AWAK BADUNSANAK, NDAN!!!

IKPS Bulat Dukung MK-Fauzi

Masyarakat Pesisir Selatan Siap menyatukan dukungan untuk pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

Dorong UNP Lahirkan Pemimpin Mumpuni

Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), bersama alumni UNP, Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Syamsu Rahim Dukung MK-Fauzi

Bukan hanya mendukung, tetapi Syamsu Rahim juga menerima amanat sebagai Ketua Tim Sukses Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Shadiq Pasadigoe Dukung MK-Fauzi

SP : Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana membangun Sumbar lebih baik, membenahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat.

Silaturahmi dengan Tokoh dan Perantau Minang

Muslim Kasim dan Fauzi Bahar Bersama tokoh dan perantau minang : Is Anwar, Azwar Anas, Fasli Djalal, Fahmi Idris dan Mulyadi.

Tampilkan postingan dengan label muslim kasim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim kasim. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

Obrolan Lapau : Harun Zain diantara IP dan MK


“Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.” Tukilan sajak Taufik Ismail “Rindu pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta”, yang dilantangkan seorang kawan membuat saya merinding. Ingatan saya lekas tertarik pada insiden merabo-nya Mamak Sjahrul Udjud, Mantan Walikota Padang. Kalau orang biasa tentu tiada seketat ini ingatan saya. Tetapi karena ini Mamak Sjahrul, yang tidak hobby cari sensasi istilah orang zaman kini, serta berkenaan dengan tokoh pitua Minang yang sangat saya hormati, membuat ingatan saya tidak mau pupus.

Kisah merabo-nya Mamak Sjahrul adalah akibat keterlambatan Irwan Prayitno (IP), dalam acara Halal Bil Halal Pemprov Sumbar dan masyarakat Minang di Jakarta. IP selaku Gubernur Sumbar, bertindak sebagai pengundang.

Lazim memang seorang pejabat negara terlambat datang ke acara. Tetapi kali ini Mamak Sjahrul merabo. Pasalnya, keterlambatan itu membuat dua tokoh pitua Minang – mendiang Prof. Dr. Harun Zain dan Ir. Januar Muin - pulang dengan kecewa kendati acara belum dimulai. Padahal Harun Zain yang sudah sepuh, usia 85 tahun, datang tepat waktu karena kecintaannya pada Sumbar.

Orang Minang mana yang tidak kenal Harun Zain? Namanya harum nian di Sumbar. Beliau adalah Gubernur Sumbar periode 1966-1977 dan salah satu orang paling berjasa dalam meletakan pondasi pembangunan Sumbar. Jasa terbesarnya adalah penyanggah dan pembangkit martabat dan harga diri orang Minangkabau paska dihantam “kecelakaan sejarah” PRRI.

Sejarahwan Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Phil Gusti Asnan menggambar masa itu dengan ungkapan “Kala itu, masyarakat Sumbar tidak bisa tagak kapalo terhadap pemerintah pusat. Para politisi dan pewira militer tidak dipercaya lagi pemerintah Soekarno. Hal ini berdampak pada adat, budaya dan kesenian yang ikut hancur.”

Dan Mamak Sjahrul yang kesohor sangat santun pada para tokoh pitua Minang –termasuk Hasan Basri Durin dan Azwar Anas – pun me-rabo. “Saya tidak bisa menerima orang yang sudah berjasa mengangkat harkat dan martabat orang Minang diperlakukan seperti itu. Saya pribadi menuntut Gubernur Sumbar meminta maaf secara terbuka,” lantang orang dekat Wakil Presiden Jusuf Kalla ini.

Tidak jelas apakah IP telah meminta maaf kepada para tokoh pitua Minang secara terbuka atas kesilapan itu. Serupa itu pula ketidakjelasan di benak saya, mengapa IP absen pada serimoni pemberian gelar doktor honoris clausa Harun Zain dari Unand pada September 2010 silam. Penasaran saya kian menggeliat ketika menyitir kabar bahwa IP tidak hadir ketika Harun Zain wafat pada 19 Oktober 2014 silam.  

Tokoh-tokoh minang dari segala penjuru datang melayat. Sebut saja Irman Gusman, Musliar Kasim, Emil Salim, Azwar Anas, Awaluddin Djamin, Hasan Basri Durin, Muslim Kasim, Djohermansyah Djohan, Boy Rafli Amar, Sjahrul Udjud, Werry Darta Taifur, Basrizal Koto dan lainnya. Bahkan Jusuf Kalla, yang besok akan dilantik sebagai Wakil Presiden RI, bersama para pitua Minang tersebut, menyempatkan diri untuk hadir dan menshalati almarhum. Entah kemana IP saat itu. Barangkali IP punya alasan kuat yang belum ter-kaba di telinga saya.

Lain IP, lain pula pola Muslim Kasim (MK) dalam berinteraksi dengan Harun Zain. Karena menerima tempaan didikan surau dan olah Silek Minang, MK sangat menaruh hormat pada Harun Zain dan para tokoh pitua Minang lainnya. Apalagi selaku ketua LKAAM Padang Pariaman, MK tentu qatam jasa Harun Zain dalam menjaga dan mengembangkan budaya Minangkabau.

Gebu Minang merupakan organisasi yang dirintis oleh Harun Zein dalam rangka menghimpun potensi perantau untuk membangun kampung halaman. Serupa dengan gaya kepemimpinan Harun Zain yang bisa diterima semua kalangan, MK pun mempraktikan petatah “nan tuo dihormati, nan ketek disayangi, samo gadang baok bakawan.” Bukan cuma di kalangan elit, MK punya tradisi memenuhi undangan urang baralek kendati dihelat oleh kalangan rakyat badarai.

Selain itu, jika ditelisik ada beberapa kemiripan antara Harun Zain dan MK. Keduanya sama-sama urang piaman, dan pernah memimpin Padang Pariaman. Ketika menjadi Gubernur Sumbar, Harun Zain sempat rangkap jabatan sebagai Bupati Padang Pariaman ke 12 pada 1975. Sementara MK adalah Bupati Padang Pariaman ke 19 yang memerintah pada 2000-2010. Gelar keduanya pun rada-rada mirip – Harun Zain bergelar Datuk Sinaro dan MK bergelar Datuk Sinaro Basa.


Kemiripan dan kedekatan emosional ini yang secara alamiah membuat MK mendapat amanat selepas berpulangnya Harun Zain. Gelar Datuk Sinaro yang disandang mendiang diserahkan kepada sang kemenakan, Arman Adel Abdullah, dilewakan oleh MK.

Pilkada Sumbar dan Gubernur Sebelumnya


Dialog kreatif Buya Syafii Maarif dengan Irsyad Syafar di "Resonansi" Republika, Selasa (18/8), dan ruang opini Republika, Sabtu (22/8), menarik perhatian saya. Judul "Resonansi" Buya adalah, "Pilkada di Sumatra Barat 2015". Sementara judul tulisan Irsyad Syafar adalah "Pulanglah Buya". Rasanya, bahkan juga menarik perhatian kalangan tertentu di ranah ini khususnya dan umumnya semua pembaca Republika.

Buktinya, beberapa media sosial mengutip kedua wacana itu. Buya dengan bahasanya yang cerdas dan bernas, sementara Irsyad dengan bahasanya yang lirih dan juga terus terang. Keduanya enak untuk direnungkan, terutama bagi yang ingin Sumatra Barat lebih maju dalam Indonesia yang lebih cemerlang dan berperadaban.

Kata kunci yang dikutip Irsyad Syafar dari Buya adalah bahwa Sumbar dalam hal indeks kesejahteraan (Irsyad: kebahagiaan) terjun bebas pada angka tiga dari bawah setelah Papua dan NTB (Irsyad: NTT). Lalu, Irwan Prayitno dianggap lebih banyak mengurus kepentingan partainya daripada rakyat Sumbar. 

Sebagai orang yang tinggal di Sumbar, sepanjang pemahaman dan pengetahuan saya, apa yang dikemukakan Buya Syafii dan Irsyad Syafar, kedua-duanya mempunyai nilai kebenaran. Kalau dicermati, resonansi Buya bukan hanya kepada Irwan Prayitno yang dituju, tetapi juga kepada lawan bertandingnya di Pilkada Sumbar, dalam hal ini Muslim Kasim dan Fauzi Bahar.

Akan tetapi, terhadap Irwan Prayitno ada pembelaan datang dari Irsyad Syafar anggota DPRD dari Fraksi PKS. Sedangkan terhadap Musim Kasim dan Fauzi Bahar, tidak ada pembelaan. Padahal Irsyad Syafar kalau konsisten sebagai wakil rakyat, bukan lagi milik PKS sebagaimana dia mengatakan bahwa Irwan Prayitno bukan lagi milik PKS, tentu harus membela Muslim dan Fauzi juga.

Oh ya, Irwan Prayitno bukan pengurus PKS di Sumbar, tetapi anggota Majelis Syura pada tingkat nasional. Artinya, posisinya lebih menentukan dalam segala hal. Dan itu tidak berarti dia harus hari-hari ikut rapat atau hadir dalam acara-acara PKS tingkat wilayah, daerah, dan cabang lagi seperti yang disinggung Irsyad Syafar. Itu bukan maqamnya.

Lebih dari itu, ketika Irsyad Syafar membela Irwan Prayitno mengenai hasil survei BPS (2015) tentang indeks kebahagiaan tidak sama dengan kesejahteraan, dia menggiring kepada pendekatan subjektif dan kualitatif. Membedakan kebahagiaan dengan kesejahteraan tidak dengan angka-angka. Tetapi, ketika Irsyad Syafar mengemukakan kesuksesan Irwan Prayitno, yang dikemukakan adalah kuantitatif dengan persentase dan angka-angka.

Apa yang dikutip oleh Irsyad semuanya ada di dalam buku ukuran saku yang diterbitkan dan dicetak oleh PT Grafika Jaya Sumbar (milik Pemda Prov Sumbar) Januari 2015 dengan editor Yongki Salmeno teman Irwan Prayitno yang sehari-hari dekat dengannya. Buku kecil itu sebagai data dan fakta yang dibuat Irwan Prayitno seakan-akan pertanggungjawabannya selama memimpin Sumbar, tetapi bukan resmi dari pemerintah provinsi.

Isi buku dibuka dengan pendahuluan dan pujian seorang teman dan diakhiri dengan riwayat hidup Irwan Prayitno. Lalu isi di dalamnya ada dua hal. Pertama, 315 indikator kemajuan pembangunan Sumbar, yang kedua prestasi dan penghargaan sebanyak 194 butir. Lalu ada dua ilustrasi gambar tentang pembangunan jalan Padang By Pass yang mulus kalau nanti sudah jadi (sekarang belum selesai). 

Maka, Irsyad Syafar mengutip sebagian kecil dari 315 indikator tadi. Begitu pula soal apa yang dinamakan penghargaan dan prestasi juga dikutip oleh Irsyad dari 194 tadi. Maka di dalam pikiran saya, semua gubernur yang akan mengakhiri masa jabatannya membuat laporan seperti itu.

Akan tetapi, ada yang mengusik pikiran saya ketika Irsyad Syafar mengatakan "prestasi yang dicapai Irwan selama lima tahun memimpin Sumbar adalah fakta yang tak terbantahkan, belum pernah dicapai gubernur-gubernur sebelumnya".

Lalu, Irsyad Syafar menerangkan yang dimaksudnya, kembali ke buku Irwan Prayitno soal LKPJ, WTP dari BPK, pemuda pelopor, tour sepeda, penyaluran dana BOS, rehab-rekon pascabencana, dan seterusnya.

Irsyad lupa menyentuh soal pariwisata yang belum optimal. Perolehan prestasi pendidikan yang juga belum pada deretan papan atas di tingkat nasional. Padang, ibu kota provinsi dan gerbang Sumbar, mestinya menjadi wilayah binaan dan pengawasan utama oleh gubernur, tetapi belum bersih seperti zaman Syahrul Udjud menjabat wali kota. Ada gelagat, semua yang baik diklaim dan semua yang kurang belum disebut.

Orang rantau yang gelisah karena komuniksi yang terputus. Investor gamang masuk ke Sumbar antara lain karena soal lahan. Banyak MoU dengan calon investor yang tak ada realisasinya. Gamangnya beberapa pihak terhadap investor luar yang dianggap punya misi lain dan seterusnya.

Lalu amnesia pula menyebut bahwa semua pembangunan yang monumental seperti Masjid Raya, Kelok Sembilan, Jalan Raya Sicincin-Malalak, dan lainnya adalah kelanjutan dari pekerjaan gubernur-gubernur sebelumnya. Bahwa sampai sekarang macet berat mulai dari Koto Baru ke Bukittinggi belum teratasi dan bila musim libur atau Lebaran datang dari Padang ke Payakumbuh yang 110 kilometer itu ditempuh 9 jam.

Hotel Balairung Minang berlantai 13 di Matraman Jakarta dibangun oleh gubernur sebelumnya. Pembangunan kembali Istano Basa yang terbakar 2006 dibangun oleh gubernur sebelumnya. Beasiswa dari pemda untuk melanjutkan sekolah dalam dan luar negeri dan pembangun asrama mahasiswa Minang empat lantai di Kairo, Mesir, oleh gubernur sebelumnya. Semua perguruan tinggi di Sumbar mendapat bantuan untuk beasiswa dosen ke S-2 dan S-3 waktu itu.

Saya khawatir pembaca tersinggung ketika membandingkan Irwan Prayitno dengan Gamawan Fauzi, Zainal Bakar, Hasan Basri Durin, Azwar Anas, dan Harun Zain, semuanya gubernur-gubernur sebelumnya. Padahal, di zaman gubernur sebelumnya, prestasi monumental penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sudah diukir. Antara lain, penghargaan tertinggi Samkarya Nugraha Parasamya Purna Karya Nugraha di zaman Gubernur Azwar Anas dan Hasan Basri Durin.

Untuk tahun 2014 diterima oleh gubernur Jawa Tengah pada peringatan Hari Otonomi Derah ke-18 di Istana Negara Jakarta, diserahkan oleh Presiden SBY, Jumat (25/4/14). Parasamya paling baru diserahkan Presiden Jokowi 27 April 2015 di istana. Tiga besar penerima Parasamya itu Jatim, Jateng, dan DIY.

Ukurannya jelas bukan hal-hal yang rutin seperti yang disebutkan oleh Irsyad di atas yang hal itu siapa pun gubernurnya akan melakukan. Menurut Prof Dr Djohermansyah Djohan, mantan dirjen otoda Kementerian Dalam Negeri, pada lima tahun terakhir penilaian untuk anugerah luar biasa tadi itu terus dilakukan. Namun, Sumbar belum memperoleh prestasi angka satu atau bahkan belum pada tiga besar. Sumbar baru pada peringkat nomor 20 dari 34 provinsi di Indonesia.

Variabel yang menentukan, di antaranya, indeks perolehan kinerja dalam EKPPD (Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah). Paling pokok tiga aspek. Wilayah inisiator dan penentu kebijakan. Penilaian berlaku terhadap kinerja kepala daerah dan DPRD.

Tataran pelaksana kebijakan, di antaranya, penilaian terhadap kinerja 47 SKPD. Begitu pula penilaian dan capaian urusan pemerintah, yaitu penilaian perolehan kinerja 26 urusan wajib dan delapan urusan pilihan. Hal lain yang pokok lagi penilaian terhadap indeks kesesuaian materi antara LPPD dan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007.

Di atas segalanya itu, saya menangkap apa yang dirisaukan oleh Buya adalah pada tataran monumental tersebut di atas tadi. Itu pula yang diinginkan Buya bahwa gubernur Sumbar mendatang adalah "petarung sejati", bukan yang biasa-biasa saja. Sekadar tambahan, meski zaman Orde Baru sudah tinggal kenangan, zaman Rudini sebagai mendagri (1988-1993) dulu, kepala daerah yang dapat Parasamya saja yang boleh maju untuk pemilihan periode kedua.

Akhirnya, di balik itu semua, apa yang menjadi wacana Irsyad Syafar sangatlah saya hargai karena bagaimanapun telah memberikan penjelasan terhadap resonansi Buya sehingga ada perbandingan pemikiran. Begitu pula tulisan saya ini dimaksudkan untuk mengasah pikiran, bukan menolak dan meniadakan. Allah Yang Mahatahu. n

Shofwan Karim
Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang
sumber

Minggu, 20 September 2015

Pulanglah Buya (Tanggapan terhadap Tulisan Syafii Maarif)


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Membaca resonansi Republika18 agustus 2015 yang ditulis oleh Buya Ahmad Syafii Maarif, saya menjadi tergerak untuk ikut sedikit berbagi pikiran tentang Sumatra Barat. Bagi saya, Buya Syafii Maarif tak saja sekadar ulama, tetapi juga guru bangsa, yang tentu juga guru saya.


Beliau salah satu dari sedikit orang yang saya kagumi di negeri ini. Saya lumayan kenal beliau karena beliau adalah tetangga kami di pesantren yang saya pimpin di pinggiran Kota Padang. Beliau seorang yang taat, alim, dan juga tawadhu. Beliau pernah beberapa kali mampir ke pondok saya, shalat berjamaah bersama kami, para guru dan santri.

Kadang, beliau hadir shalat Jumat, duduk dengan diam di salah satu saf bersama anak- anak. Banyak guru dan karyawan yang tidak kenal beliau, apalagi santri. Karena beliau datang dengan berjalan kaki dan tak ada atribut atau pendamping khusus. Suatu hari, habis shalat Jumat, turun hujan agak deras. Saya tawarkan beliau untuk saya antar dengan Kijang Super saya. Dengan senang hati beliau mau naik mobil tua saya.

Di balik penghormatan dan kekaguman saya kepada Buya, tentunya saya juga tak menutup diri untuk memberikan catatan atas "Resonansi" beliau Selasa lalu. Apalagi, saya menangkap kesimpulan Buya tentang kepemimpinan di Sumbar yang kesannya telah mengalami gagal total, kurang didukung oleh data yang valid dan realitas yang ada.

Buya menuliskan, "Petahana Irwan, kelahiran Yogyakarta 20 Desember 1963, selama lima tahun menjadi gubernur menyisakan fakta ini: dari sisi tingkat kesejahteraan masyarakat, Sumbar terjun bebas pada angka tiga dari bawah setelah Papua dan NTB...." (dalam tulisan Buya, NTB. Dalam laporan BPS adalah NTT). Ini kalimat yang bom bastis. Menunjukkan masyarakat Sumbar sudah berada pada level terendah rakyat Indonesia dan jauh dari kesejahteraan sebelumnya.

Saya berkeyakinan kuat kesimpulan Buya itu berangkat dari hasil survei BPS (2015) tentang indeks kebahagiaan masyarakat Sumbar. BPS menyatakan, indeks kebahagiaan masyarakat Sumbardi urutan tiga terbawah setelah Papua dan NTT. Namun, pihak BPS memberikan penjelasan soal indeks ini. Kabid statistik sosial BPS Sumbar Satriono menyatakan, kebahagiaan adalah hal yang dirasakan dan dipersepsikan secara berbeda oleh setiap orang. Karena itu, pengukuran kebahagiaan merupakan hal yang subjektif.

Jadi, survei itu menyatakan masyarakat merasa kurang bahagia, bukan tidak sejahtera. Dan, ini subjektif sesuai cara pandang setiap orang ten tang makna bahagia. Bisa jadi dua orang berpenghasilan sama, tapi salah satunya merasakan tak bahagia. Karena, masing-masing punya standar kebahagiaan berbeda. Sebab, kebahagiaan lebih berhubungan dengan rasa, tapi wujudnya tak terlihat.

Kalau kita ingin melihat kesejahteraan rakyat Sumbar secara ukuran data valid, tentu sangat banyak variabel yang harus digunakan, di samping realitas secara kasat mata. Di antara yang bisa digunakan sebagai ukuran kesejahteraan umum adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh angka produk domestik regional bruto (PDRB), pemerataan ekonomi yang tergambar dari penurunan penduduk miskin, dan tingkat pengangguran serta ukuran lainnya.

Dari data resmi Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), kondisi kesejahteraan sosial menunjukkan bahwa IPM Sumbar pa da 2013 sebesar 75,01, meningkat dibanding 2012 yang 74,70, tapi tetap menempati peringkat sembilan secara nasional. Sementara, PDRB Sumbar mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. PDRB 2011 sebesar Rp 98,96 triliun, menjadi Rp 110,10 triliun. Pertumbuhan PDRB pada 2014 adalah 6,5 persen di atas pertumbuhan nasional yang hanya 5,21 persen. Sumbar berada pada peringkat ke-13 nasional.

Adapun tingkat kemiskinan masyarakat Sumbar, dalam data resmi Pemprov Sumbar, telah mengalami penurunan drastis sejak 2010. Padahal, Sumbar baru saja dihantam gempa dua kali, pada 2007 dan 2009. Terutama gempa 2009 yang sangat mengganggu perekonomian Sumbar.

Angka kemiskinan pada 2010 adalah 9,50 persen. Kemudian pada 2011, turun ke 8,99 persen, dan 2012 turun ke 8,00 persen, serta tahun 2013 menjadi 7,56 persen, lalu terakhir pada 2014 berada di 7,41 persen. Jauh lebih baik dari rata-rata nasional yang 11,25 persen pada 2014. Begitu juga angka pengangguran Sumbar, turun dari 7,97 persen pada 2009 menjadi 6,50 persen pada 2014, dan turun ke 5,99 persen pada 2015 ini. Atau, sedikit di atas rata-rata nasional yang 5,7 persen.

Di samping itu, prestasi yang dicapai Irwan selama lima tahun memimpin Sumbar adalah fakta yang tak terbantahkan, belum pernah tercapai oleh gubernur-gubernur sebelumnya. LKPJ beliau mendapatkan opini WTP dari BPK RI dalam tiga tahun terakhir. Padahal, beliau menerima tampuk pemerintahan dari gubernur sebelumnya dengan status disclaimer.

Kemudian, setahun setelah itu naik ke WDP. Dan, ditutup dengan dua kali WTP murni untuk 2013 dan 2014. Sumbar meraih peringkat satu pelaksanaan rehab-rekon pascabencana (2011), juara satu tanggap darurat (2011), juara satu nasional pasar desa/nagari (2012), penyalur dana BOS tercepat (2012), peringkat II nasional penanaman 1 miliar pohon (2012), pembina bank daerah terbaik (2012), provinsi terbaik manajemen KB se- Indonesia (2013), provinsi terbaik pengelolaan pesisir dan pulau kecil (2013), peringkat lima dunia penyelenggaraan Tour Sepeda (2013), juara satu nasional Pemuda Pelopor (2013), penghargaan Kementerian PU atas pembangunan jalan nasional dan jalan provinsi di Sumbar (2014), dan lebih dari 100 penghargaan lainnya di berbagai bidang, semuanya kar ya Irwan bersama wagub dan pemerintah provinsi yang dipimpinnya.

Kemudian, Buya menyatakan, "Sebagai seorang tokoh PKS, Irwan dianggap lebih banyak mengurus kepentingan partainya daripada rakyat Sumbar." Pernyataan Buya ini juga terasa kurang valid.

Sejak menjadi gubernur, Irwan langsung melepaskan jabatan strukturalnya di PKS. Berbeda dengan banyak kepala daerah yang justru menjadi pimpinan atau pengurus partai secara aktif. Beliau tidak menjabat lagi di DPP PKS, apalagi di DPW.

Kemudian, hari-harinya habis untuk rakyat Sumbar. Satu hari kadang beliau hanya tidur tiga sampai empat jam saja. Tidak pernah mengambil cuti, dan hari Sabtu Ahad tetap bekerja. Dalam setahun, puluhan nagari dan ratusan desa yang beliau kunjungi. Daerah-daerah terisolasi dan tertinggal, beliau datangi walaupun harus naik sepeda motor atau naik perahu.

Sangat banyak desa yang belum pernah satu pun gubernur sepanjang sejarah Sumbar datang ke sana, tapi Irwan sampai ke sana. Hadir secara fisik dan juga membawa program pembangunan. Justru banyak pengurus DPD dan DPC PKS yang kecewa dengan Irwan karena sejak menjadi gubernur, beliau tidak mudah untuk diajak ke acara-acara partai.

Irwan rela mendahulukan perbaikan rumah masyarakat dan gedung pemerintahan yang hancur karena gempa 2009 daripada memperbaiki kantornya sendiri. Bahkan, sampai akhir jabatannya, beliau berkantor di rumah dinasnya. Menjelang jabatannya berakhir, semua dinas provinsi menempati gedung baru atau sudah direnovasi.

Terakhir, saya sangat menghormati dan juga mencintai Buya. Beliau begitu peduli dan cinta dengan Sumbar. Barangkali karena itulah beliau menuliskan keresahannya tentang Sumbar dan berharap Sumbar kedepan lebih baik lagi.

Kami menunggu Buya pulang kekampung halaman, memberikan pencerahan kepada kami yang masih terus belajar. Dan, kiranya Buya sudi mampir di Pondok Ar Risalah karena Buya beberapa tahun yang lalu telah menjual rumahnya yang di samping pondok kami.

IRSYAD SYAFAR
Anggota DPRD Sumbar Periode 2014-2019

sumber

Rabu, 19 Agustus 2015

Pilkada di Sumatera Barat 2015


oleh : Ahmad Syafii Maarif
Akhirnya setelah bergumul selama beberapa minggu dalam proses yang meletihkan dan tidak bermutu, lawan petahana Gubernur Sumbar Prof. Irwan Prayitno yang berpasangan dengan Nasrul Abit (mantan bupati Pesisir Selatan) baru muncul secara pasti pada 27 Juli 2015l, yaitu pasangan Muslim Kasim-Fauzi Bahar. Muslim, birokrat pernah menjabat bupati Pariaman selama dua periode. Akan halnya Fauzi Bahar, purnawirawan Angkatan Laut dengan pangkat letkol, selama dua periode jadi wali kota Padang. Sosok ini mendapat kritik keras, khususnya oleh warga Padang karena berlakunya kerusakan menyeluruh di kota itu selama Fauzi berkuasa.

Petahana Irwan kelahiran Yogyakarta 20 Desember 1963 selama lima tahun jadi gubernur menyisakan fakta ini: dari sisi tingkat kesejahteraan masyarakat, Sumbar terjun bebas pada angka tiga dari bawah setelah Papua dan NTB. Sebagai seorang tokoh PKS, kata orang Irwan lebih banyak mengurus kepentingan partainya dari pada rakyat Sumbar. Memang Ranah Minang lagi bernasib sial, sulit sekali memunculkan pemimpin pro-rakyat yang mau berjibaku membebaskan propinsi ini dari belitan dan lilitan kemiskinan. Dulu ranah ini mendapat julukan sebagai “industri otak,” kini kita tidak tahu ke mana otak-otak itu bersembunyi. Karena hanya dua pasang yang akan bertanding, maka pilihan rakyat Sumbar sudah dipatok demikian rupa. Nama-nama yang sebelumnya mengemuka, seperti Mulyadi (anggota DPR Pusat) dan Shadeq Pasadique (bupati Tanah Datar) yang banyak didukung oleh kaum terdidik dan perantau sudah terkunci oleh kedua pasangan di atas.

Umumnya perantau Minang yang lahir atau pernah di waktu kecilnya tinggal di sana sangat mencintai ranah ini, tetapi tidak betah berlama-lama di sana. Inilah sebuah paradoks psiko-kultural yang dialami para perantau, tidak terkecuali saya yang berasal dari kawasan udik. Jika saya ditanya, sekiranya berhak memilih calon di atas, jawaban saya adalah: akan memberikan suara kepada salah satu pasangan dengan perasaan gundah. Tetapi Muslim Kasim yang sudah berkepala tujuh diharapkan bisa mengawal wakilnya sekiranya terpilih pada pilkada 9 Desember tahun ini. DR. Shofwan Karim, tokoh sipil Minang yang tetap bermukim di sana, sewaktu saya lontarkan isu perlunya pemimpin petarung untuk Sumbar, jawabannya negatif: tidak ada petarung itu di sana saat ini.

Inilah situasi Minang waktu kini. Para intelektual idealis, seperti Tan Malaka, Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Natsir, Hamka, dan sederetan nama besar lain, tidak lagi lahir di sana. Seakan-akan rahim bumi Minang tidak mampu lagi melahirkan sosok-sosok idola itu di era kemerdekaan. Sisa-sisa otak besar Minangkabau sekarang lebih memilih profesi, seperti dokter, pengusaha, pejabat negara dari pada menjadi pemikir-pejuang-petarung. Ungkapan “alam terkembang jadi guru” sudah kehilangan daya tariknya di alam kemerdekaan bangsa. Kata sastrawan alm. A.A. Navis, tempo dulu orang Minang tidak terpukau oleh kekuasaan politik. Sekarang sebagai bagian dari Indonesia yang kumuh, orang Minang kini suka sekali berburu kekuasaan. Bukan untuk mengabdi, tetapi sebagai mata pencarian. Akankah suasana semacam ini bakal berlangsung lama? Mudah-mudahan tidak. Pasti akan bermunculan generasi yang lebih segar dengan visi jauh ke depan, baik di ranah mau pun di rantau.

Untuk melangkah ke sana harus dirancang dari sekarang siapa yang akan didaulat jadi pemimpin Sumbar tahun 2020-2025. Jika bertemu ruas dengan buku antara ranah dan rantau, tidak ada alasan bagi alam Minangkabau untuk jatuh terjerembab seperti sekarang ini. Sudahlah, gubernur/wakil gubernur periode 2015-2020 harus menjadi pejabat transisi untuk menuju Minangkabau yang segar, bermartabat dan bermutu di bawah kepemimpinan dengan karakter kuat. Saya tahu di antara intelektual muda Minang sekarang ini tanda-tanda untuk tampil sebagai pemikir-petarung mulai bermunculan. Mereka sudah muak dengan segala kepalsuan yang mendera Sumbar selama ini. Gagasan pemikir-pejuang-petarung jangan sampai terlupakan oleh kegadukan politik yang sarat dengan pragmatisme tunamoral ini.
sumber 

Rabu, 12 Agustus 2015

Muslim Kasim : Silek dan Budaya Minangkabau


Oleh: H Muslim Kasim Ak MM Datuk Sinaro Basa

Silat atau silek tak bisa dilepaskan dari lelaki Minangkabau. Orang Minang gemar merantau memang. Sebelum merantau ia tak membekali anak atau kemanakannya dengan uang yang berlindak. Tapi, ia membekali anak kemanakan itu dengan beragam kepandaian. Pandai basilek atau bersilat, pandai menggalas, dan dilengkapi dengan kepandaian bathiniah dengan mengisi dada akan nilai-nilai agama Islam dan nilai-nilai adat.

Silek tak bisa lepas dari nilai-nilai kesurauan. Mengaji dan mengkaji adalah dua hal yang melengkapi nilai-nilai kepandekaan itu sendiri. Sebelum mengkaji langkah atau garak, terlebih dahulu mereka mengaji. Mengaji nilai-nilai agama di surau. Tuo-tuo silek di Minangkabau, rata-rata adalah para ulama atau pemuka adat yang memiliki nilai-nilai keimanan yang tangguh.

Tradisi basilek, selalu dimulai dari mengaji untuk mengenal nilai-nilai ilahiyah atau ketuhanan. Makanya, ilmu silat tak bisa dilengkapi dengan kebhatinan. Itu ditunjukkan dengan filsafat silek yakni “nan lahia mancari kawan- nan hakikat mancari Tuhan”. Maksudnya, kehadiran seorang pendekar bukan mencari lawan atau permusuhan. Itu tercermin dalam falsafah, lawan indak dicari basobok pantang dielak-an. Hakikat basobok pantang dielak-an bukanlah hakekat yang tegak tanpa kesabaran, namun haikat yang tegak untuk menegakkan kebenaran itu sendiri. Menegakkan yang hak dan menghancurkan yang bathil. Begitulah pandeka di ranah Minang.

Setantang yang hakekat mencari Tuhan adalah upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan Allah. Seorang pandeka adalah seorang yang taat, ia menjadi pagar di tengah nagari. Atau, amal ma’ruf nahi munkar! Itulah pendekar.

Banyak filsafat silek tradisi yang mengajarkan kita pada nilai-nilai ilahiyah. Ketika seorang pesilat tegak berdiri, yang tegak itu adalah “alif”. Alif adalah benar.Alif adalah lurus. Saat itu seorang pendekar sebelum membuka langkah selanjutnya, ia terlebih dahulu berserah diri pada Yang Kuasa, seperti alif tegak lurus.

Ketika, langkah diurak atau dibuka, ia membungkuk seperti membentuk huruf “ba”. Ini yang dimaksud dengan langkah dua. Adalah langkah bertanya. Apakah langkah ini langkah baik atau langkah buruk. Ia bertanya pada Allah. Jawabannya adalah di langkah ketiga; yakni langkah yang tak akan pernah berbalik surut sebelum kebenaran dan keadilan tegak berdiri di bumi tempat berpijak di langit tempat dijunjung.

Filsafat pandeka perlu kita terapkan dalam pengambilan keputusan. Yakni, ditimang-timang baik buruk sebelum melangkah. Supaya jangan terjadi apa yang sering kita dengar yakni; habis cakak takana silek yang kemudian meninggalkan penyesalan-penyesalan. Seorang pandeka adalah seorang yang sabar dan pikiran baginya adalah pelita hati sebelum melangkahkan kaki.

Seorang pasilek atau pandeka adalah seorang yang ‘mengenal’ angin dan mengarifinya sebagai perwujudan alam takambang menjadi guru. Pandeka seorang yang arif dengan angin buruk yang akan mencelakai diri dan orang lain serta angin baik (perbuatan elok) yang akan memberikan banyak manfaat pada orang lain.

Seorang pandeka sejati ia tak akan mungkin mengotori cerek kehidupan.Tak mungkin membuat keributan di tangah nagari, karena ia adalah paga dari nagari itu sendiri. Idealnya, mana mungkin pagar merusak tanaman, begitu juga dengan ‘ mana mungkin pandeka marusak nagari sendiri’.
Kemajuan peradaban ditandai dengan kecanggihan teknologi. Teknologi harusnya memberi kemudahan dalam kehidupan, bukan menciptakan berbagai jaring-jaring keraguan yang menggoda keniscayaan dan keimanan. Kemajuan di depan mata yang terhampar di dunia, tak boleh tertukar dengan nilai-nilai ketaqwaan. Kepintaran dan kecerdasan haruslah dibekali dengan ketaatan dan iman. Jangan sampai hati dibutakan oleh goda-godaan dunia yang cendrung menggelincirkan. Jadilah orang pintar yang bermanfaat. Untuk apa pintar, bila cerdiknya justru untuk membuang atau membunuh kawan. Seorang pandeka di tengah alam adalah seorang yang gema mencari kawan, bukan lawan.

Adat basandi syarak-syarak basandi Kitabullah adalah maklumat kesepakatan bersama antara ulama dan ninik mamak dalam persetujuan sumpah sati bukik marapalam yang tertanam kuat di ruang pikiran, hati dan perbuatan orang Minang hingga kini yang tak lapuk dek hujan dan tak lekang dek panas garang.

ABS-SBK bukanlah kajian, ia adalah terapan. ABS-SBK, bukanlah slogan atau semboyan, ia adalah ketetapan sosial masyarakat Minangkabau yang notabenenya mayoritas hidup di wilayah administrasi Sumatera Barat.

Pada ABS-SBK terkandung sinyal kembali banagari dan kembali meramaikan surau. Nagari dan surau adalah simbol ABS-SBK itu sendiri.

Anak-anak muda kita —parik paga dalam nagari—yang kini banyak lebih dekat dan lebih akrab dengan dunia ‘di ujung jari—yakni internet, ipad, bbm, facebook, twetter, berbagai games online, sehingga mereka nyaris tak mengenal permainan yang dulu marak dalam nagari, yang kita sebut sebagai permainan anak nagari.

Ketika mereka lebih gemar dan lebih mengenal internet games ketimbang permainan anak nagari, maka pada saat itu, sadar atau tak sadar mereka telah melenyapkan satu sisi dari bungkahan rasa cinta pada ranah Minang.

Untuk itu, mari kita tanamkan nilai-nilai cinta dan semangat untuk ranah Minang dalam kehidupan anak mudo kita terkini. Anak nagari Minangkabau, jangan sampai tinggal nama akibat dicabik atau dilindas oleh roda zaman yang kian tajam. Seyogyanya mereka harus mengenal sejarah “keminangkabauan”. Kita gamang sekiranya mereka lupa dan tak peduli sejarah, pada saat itu satu sendi musnah, yakni kaburnya identitas diri. Bukankah kekuatan satu bangsa terletak pada identitas? Mari kita semarakkan lagi berbagai kreasi dalam nagari. Bila anak mudanya kreatif, nagari otomatis semarak. Karena, sumarak nagari karena nan mudo.

Saatnya kreativitas itu kita arahkan pada kreasi yang mengakar dalam tradisi kita yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiyah.

Salah satunya, kita semarakkan kembali sasaran atau galanggang silek di nagari-nagari, di sekolah-sekolah bahkan di kampus-kampus. Semua olahraga beladiri itu baik, tapi alangkah baiknya bila anak muda kita kembali ramai basilek.

Selamat bersilat, bukan bersilat lidah menutup kebohongan, tapi adalah bersilat langkah untuk membuka kebenaran-kebenaran!

Selasa, 11 Agustus 2015

MK & Fauzi : Duo Penjaga Silek Minang


Muslim Kasim  dan Fauzi Bahar termasuk tokoh yang paling gigih dalam melestarikan budaya adat Minangkabau, tak terkecuali silek. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari didikan surau yang mereka cecap  sewaktu bocah. Sebagaimana kita ketahui, didikan surau bukan cuma mendidik anak-anak bujang dengan ilmu agama, tetapi juga akhlak yang baik, termasuk pula belajar silek.

Bagi Muslim Kasim, silek tidak bisa dipisahkan dari lelaki Minangkabau. Disela-sela kesibukannya sebagai pamong senior, Muslim kasim masih menyempatkan diri berlatih silek. Tidak heran jika usia tidak lantas mengerus kemampuan bersilatnya. Ketika diuji para tuo silek dan pandeka, Muslim Kasim masih lincah.  Tendangan dan pukulan dapat ditangkis dan dipatahkan, bahkan Muslim Kasim juga balas menyerang. 

Saat ini Muslim Kasim Pembina Perkumpulan Silat tradisi Minang "Rancak Basamo Salingka Marapi Salirik Gunuang Singgalang”. Ia mendorong agar para tua silat mau mendirikan Koperasi Pendekar Minang , sebuah wadah sosial dan ekonomi, tak saja bagi guru silat tapi juga bagi para pendekarnya. Muslim Kasim juga mendukungbila ada keinginan dari tua silat mendirikan wadah khusus bagi pengembangan dan pelestarian silat yang berakar tradisi Minangkabau yang bukan untuk dipertandingkan, tapi diarifi dalam sikap yang bijak. Termasuk menggagas Musyawarah besar pendekar Minang guna pengembangan silek tradisi Minang.

Fauzi Bahar juga demikian. Ketegasan, kedisiplinan sekaligus sikap persaudaraan yang kental di diri Fauzi Bahar bukan semata-mata didikan  marinir. Jauh sebelum itu, Fauzi Bahar sudah mempelajari karakter luhur tersebut melalui silek.

Sejak kecil, Fauzi Bahar, yang turut berjualan sayur kangkung dan kue mangkuk ini, belajar mengaji di Surau Tabek, yang berada persis di depan rumahnya. Fauzi Bahar belajar silat di perguruan Pat Ban Bu (Empat Banding Budi) di Ikua Koto. Bahkan setelah tamat belajar silat, dia menjadi pelatih silat di perguruan Pat Ban Bu tersebut.



Atas dedikasinya dalam mengembangkan silek di Sumatera Barat, Fauzi Bahar ditetapkan sebagai  Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumatera Barat periode 2012-2016. Pelantikan dilakukan oleh Ketum IPSI Letjen (Purn) Prabowo Subianto di di GOR Universitas Negeri Padang. Selain itu, oleh oleh Niniak Mamak  Koto Tangah Fauzi Bahar diberi gelar Pandeka Rajo Nan Sati.
Silek Minangkabau berguna sebagai perisai diri, sekaliguss mengandung kewajiban untuk manajadi garda penjaga nagari. Ikatan silek ini juga yang membuat Muslim Kasim – Fauzi Bahar klop untuk membangkik batang tarandam. Serupa silek, majunya Muslim Kasim – Fauzi Bahar dalam gelanggang pilgub Sumbar,  bukan semata-mata ambisi, tetapi merupakan perwujudan dari menjaga nagari.

Bahkan, jauh-jauh hari para tuo silek dan ribuan pandeka mudo di Perkumpulan Seni Silek Tradisi Minangkabau Rancak Basamo (PS2T-MKRB) sudah siap mengalangkan leher demi me­m­bangkit batang ta­ran­dam, yaitu ko­mitmen untuk mendukung Muslim Kasim menjadi Gu­bernur Sumbar periode 2015-2020.





Jumat, 07 Agustus 2015

BINGBANG Untuk Muslim Kasim - Fauzi Bahar


Bagi beberapa kalangan, pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar barangkali tidak terprediksi. Pasalnya, jauh sebelum Pemilu Gubernur (pilgub) Sumbar, Muslim Kasim lebih dekat dengan Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim. Konon, jika UU Pilkada tidak direvisi, sudah ada skenario untuk menjadikan Muslim sebagai Gubernur, sementara Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim masing-masing menjadi Wakil Gubernur.
Kisah “perjodohan”  Muslim Kasim – Fauzi Bahar banyak dimotori oleh Basrizal Koto (Basko) dengan melempar wacana di Harian Haluan. Namun jauh-jauh hari, sebenarnya kalangan alumni muda Universitas Negeri Padang (UNP) sudah bermanuver untuk menjodohkan, alumni Pasca Sarjana UNP dan ketua Iluni UNP ini.
Kalau dalam sepakbola, kesebelasan  Muslim Kasim – Fauzi Bahar  adalah kesebelasan pemain bintang. Pemain bintang pertama adalah mesin politik parpol. Kecuali PKS dan Gerindra, semua parpol pemilik kursi DPRD Sumbar mendukung  Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Parpol-parpol pendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar adalah PAN, NASDEM, HANURA, PDIP, GOLKAR, PPP, DEMOKRAT, PKB. Bisa dibayangkan mesin politik parpol yang berada di belakang Muslim Kasim – Fauzi Bahar.
Kedua, Muslim Kasim – Fauzi Bahar  didukung oleh para tokoh  Minangkabau.  Kalangan pertama, adalah mantan kompetitor mereka, yaitu Mulyadi, Epyardi Asda, Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim. Betty Shadiq, istri Shadiq Pasadigoe, anggota DPR RI bersama para relawannya siap terjun untuk memenangkan  Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Syamsu Rahim bahkan menjadi ketua Tim Sukses Muslim Kasim – Fauzi Bahar.
Dukungan selanjutnya dari para sesepuh minang, sebut saja Azwar Anas, Is Anwar, Fasli Djalal dan Fahmi Idris. Kehadiran mereka seolah menjawab permohonan dari para anak kemenakan agar para sesepuh Minang ini mau turun gunung untuk mendorong perubahan di Sumatera Barat. Belum lagi dukungan Indra Jaya Piliang yang mengkonsolidasi pemuda-pemuda minang intelektual yang mahir bersosmed-ria baik di ranah maupun di rantau.
Dukungan tokoh-tokoh, yang mayoritas merupakan sosok-sosk pemuncak di kawasan darek,  sontak menghapus isu calon pasisia. Isu ini merupakan strategi B pasangan incumbent, setelah strategi  A yaitu banyak pasangan agar cerai-berainya suara pemilih yang kecewa terhadap Irwan Prayitno, gagal dilaksanakan.
Ketiga, dukungan yang sifatnya primordial. Dukungan ini tergolong menarik. Lazim saja kalau Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) mendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Tapi kalau Ikatan Keluarga Pesisir Selatan (IKPS) kemudian mendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar tentu luar biasa. Pasalnya, Nasrul Abit, cawagubnya Irwan Prayitno, boleh disebut sebagai representasi dari Pesisir Selatan.
Ini juga mengingatkan saya pada DPC Gerindra Pesisir Selatan yang sebelumnya menolak Nasrul Abit sebagai cawagub-nya Gerindra Sumbar. Penolakan ini bahkan sampai ke ranah hukum.  Ada apa? Mengapa urang sekampuang Nasrum Abit justru menolak Bupati pesisir Selatan tersebut? Jika di kampuang  sendiri Nasrul Abit tidak didukung, bagaimana dengan pemilih di luar kampungnya?
Keempat, dukungan gerbong UNP. Pelopornya adalah alumni-alumni muda, di luar struktural kampus, yang berkutat di organisasi mahasiswa. Umur yang tidak terpaut jauh dan ikatan organisatoris ormawa ini menjadi tali perekat gerakan mereka. Bagi mereka  Pilgub Sumbar kali ini merupakan wahana untuk menyatukan barisan.
Dahulu, pada Pilgub 2010, gerbong UNP terpecah karena Muslim Kasim dan Fauzi Bahar maju sendiri-sendiri. Tetapi kali ini, dengan berkongsinya Muslim Kasim dan Fauzi Bahar menjadi kesempatan emas bagi para alumni muda UNP ini untuk menata barisan. Apalagi, duet Muslim Kasim dan Fauzi Bahar juga tidak bisa dilepaskan dari dorongan para alumni muda ini, baik yang dititipkan melalui para mahasiswa yang bersimpati dengan gerbong UNP, alumni UNP di parpol, sampai dorongan informal ketika Muslim Kasim – Fauzi Bahar bertemu dalam kegiatan-kegiatan resmi kampus.
Konon moment pulang kampuang lalu, di Kota Padang telah terjadi pertemuan antara alumni muda UNP baik yang bergerak di rantau maupun di ranah untuk berpadu memenangkan Muslim Kasim-Fauzi Bahar. Posko-posko pemenangan aktivis berlatar belakang kampus ini akan segera didirikan di berbagai kabupaten/ kota di Sumatera Barat.

Pekerjaan besar Syamsu Rahim selaku ketua tim pemenangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar  adalah mengkonsolidasikan semua mesin politik tersebut. Dengan manajemen kampanye yang apik, mesin-mesin politik ini akan mendorong  sebuah “bingbang” – ledakan besar, bagi pemenangang Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Selamat bekerja!

Senin, 03 Agustus 2015

SHADIQ PASADIGOE DUKUNG MUSLIM KASIM –FAUZI BAHAR, SYAMSU RAHIM MENYUSUL?

Sekali sahabat, tetap sahabat. Sempat bersitegang dalam memperebutkan  tiket Pilgub Sumbar, tidak membuat persahabatan Muslim Kasim dan Shadiq Pasadigoe meluntur. Konsolidasi politik yang mengantarkan Muslim Kasim – Fauzi Bahar sebagai pasangan  cagub-cawagub Sumatera Barat menantang pasangan Irwan Prayitno – Nasrul Abit, disambut  Shadiq Pasadigoe dengan suka cita. Bahkan Bupati Tanah Datar dua periode tersebut berikrar untuk mendukung  Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

“Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana mem­ba­ngun Sumbar lebih baik, mem­benahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat,” kata Shadiq kepada Muslim Kasim –  Fauzi Bahar  yang berkunjung ke kediamannya.

Shadiq menyarankan agar Muslim Kasim –  Fauzi Bahar dapat merangkul semua pihak dalam menghadapi Pilkada 2015. Selain itu, Shadiq juga akan me­minta para relawannya untuk terjun mendukung pasangan Muslim Kasim –  Fauzi Bahar.

”Istri saya Betti Shadiq Pasadigoe akan turun langsung membantu pemenangan Pak Muslim dan Pak Fauzi, tentu bersama relawan saya di lapa­ngan. Mari jalin keber­sa­ma­an, ba­samo mang­ko man­jadi,” tegas Shadiq. 

Pertanyaannya sekarang, kemanakah Syamsu Rahim merapat? Kemungkinan Bupati Solok ini akan mendukung pasangan Muslim Kasim - Fauzi Bahar. Potensi ini terlihat dari komunikasi Muslim Kasim dan Syamsu Rahim yang dibangun jauh-jauh hari.

Muslim Kasim, Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim sudah melakukan pendekatan guna menyiasati revisi UU Pilkada. Ketika itu ada potensi Sumbar memiliki dua wakil gubernur. Maka disepakatilah Muslim Kasim sebagai gubernur, sementara Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim masing-masing menjadi wakil gubernur.

Kedekatan Syamsu Rahim dan Fauzi Bahar juga tampak menjelang detik-detik pendaftaran paslon ke KPU Sumbar. Sebelum paslon Muslim Kasim  Fauzi Bahar terbentuk, pasangan Fauzi Bahar dan Syamsu Rahim sempatkan diwacanakan. Konon pasangan ini sudah diSK-kan oleh DPP Golkar, baik versi Abu Rizal Bakrie maupun Agung Laksono.Sayangnya kontelasi politik kemudian berjalan berbeda. Kedekatan antara Muslim Kasim, Fauzi Bahar dengan Shadiq Pasadigoe akan menjadi basis arah politik dari mantan Bupati Solok tersebut. Tinggal menunggu waktu saja sebelum Syamsu Rahim menyatakan dukungannya bagi Muslim Kasim - Fauzi Bahar. 

Jika ini yang terjadi, maka basis Syamsu Rahim khususnya di  Kab. Solok, Kab. Solok Selatan, Kota Solok dan Kota Sawahlunto akan tertarik ke Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Bagaimanapun Syamsu Rahim pernah menjadi Bupati Solok, Walikota Solok dan Ketua DPRD Sawahlunto. Tentu ini akan menjadi dukungan bingbang bagi Muslim Kasim –  Fauzi Bahar.

Ingin Perubahan, Parpol di Sumbar Bergabung Menentang Kandidat PKS


Posisi Irwan Prayitno dalam pilgub Sumbar kian terjepit. Berkat tangan dingin Fadli Zon, koalisi PKS-Gerindra untuk mengusung Irwan Prayitno dalam pilgub Sumbar memang terbentuk. Sayangnya, cawagubnya, Nasrul Abit malah digugat oleh kader-kader Gerindra Sumbar. Penggugat mengklaim bahwa Nasrul Abit yang disodorkan Gerindra untuk mendampingi Irwan Prayitno difolak oleh 12 dari 19 DPC Kab/Kota Gerindra di Sumbar. Kondisi ini seolah-olah membuat Fadli Zon menjual gerbong kosong, atau mobil tak bermesin kepada Irwan Prayitno dan PKS. Kalaupun gugatan itu kandas, tetap akan meninggalkan api dalam sekam. Mesin politik Gerindra di Sumbar tidak akan sesolid ketika memenangkan Pileg 2014 dan mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam pilpres lalu.
Sekarang, parpol diluar koalisi PKS-Gerindra mewacakan head to head dalam pilgub Sumbar. Parpol penentang status quo ini kian solid membangun kerjasama untuk hanya memajukan satu pasangan kandidat untuk menjadi penantang Irwan Prayitno-Nasrul Abit. Pasangan kandidat yang digadang-gadang adalah Muslim Kasim dan Fauzi Bahar.
Wacana ini kian mengerucut sehubungan dengan mundurnya Mulyadi dari gelanggang. Tampaknya Mulyadi telah terbawa arus besar demi memperkuat wacana ini. Kandidat lain, seperti Shadiq Pasadigue dan Syamsu Rahim, kemungkinan besar juga akan berjiwa besar demi menggolkan dan memberi jalan bagi Muslim Kasim-Fauzi Bahar.
Sepanjang sejarah pilgub Sumbar, dua pasang kandidat berlaga belum pernah terjadi. Jadi wacana head to head pilgub Sumbar ini adalah simbol kecerdasan sekaligus kearifan parpol dan kandidat penantang incumbent.
Kecerdasan karena semakin banyak pasang kandidat akan memperkuat incumbent. Jika pasangan kandidat penantang tidak tunggal, maka suara-suara pemilih yang kecewa dengan kepemimpinan incumbent akan tersebar ke beberapa kandidat. Perpecahan ini memperkokoh pasangan incumbent yang strategi utamanya adalah merangkul erbahaya suara pemilih yang puas dengan kinerja pemprov. Di kalangan pemilih yang puas, pasangan incumbent tentu tidak punya saingan. .
Arif artinya bukan hanya kesepahaman perlu ada perubahan, tetapi untuk berubah perlu ada kerjasama dalam wadah yang lebih mengikat. Apalagi, untuk membangun poros bersama, pasangan penentang tunggal, artinya akan ada pengorbanan-pengorbanan tambahan. Yang dikorbankan bisa berupa posisi kader yang hendak diusung jadi cagub/cawagub, posisi di tim sukses, hingga hilangnya sebagian kekuatan financial yang bisa dihimpun oleh parpol/ pemain pilgub ini. Di sinilah titik kedewasaab parpol dan para kandidat penentang diuji, yaitu memajukan kepentingan perubahan di Sumbar ketimbang ambisi pribadi dan kepentingan parpol semata. Dan tampaknya mereka berhasil.
Tentu saja wacana ini tidak berlangsung linier. Wacana ini juga mengalami penentangan. Penentang pertama adalah para pemain politik yang menjadikan pilgub sebagai ajang mengumpulkan pundi-pundi. Semakin sedikit pasangan, tentu semakin kecil pula peluang mereka untuk mengkooptasi sumberdaya politik para kandidat. Kedua, pasukan senyap incumbent, sebagai upaya agar pemilih yang kecewa tidak terpolarisasi ke satu titik.
Kedua kalangan ini yang terus menerus mengipas-kipas para kandidat penentang. Mereka memainkan hasil survei, menyerang kandidat secara personal, sampai jual deklarasi dukungan politik. Harapanny, tentu saja, kandidat penentang yang dijagokan melihat dirinya sebagai sosok yang paling tepat, paling diinginkan rakyat dan paling mungkin memenangkan pertarungan. Bahwa "Bapak jauh lebih hebat ketimbang si anu, jadi jangan mau disutuh mundur" demikian kira-kira kipas-kipas mereka. Dua kalangan ini yang perlu diwaspadai.
Dengan terpolarisasinya pemilih puas dan pemlih kecewa, potensi penantang untuk mengalahkan pasangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit akan semskin besar. Apalagi ditambah dengan ketidaksolidan mesin politik Gerindra Sumbar, paska Fadli Zon memaksakan Nasrul Abit yang tidak direkomendasikan pansel Gerindra Sumbar.. Mengingat hampir mustahil mengubah rekomendasi DPP Gerindra tersebut, maka pelecehan Fadli Zon akan ditangkapin dengan perlawanan diam. Mulutnya tidak menentang, tetapi kaki dan tangannya diam saja, tidak mau berkeringat demi menenangkan Irwan Prayitnon-Nasrul Abit, atau yang paling parah, kader-kader Gerindra ini akan loncat pagar, Mereka tidak ganti seragam, tetapi mendukung kandidat yang lain.

Senin, 25 Mei 2015

Muslim Kasim : Politik Itu Ibadah


Cara berpolitik di Minangkabau berpolitik santun. Kalaupun ada cabik, cabiknya juga cabik-cabik bulu ayam, juga cabik-cabik berdunsanak, ujungnya akan saling bermaafan dan berangkulan dalam kasaiyoan.
Bila mana massa kita pukau dengan berbagai ragam pencitraan dalam niat yang hanya sekadar pencitraan, lalu karena pencitraan yang sistematis dan masif itu tadi mampu memikat masyarakat sehingga menghantarkan kita pada tahta kekuasaan dan kemudian tak mampu menjalankan amanah tersebut, maka siaplah untuk sebuah pertanggungjawaban akhirat dari mahkamah Yang Maha Kuasa.
Politik pencitraan sangat menguntungkan dan melapangkan jalan untuk meraih kekuasaan tapi sangat kelat dalam kenyataan. Tidak masanya kita melemparkan mimpi muluk atau mimpi manis pada masyarakat sendiri. Masa kini adalah masa di mana kita memberi dan memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat, bukan apa yang kita inginkan. Masyarakat harus kita cerdaskan dan kita jauhkan dari bujukan-bujukan pencitraan belaka.
Membuai masyarakat dengan pencitraan, lalu mengharapkan dukungan masyarakat kemudian ketika apa yang dikehendaki tercapai, mereka dilupakan adalah sebuah sikap dzalim yang dimurkai Allah. Orang bijak tak akan pernah “menokok”. Apa yang sudah ia lakukan, apa yang akan ia lakukan, atau apa yang seolah-olah ia lakukan, kemudian diumbar-umbar kembali untuk meminta balasan, bukan sikap yang baik.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang melupakan segala kebaikannya kepada rakyat namun rakyat tak pernah melupakan kebaikan pemimpinnya sepanjang masa. Ia melegenda di ruang pikiran massa yang dicatat oleh masa dengan tinta emas kepemimpinannya. Ia menjadi seorang legend yang dikenang.
Rakyat pantas mengungkapkan kebaikan dan keburukan pemimpin; karena mereka yang langsung merasakan nikmat dari kebijakan pemimpin. Namun, jika pepimpin mengungkapkan kebaikannya sendiri di hadapan rakyat, maka hal itu cendrung bermuatan pencitraan dan “menokok” segala perbuatannya pada rakyat. Menokok atau menuntut balas atas segala perbuatan baik yang kita lakukan adalah sebuah pertanda ketakikhlasan.
Kasihan rakyat, bila terlalu sering dibujuk dan dirayu untuk sebuah tahta dunia diri. Kasihan rakyat bila terlalu sering dipertontonkan berbagai ‘ gambar’ kebohongan.
Politik itu untuk dunia, politik itu untuk akhirat!
Politik itu amal ibadah yang baik. Mana bisa kita berharap melakukan bebagai kebaikan ke depan bila diawali dengan cara-cara yang tidak baik. Sesuatu yang diawali atau sesuatu yang diperoleh dengan cara yang buruk, dengan cara yang menyakiti, niscaya akan berujung bala petaka. Kekuasaan itu penting dan perlu.
Tanpa adanya kekuasaan, kekuatan kebenaran tidak akan pernah mencapai titik optimal. Optimalisasi kebenaran itu berada pada “kekuasaan”. Panggung politik, pentas politik, arena politik, adalah jembatan untuk menghantarkan kita pada cita-cita bersama; yakni meraih kekuasaan untuk jihad kebenaran. Tapi, kunci “kebenaran” itu adalah bagaimana cara kita “berjalan” meniti jembatan hingga sampai ke seberang, apakah dilakukan dengan cara yang benar pula?
Apakah dalam perjalanan itu, kita melakukan penungkaian, penyikutan, mencaci maki, menghujat, memfitnah, sehingga para pejalan-pejalan lain terhenti di depan jembatan, sehingga kita sampai sendiri berkat melakukan berbagai cara yang curang, penuh penistaan dan terkekeh-kekeh puas menyaksikan kejatuhan “orang lain”.
Niscaya, kekuasaan yang diperoleh dengan cara tidak baik, tak akan pernah diridhoi Tuhan. Yakinlah. Ia akan menjadi pemimpin yang curang, sahabatnya adalah kekeliruan-kekeliruan. Ia tak akan pernah menjadi pemimpin umat, kecuali ia hanya akan menjadi pemimpin bagi golongannya sendiri. Golongan yang mendukung kecurang-kecurangan yang menghalalkan berbagai cara; cara apa saja, yang penting kekuasaan dalam genggaman.
Hal demikian bukanlah cara berpolitik yang islami. Untuak syiar kebaikan, cara berpolitik kita adalah berpolitik santun,cerdas, dan sejuk di hati orang banyak. Aura-aura berpolitik kita adalah “menyaru” aura positif.Bukan negatif. Tak akan pernah sesuatu yang dimulai dengan negatif akan bermuara pada sesuatu yang positif.
Politik Minangkabau
Kita orang Minangkabau adalah orang yang mengarifi alam. Bagi kita, alam takambang menjadi guru. Ia cermin atas kekuasaan dan kekuatan Allah SWT. Amatilah alam, maka cinta dan kagummu pada Tuhan akan semakin tinggi dan tebal. Mengamati keindahan alam adalah salah satu cara meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan.
Ketika orang minang menyepakati “alam takambang menjadi guru” membuat nagari ini menjadi negeri yang berselimut aura positif yang melahirkan kalimat “lawik sati rantau batuah”. 
Alam takambang jadi guru, lawik sati rantau batuah, saciok bak ayam sadanciang bak basi, indak adoh kusuik nan indak salasai, tasilang di sangketo-rundiang tampek baiyo-iyo, batuah saiyo dek sakato basipakaik dalam adaik basandi sayarak-syarak basandi Kitabullah adalah karakteristik alam yang mempengaruhi karakteristik Minangkabau nan tacinto.
Makanya, apapun jenis dan “persaingan dan bentuk pertandingan” di Minangkabau adalah persaingan yang berasaskan rasa berdunsanak bukan rasa “sakit hati” dan “dendam” kesumat yang menghancurkan. Bukan begitu. Sesama Muslim kita adalah bersaudara. Berat untuk menyakiti hati sesama muslim. Kalau pun ada di antara kita, sesama muslim yang kita rasa “khilaf” atau lupa, kewajiban bagi kita untuk mengingatkannya.
Islam dan Minangkabau, sulit dipisahkan. Tidak diakui seseorang sebagai orang Minang, kalau dia bukan seorang Muslim. Kalau dia murtad, dia dibuang sepanjang adat, begitulah komitmet Perjanjian Marapalam atas konsekwensi  Adaik Basandi Syarak-syarak Basandi Kitabullah!”. Cara berpolitik di Minangkabau berpolitik santun.
Kalaupun ada cabik, cabiknya juga cabik-cabik bulu ayam, juga cabik-cabik berdunsanak, ujungnya akan saling bermaafan dan berangkulan dalam kasaiyoan. Urang Minang tabu melakukan cara politik mambalah buluah. Ciek dipijak, nan ciek diangkek. Saya kecewa. Sangat kecewa. Ketika ada trend politik perbandingan yang melukai saudara sendiri.
Itu jauh dari cara-cara orang Islam dan orang Minang berpolitik. Seakan-akan ada upaya, yang diawak rancak, nan di urang buruk. Gaya berpolitik belah bambu, atau politik memudurkan lampu orang untuk memperterang lampu sendiri adalah gaya politik yang sangat tidak “islamis” dan sangat tidak “Minangkabauisme”. Itu melukai hati orang lain.
Kalau akan berupaya melakukan apapun bentuk pencitraan selalulah berpegang teguh pada “ tarangkan sajo lampu awak-lampu urang jan dimatikan atau jan dipudurkan!”. Orang Minangkabau adalah orang pintar, orang cerdik, orang hebat. Namun, pintarnya kita jangan pintar melukai. Cerdiknya kita jangan cerdik membohongi. Hebatnya kita, jangan hebat mempermalukan atau menhina atau memfitnah dunsanak surang.
Ketika kita apungkan sesuatu yang memberi luka, sesuatu yang beraroma fitnah, hasutan, dan lain-lain yang buruk, itu akan memicu munculnya aura negatif. Kalau aura negatif dilawan dengan aura negatif pula, yang akan lahir adalah kegaduhan yang berkerat rotan. Mencari, memunculkan, meniupkan, menghasut, menciptakan, menghimpun opini negatif, itu sangat sepele. Kalau bagi saya, itu sampah dan debu.
Sekali tiup, debu di atas tunggul itu lenyap dan berderai di udara. Dengan kasih sayang, dan atas izin Allah, debu itu lenyap dan terbakar bersama setan-setannya. Yakinilah. (*)
Muslim Kasim - Wakil Gubernur Sumatera Barat

Minggu, 24 Mei 2015

Muslim Kasim Bicara ”Second Man, Kewenangan Saya Terbatas”


Dari sekian banyak figur yang berpeluang maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar 2015, boleh dibilang Muslim Kasim paling sepuh. Kini, pria yang menjadi wakil gubernur Sumbar itu sudah berusia 73 tahun.

Lantas, apa motivasi bupati Padangpariaman dua periode ini maju dalam Pilgub Sumbar mendatang? Berikut wawancara wartawan Padang Ekspres Rommi Delfiano dan Revdi Iwan Syahputra  dengan Muslim Kasim di Padang, Sabtu (21/2).

Anda sudah sepuh, kenapa masih berkeinginan maju dalam Pilgub Sumbar mendatang?
Saya merasa masih berutang kepada masyarakat Sumbar. Sewaktu saya memutuskan maju dalam Pilgub Sumbar  2010 lalu, saya sudah berjanji menjadikan Sumbar sebagai provinsi yang lebih beradat dan beragama guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Terutama, mengimplementasikan secara utuh falsafah Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Syarak Mangato, Adat Mamakai.
Hingga kini belum sepenuhnya terealisasi. Peranan penghulu, ninik mamak, termasuk LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) belum terasa di nagari-nagari. 
Padahal, bila elemen-elemen bernagari ini bisa berperan secara utuh, jelas bisa mengatasi kerusakan moral yang sekarang ini makin mengkhawatirkan. Apakah kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas dan lainnya. Intinya, cita-cita menjadikan nagari otonomi bisa diwujudkan.
Ya, salah satu caranya melalui pembinaan dan melegalkan lembaga-lembaga adat ini. 
Bisa saja dengan membentuk biro/badan penguatan ABS-SBK atau lainnya. Bila sudah begitu, nantinya bisa pula dialokasikan anggaran. Tidak seperti sekarang, nyaris tak tersentuh anggaran.

Anda kan sudah menjadi Wagub, kenapa semua itu tak bisa Anda wujudkan? 
Saya kan second man (orang kedua), kewenangan terbatas. Kendati sejak awal kita sudah membuat perjanjian tertulis soal pembagian kewenangan, realisasinya sulit diwujudkan.
Paling tidak, waktu itu saya diberi kewenangan mengelola Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya, dan beberapa institusi lainnya, termasuk dalam hal pengawasan.
Namun setiap pejabat eselon (kepala dinas/badan/biro), tetap saja berorientasi kepada gubernur. Bahkan, ada pressure group (kelompok penekan) yang sengaja membatasi hubungan antara gubernur dan wagub (Muslim Kasim tidak menyebut siapa kelompok penekan tersebut).
Pihak-pihak yang seharusnya bisa menjadi penengah, saya pikir juga tak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Ya, seperti itulah. Saya tidak bisa maksimal menjalankannya. Makanya, visi saya sulit terealisasi.

Anda menyesal jadi Wagub?
Jujur, tak pernah terlintas dalam pikiran saya kata-kata menyesal. Saya tetap bersyukur terhadap situasi apa pun yang saya hadapi lebih kurang 4,5 tahun terakhir. Dengan begitu, saya pun bisa lebih dekat dengan masyarakat. 

Di usia Anda sekarang 73 tahun, apakah Anda masih yakin bisa memimpin Sumbar?
Insya Allah, saya yakin masih bisa memimpin Sumbar 5-10 tahun ke depan. Insya Allah pula, semuanya baik-baik saja. Bila masyarakat memberi amanah, saya siap menjalankan tupoksi sebagai gubernur. Rumah saya akan terbuka 24 jam menerima siapa saja yang membutuhkan.
Ini sudah saya buktikan ketika memimpin Padangpariaman dua periode lalu. Selama saya memimpin, siapa pun yang datang ke rumah saya, pastilah saya layani.
Saya pun bisa menjaga harmonisasi antara lembaga legislatif dengan eksekutif. Selama saya memimpin Padangpariaman, kedua lembaga ini kompak melahirkan ide-ide besar untuk kemajuan daerah.
Berkat kesepakatan bersama, ibu kota Padangpariaman kita pindahkan ke luar Kota Pariaman. Termasuk, menjalin harmonisasi antara ranah dan rantau. 

Lantas, bagaimana pendekatan dengan parpol?
Ini menjadi pemikiran saya dan tim nantinya. Selaku ketua Dewan Pertimbangan Partai DPD I Partai Golkar Sumbar, saya berharap bisa berangkat dengan Partai Golkar. Saya juga sudah melakukan pendekatan dengan pimpinan parpol lainnya baik di daerah maupun di pusat. Saya mendaftar ke NasDem, PAN, Hanura.
Insya Allah, saya juga akan mendaftar ke parpol lain. Karena bagaimanapun, untuk membangun Sumbar butuh kerja sama dan dukungan seluruh elemen.

Dari figur yang ada, siapa rival terberat menurut Anda? 
Ya, semuanya lah. Semua memiliki plus minus. Terpenting sekarang, kita berusaha dan bekerja keras. Hasilnya, ya kita serahkan kepada yang di atas. Ingat, sebetul yang di atas sudah menggariskan siapa gubernur Sumbar lima tahun ke depan.
Sebetulnya, saya bersama Shadiq Pasadigoe (bupati Tanahdatar) dan Syamsu Rahim (bupati Solok) sudah melakukan pendekatan guna menyiasati revisi UU Pilkada.
Awalnya, kemungkinan wakil gubernur Sumbar itu dua orang dan ditunjuk oleh gubernur terpilih. Namun, setelah revisi UU itu disahkan, ternyata ketentuan batal.
Jadi, sekarang perlu dibicarakan lagi bagaimana bagusnya dengan beliau itu (Shadiq dan Syamsu Rahim, red). Saya akan membicarakannya dalam waktu dekat. Mudah-mudahan tercapai kesepakatan. Saya akan terima apa pun hasilnya.

Bagaimana dengan kesediaan ‘amunisi’ Anda?
Untuk satu ini jelaslah penting. Namun berapa nominalnya, nantilah kita sampaikan. Intinya, tergantung bagaimana situasinya nanti. Saya pun yakin calon-calon yang ada tidak ditopang pendanaan yang kuat. Ya, sama-sama berjuanglah kita nanti.  

Tawaran Anda bagi Sumbar ke depan?
Pertama, tentu untuk menghidupkan nagari-nagari. Caranya, menghidupkan kembali peranan lembaga-lembaga adat. Ini selaras dengan UU Desa.
Kedua, melibatkan perguruan tinggi di Sumbar dalam merancang, menyusun, menjalankan, mengawasi dan mengevaluasi program-program pemerintah. Sekolah-sekolah pun harus bisa menyiapkan lulusannya, sehingga output pendidikan benar-benar terpakai di dunia kerja. (*)