ruah, alakadarnya lah (Syamsu Rahim pun tertawa). 

Banyak orang menilai sombong, apa betul begitu?
Sombong bagaimana? Mungkin saya susah kalah, jadi orang memberi penilaian seperti itu. Namun, perlu diketahui juga bahwa gaya kepemimpinan seseorang orang itu berbeda-beda.
Mungkin akibat gaya kepemimpinan saya itu, orang menilai saya sombong. Namun ketika orang itu sudah mengenal saya, barulah dia tahu seperti apa saya sebetulnya.

Sebetulnya apa saja yang sudah Anda perbuat selama menjadi kepala daerah?
Sebaiknya masyarakat yang memberi penilaian. Sewaktu menjadi Ketua DPRD Sawahlunto misalnya, saya terlibat langsung dalam menentukan visi Kota Sawahlunto.
Mungkin banyak orang yang tak tahu, sayalah sebetulnya mengusulkan visi Kota Sawahlunto “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya 2020”. Visi itu saya kemukakan sekitar tahun 2001 lalu, waktu itu Wali Kotanya Subari Sukardi.
Saat menjadi wali kota Solok, saya membuat Perda Etika Penyelenggara Pemerintah, Masjid Agung, penerang jalan, pemindahan LP Laing ke Kubung 13, jalan lingkar, sport hall, cangkupan air PDAM dari 40 persen jadi 73 pesen dan lainnya.
Sedangkan di Kabupaten Solok, saya menghidupkan Musyawarah Tungku Tigo Sajarangan-Tali Tigo Sapilin (MTT-TTS). Forum ini bertujuan tempat beriya-iya antarelemen guna merumuskan keputusan. Teranyar, Kabupaten Solok keluar dari kabupaten miskin. Sebetulnya ditargetkan tahun 2015, namun 2014 target itu sudah tercapai.

Untuk Sumbar mendatang, apa yang Anda tawarkan?
Saya ingin memberdayakan lembaga, agama, adat, ormas kepemudaan dan lainnya. Inilah perekat orang Minang. Untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, jelas sudah ada acuan dari pusat. Namun untuk pemberdayaan lembaga-lembaga ini, saya nilai kurang diperhatikan.
Kita lebih banyak dininabobokan euforia masa lalu dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Adat Basandi Kitabullah, begitu juga sebutan industri otak, dan lainnya. Namun, itu lebih banyak pernyataan saja.
Realitanya, nilai agama dan adat sudah banyak diabaikan.Kita banyak memiliki masjid bagus-bagus, setiap bulan banyak orang umrah atau berhaji, buya-buya bergelar profesor malah. Namun kenyataannya, belum mampu memperbiki akidah umat.
Sumbar nomor lima narkoba se-Indonesia, begitu juga prostitusi dan pergaulan bebas.
Apa yang salah? Ya, salah satunya akibat lembaga-lembaga agama, adat, ormas kepemudaan dan lainnya kurang terperhatikan. Mau tak mau ini harus diberdayakan lagi. Saya pikir inilah yang akan merekat orang Minang sebetulnya. (*)

Selasa, 26 Mei 2015

Fauzi Bahar Bicara ”Insya Allah Siap, jika Amanah Itu Ada”


Bicara blak-blakan, berpikir cepat dan taktis adalah gaya Fauzi Bahar. Mantan Wali Kota Padang dua periode 2003-2008 dan 2008-2013, itu digadang-gadang maju sebagai calon gubernur Sumbar periode 2015-2020.
Bagaimana ceritanya? Berikut bincang-bincang Fauzi Bahar dengan wartawan Padang Ekspres Revdi Iwan Syahputra, di rumah Panggungnya di bilangan Gunungpangilun, Padang.

Anda kok pede (percaya diri) untuk maju sebagai gubernur Sumbar periode mendatang?
Oh, bukan pede dinda, namun ini bukti ketulusan saya untuk tetap berbakti dan mengabdi di kampung halaman saya. Saya ingin mencurahkan segenap kemampuan diri saya, potensi yang saya punya, jaringan untuk mengangkat harkat dan martabat Ranah Minang.
Saya telah berjanji untuk itu, jauh di lubuk hati saya, saya ingin berbuat. Jadi, sekali lagi ini bukan soal pede atau bukan, tapi soal keoptimisan saya dan masyarakat yang masih percaya saya. Itulah sikap saya. 

Sebagai Wali Kota Padang dua periode, apa yang bisa Anda banggakan?
Saya sangat cinta dengan masyarakat saya. Saya tahu, tanpa mereka saya bukan siapa-siapa. Dua periode adalah bukti cinta mereka (masyarakat Padang, red) pada saya. Namun, dua periode yang saya jalani adalah waktu yang teramat berat. Dalam rentang waktu 10 tahun itu, dua bencana besar telah terjadi.
Gempa tahun 2007 dan 2009. Nah, upaya rekonstruksi dan pemulihan mental, infrastruktur bangunan, sangat menyita tenaga dan pikiran kami. Namun, alhamdulillah, berkat kerja sama semua pihak, kita dapat bangkit lagi.
Nah, terkait pertanyaan apa yang bisa saya banggakan? Saya rasa, saya tak ada niat untuk bangga-banggaan, biar masyarakat dan Allah SWT yang tahu, apa yang telah saya perbuat.
Namun, upaya konkret yang saya lakukan di awal-awal pemerintahan saya dulu, menabuh genderang perang terhadap togel (toto gelap). Meski mendapat tantangan dari berbagai pihak karena judi togel telah menjadi permainan hampir semua kalangan masyarakat, saya tetap konsisten memberantasnya. 

Terobosan lainnya? 
Saya lanjutkan yang tadi ya dinda, soal togel, berkat kegigihan dan dukungan lembaga terkait serta masyarakat, perlahan namun pasti, togel dan berbagai penyakit masyarakat mulai menghilang dari Padang.
Kalaupun masih ada, para pecandu yang susah berhenti dari hobi buruk itu, tidak berani lagi terang-terangan. Pemko selalu mengawasi mereka melalui kerja sama dengan kepolisian.
Terkait soal jilbab, saya pikir itu bukan terobosan. Itu sebenarnya kewajiban bagi umat muslim. Saya hanya menjalankan itu.Soal terobosan Padang yang mewajibkan jilbab untuk pelajar diadopsi daerah lain di Sumbar dan luar Sumbar, itu menurut saya bagus. Dan, itu bukanlah kebanggaan saya. Saya hanya bersyukur apa yang saya lakukan juga menggugah daerah lain untuk melaksanakannya.
Saya memang senang membuat kebijakan yang berhubungan dengan agama. Ini mungkin terinspirasi dari keluarga saya. Ayah saya bernama Baharudin Amin, lebih dikenal dengan sebutan Wali Bahar.
Sebab, semasa agresi antara 1949-1951, menjabat sebagai wali nagari di Kototangah. Watak kepemimpinan ayahlah yang mengalir ke saya. Menjadi wali nagari di zaman agresi, zaman yang amat sulit, bukanlah pekerjaan yang mudah.
Ibu saya Nurjanah Umar, tamatan Diniyah Putri Padangpanjang, seorang guru yang juga aktivis Muhammadiyah. Nah, darah ibu saya yang kuat dengan agama inilah yang menanamkan dasar agama pada saya.
Inilah yang menginspirasi saya untuk memperkuat pembangunan mental para generesi penerus kita, dan anak-anak untuk menghafal asmaul husna serta Pesantren Ramadhan, wajib zakat dan menghafal juz amma dan lainnya.

Awalnya ada rumor Anda akan maju di Kepulauan Riau sebagai Cawagub, benarkah?
Betul, saya memang diusung untuk salah satu cawagub Kepri. Bahkan, nama saya sudah masuk dalam bursa survei. Ini murni karena adanya dukungan dari paguyuban masyarakat Minang di sana, dan beberapa elemen masyarakat.
Istri saya kan orang Kepri, lahir di Tanjungpinang, tentunya dukungan pihak istri juga ada. Namun, beberapa waktu lalu, ada desakan dari masyarakat agar saya balik saja ke Sumbar dan mencalonkan diri sebagai calon gubernur.
Setelah saya pikirkan dan saya diskusi dengan petinggi partai saya, PAN di Jakarta, akhirnya direstui agar balik ke Sumbar. Dengan mengucap Bismillah, saya tetapkan hati untuk maju di Sumbar.
Insya Allah, jika amanah itu ada, dan masyarakat memberikannya, saya siap. Bukti kesiapan itu, saya pun mendaftarkan diri ke beberapa partai di Sumbar. 

Bagaimana peluang Anda di Pilgub?
Saya pikir, semua calon memiliki peluang yang sama. Baik itu incumbent atau bukan. Kita tahu beberapa kepala daerah bakal habis masa jabatannya yang dua periode, tentunya mereka punya peluang juga untuk maju sebagai cagub.
Malah, duo incumbent Gubernur Irwan Prayitno dan Wagub Muslim Kasim juga sama-sama bakal maju, tentu ini akan menjadi lebih menarik.
Namun, tentunya kami sudah menyiapkan strategi pemenangan. Pengalaman saya ikut Pilgub 2010 yang menempati urutan ke-4 dari 5 pasangan calon, adalah pengalaman berharga. Karena itu, kali ini saya akan memantapkan diri menyusun strategi yang lebih baik.
Dimulai dengan survei elektabilitas, kemudian memperkenalkan diri di kabupaten/kota di Sumbar.
Visi dan misi saya adalah menegakkan kembali prinsip syarak mangato adat mamakai, agar daerah ini bisa melahirkan lagi tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta dan Buya Hamka. Kita rindu dengan kebesaran Ranah Minang. 

Kabarnya Anda menyiapkan anggaran cukup besar pada pilgub ini?
Tentunya dinda, jika akan bertarung di pilgub nanti pasti akan dibutuhkan amunisi (logistik, red), namun soal besarannya kita belum menghitung. Nantilah, kita pasti akan laporkan ke KPK dan ke KPU. Sabar ya dinda (sambil tersenyum). (*)

Minggu, 24 Mei 2015

Muslim Kasim Bicara ”Second Man, Kewenangan Saya Terbatas”


Dari sekian banyak figur yang berpeluang maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar 2015, boleh dibilang Muslim Kasim paling sepuh. Kini, pria yang menjadi wakil gubernur Sumbar itu sudah berusia 73 tahun.

Lantas, apa motivasi bupati Padangpariaman dua periode ini maju dalam Pilgub Sumbar mendatang? Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres Rommi Delfiano dan Revdi Iwan Syahputra  dengan Muslim Kasim di Padang, Sabtu (21/2).

Anda sudah sepuh, kenapa masih berkeinginan maju dalam Pilgub Sumbar mendatang?
Saya merasa masih berutang kepada masyarakat Sumbar. Sewaktu saya memutuskan maju dalam Pilgub Sumbar  2010 lalu, saya sudah berjanji menjadikan Sumbar sebagai provinsi yang lebih beradat dan beragama guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Terutama, mengimplementasikan secara utuh falsafah Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Syarak Mangato, Adat Mamakai.
Hingga kini belum sepenuhnya terealisasi. Peranan penghulu, ninik mamak, termasuk LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) belum terasa di nagari-nagari. 
Padahal, bila elemen-elemen bernagari ini bisa berperan secara utuh, jelas bisa mengatasi kerusakan moral yang sekarang ini makin mengkhawatirkan. Apakah kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas dan lainnya. Intinya, cita-cita menjadikan nagari otonomi bisa diwujudkan.
Ya, salah satu caranya melalui pembinaan dan melegalkan lembaga-lembaga adat ini. 
Bisa saja dengan membentuk biro/badan penguatan ABS-SBK atau lainnya. Bila sudah begitu, nantinya bisa pula dialokasikan anggaran. Tidak seperti sekarang, nyaris tak tersentuh anggaran.

Anda kan sudah menjadi Wagub, kenapa semua itu tak bisa Anda wujudkan? 
Saya kan second man (orang kedua), kewenangan terbatas. Kendati sejak awal kita sudah membuat perjanjian tertulis soal pembagian kewenangan, realisasinya sulit diwujudkan.
Paling tidak, waktu itu saya diberi kewenangan mengelola Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya, dan beberapa institusi lainnya, termasuk dalam hal pengawasan.
Namun setiap pejabat eselon (kepala dinas/badan/biro), tetap saja berorientasi kepada gubernur. Bahkan, ada pressure group (kelompok penekan) yang sengaja membatasi hubungan antara gubernur dan wagub (Muslim Kasim tidak menyebut siapa kelompok penekan tersebut).
Pihak-pihak yang seharusnya bisa menjadi penengah, saya pikir juga tak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Ya, seperti itulah. Saya tidak bisa maksimal menjalankannya. Makanya, visi saya sulit terealisasi.

Anda menyesal jadi Wagub?
Jujur, tak pernah terlintas dalam pikiran saya kata-kata menyesal. Saya tetap bersyukur terhadap situasi apa pun yang saya hadapi lebih kurang 4,5 tahun terakhir. Dengan begitu, saya pun bisa lebih dekat dengan masyarakat. 

Di usia Anda sekarang 73 tahun, apakah Anda masih yakin bisa memimpin Sumbar?
Insya Allah, saya yakin masih bisa memimpin Sumbar 5-10 tahun ke depan. Insya Allah pula, semuanya baik-baik saja. Bila masyarakat memberi amanah, saya siap menjalankan tupoksi sebagai gubernur. Rumah saya akan terbuka 24 jam menerima siapa saja yang membutuhkan.
Ini sudah saya buktikan ketika memimpin Padangpariaman dua periode lalu. Selama saya memimpin, siapa pun yang datang ke rumah saya, pastilah saya layani.
Saya pun bisa menjaga harmonisasi antara lembaga legislatif dengan eksekutif. Selama saya memimpin Padangpariaman, kedua lembaga ini kompak melahirkan ide-ide besar untuk kemajuan daerah.
Berkat kesepakatan bersama, ibu kota Padangpariaman kita pindahkan ke luar Kota Pariaman. Termasuk, menjalin harmonisasi antara ranah dan rantau. 

Lantas, bagaimana pendekatan dengan parpol?
Ini menjadi pemikiran saya dan tim nantinya. Selaku ketua Dewan Pertimbangan Partai DPD I Partai Golkar Sumbar, saya berharap bisa berangkat dengan Partai Golkar. Saya juga sudah melakukan pendekatan dengan pimpinan parpol lainnya baik di daerah maupun di pusat. Saya mendaftar ke NasDem, PAN, Hanura.
Insya Allah, saya juga akan mendaftar ke parpol lain. Karena bagaimanapun, untuk membangun Sumbar butuh kerja sama dan dukungan seluruh elemen.

Dari figur yang ada, siapa rival terberat menurut Anda? 
Ya, semuanya lah. Semua memiliki plus minus. Terpenting sekarang, kita berusaha dan bekerja keras. Hasilnya, ya kita serahkan kepada yang di atas. Ingat, sebetul yang di atas sudah menggariskan siapa gubernur Sumbar lima tahun ke depan.
Sebetulnya, saya bersama Shadiq Pasadigoe (bupati Tanahdatar) dan Syamsu Rahim (bupati Solok) sudah melakukan pendekatan guna menyiasati revisi UU Pilkada.
Awalnya, kemungkinan wakil gubernur Sumbar itu dua orang dan ditunjuk oleh gubernur terpilih. Namun, setelah revisi UU itu disahkan, ternyata ketentuan batal.
Jadi, sekarang perlu dibicarakan lagi bagaimana bagusnya dengan beliau itu (Shadiq dan Syamsu Rahim, red). Saya akan membicarakannya dalam waktu dekat. Mudah-mudahan tercapai kesepakatan. Saya akan terima apa pun hasilnya.

Bagaimana dengan kesediaan ‘amunisi’ Anda?
Untuk satu ini jelaslah penting. Namun berapa nominalnya, nantilah kita sampaikan. Intinya, tergantung bagaimana situasinya nanti. Saya pun yakin calon-calon yang ada tidak ditopang pendanaan yang kuat. Ya, sama-sama berjuanglah kita nanti.  

Tawaran Anda bagi Sumbar ke depan?
Pertama, tentu untuk menghidupkan nagari-nagari. Caranya, menghidupkan kembali peranan lembaga-lembaga adat. Ini selaras dengan UU Desa.
Kedua, melibatkan perguruan tinggi di Sumbar dalam merancang, menyusun, menjalankan, mengawasi dan mengevaluasi program-program pemerintah. Sekolah-sekolah pun harus bisa menyiapkan lulusannya, sehingga output pendidikan benar-benar terpakai di dunia kerja. (*)

Minggu, 17 Mei 2015

SKENARIO “MEMENSIUNKAN” MUSLIM KASIM




Sebagai Wakil Gubernur Sumbar, mantan Bupati Padang Pariaman dua periode, mantan birokrat, rencana politisi senior berumur kepala 7, Muslim Kasim, untuk maju sebagai Cagub dalam Pilkada Sumbar mendatang, jelas mengusik peluang Irwan Prayitno. Konon kunci kemenangan Irwan Prayitno di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman dan Kota Padang adalah akibat solidnya warga piaman yang mendukung Muslim Kasim. Jangan pula dilupakan kekuatan media massa.  Harian Haluan adalah milik Basrizal Koto, besannya Muslim Kasim. Karena itu, Muslim Kasim harus dihentikan sebelum maju berperang. 

Posisi Muslim Kasim saat ini adalah Ketua Watim Golkar Sumbar.  Tapi, jika Golkar bisa ikut Pilkada, sangat kecil potensi Muslim Kasim untuk menjadi kandidat dari Golkar Sumbar. Proses peradilan sengketa DPP Golkar tidak berpengaruh bagi Muslim Kasim. Jika Agung Laksono yang menang, maka Yan Hiksas yang akan menjadi kandidatnya. Sebaliknya, jika ARB yang berkuasa, maka kartu Hendra Irawan Rahim akan kembali hidup.

Peluang Muslim Kasim ada pada Koalisi 'Sumatera Barat Bangkit', gabungan antara Hanura, PKB, PDI Perjuangan, dan PBB. Ada beberapa politikus kawakan yang mendaftar. Belakangan Yan Hiksas juga melakukan komunikasi politik kepada Koalisi 'Sumatera Barat Bangkit'. Namun saingan terberat Muslim Kasim di sini adalah  Shadiq Pasadique yang sudah jauh-jauh membangun komunikasi. Salah satu potensi penjegalan Muslim Kasim  bisa muncul dari PKB.

Usut punya usut, Febby Dt Bangso Putiah Ketum DPW PKB Sumbar telah bertemu Fadli Zon bicara tentang Koalisi PKB-Gerindra pada Pilwakot Bukittingi. Gerindra mulai memikirkan Febby Dt Bangso Putiah sebagai kandidat calon Walikota Bukittinggi. Melihat dinamika politik Sumbar, bisa jadi Fadli Zon memberi syarat agar PKB tidak mendukung Muslim Kasim, sebagai upaya mengamankan Irwan Prayitno-Nasrul Abit.

Jika Koalisi 'Sumatera Barat Bangkit' terlepas, maka satu-satunya kendaraan Muslim Kasim tinggal Nasdem. Saat ini, bersama Fauzi Bahar dan Epiyardi Asda, Muslim Kasim sedang menunggu keputusan kandidat dari DPP Nasdem. Pertanyaannya, jika isu “memensiunkan” Muslim Kasim menguat, kepada siapa Muslim Kasim akan mencukupi sisa kursi yang dibutuhkan untuk maju dalam Pilkada Sumbar? 

Jika Koalisi PKS, Gerindra dan PAN terjadi, tidak mungkin berkoalisi dengan Fauzi Bahar. Sekalipun Koalisi 'Sumatera Barat Bangkit' berhasil diambil  Shadiq Pasadique, ada kesulitan besar jika mereka hendak berkoalisi. Kecil kemungkinan Shadiq Pasadique akan mengalah, menjadi cawagub. Sedangkan Muslim Kasim akan memilih pensiun ketimbang kembali menjadi wagub. Artinya, jika pun Muslim Kasim berhasil merebut Nasdem, ujung-ujungnya akan pensiun juga. Sepertinya sangat sulit memikirkan bahwa Muslim Kasim akan maju dari jalur perseorangan.  

Kasus serupa, juga dialami oleh Fauzi Bahar. Ada kekuatan politik yang coba menjegal mantan Walikota Padang 2 periode ini. Perkara ini akan kita bahas pada tulisan mendatang.

Yang jelas, jika skenario ini berjalan, maka satu-satunya yang masih bisa maju dengan berkendaraan parpol adalah Shadiq Pasadique. Dia bisa berpasangan dengan Mulyadi yang hampir pasti akan didukung Partai Demokrat. Epiyardi Asda dan Yan Hiksas juga layak dipertimbangkan, jika kisruh sengketa PPP dan Golkar bisa selesai sebelum batas akhir pendaftaran ke KPU Sumbar.

Harapannya tentu saja kedua skenario ini mental di tengah jalan. Pilkada Sumbar akan kurang gregetnya jika tiga pendeka politik Muslim Kasim, Shadiq Pasadique, dan Fauzi Bahar, tidak berpartisipasi. Hambar, seperti sayur cubadak tanpa santan yang kental.


*Buyuang Binguang adalah analis kelas kampung yang masih suka linglung