AWAK BADUNSANAK, NDAN!!!

IKPS Bulat Dukung MK-Fauzi

Masyarakat Pesisir Selatan Siap menyatukan dukungan untuk pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

Dorong UNP Lahirkan Pemimpin Mumpuni

Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), bersama alumni UNP, Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Syamsu Rahim Dukung MK-Fauzi

Bukan hanya mendukung, tetapi Syamsu Rahim juga menerima amanat sebagai Ketua Tim Sukses Muslim Kasim - Fauzi Bahar.

Shadiq Pasadigoe Dukung MK-Fauzi

SP : Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana membangun Sumbar lebih baik, membenahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat.

Silaturahmi dengan Tokoh dan Perantau Minang

Muslim Kasim dan Fauzi Bahar Bersama tokoh dan perantau minang : Is Anwar, Azwar Anas, Fasli Djalal, Fahmi Idris dan Mulyadi.

Tampilkan postingan dengan label Shadiq Pasadigoe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shadiq Pasadigoe. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2015

BINGBANG Untuk Muslim Kasim - Fauzi Bahar


Bagi beberapa kalangan, pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar barangkali tidak terprediksi. Pasalnya, jauh sebelum Pemilu Gubernur (pilgub) Sumbar, Muslim Kasim lebih dekat dengan Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim. Konon, jika UU Pilkada tidak direvisi, sudah ada skenario untuk menjadikan Muslim sebagai Gubernur, sementara Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim masing-masing menjadi Wakil Gubernur.
Kisah “perjodohan”  Muslim Kasim – Fauzi Bahar banyak dimotori oleh Basrizal Koto (Basko) dengan melempar wacana di Harian Haluan. Namun jauh-jauh hari, sebenarnya kalangan alumni muda Universitas Negeri Padang (UNP) sudah bermanuver untuk menjodohkan, alumni Pasca Sarjana UNP dan ketua Iluni UNP ini.
Kalau dalam sepakbola, kesebelasan  Muslim Kasim – Fauzi Bahar  adalah kesebelasan pemain bintang. Pemain bintang pertama adalah mesin politik parpol. Kecuali PKS dan Gerindra, semua parpol pemilik kursi DPRD Sumbar mendukung  Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Parpol-parpol pendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar adalah PAN, NASDEM, HANURA, PDIP, GOLKAR, PPP, DEMOKRAT, PKB. Bisa dibayangkan mesin politik parpol yang berada di belakang Muslim Kasim – Fauzi Bahar.
Kedua, Muslim Kasim – Fauzi Bahar  didukung oleh para tokoh  Minangkabau.  Kalangan pertama, adalah mantan kompetitor mereka, yaitu Mulyadi, Epyardi Asda, Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim. Betty Shadiq, istri Shadiq Pasadigoe, anggota DPR RI bersama para relawannya siap terjun untuk memenangkan  Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Syamsu Rahim bahkan menjadi ketua Tim Sukses Muslim Kasim – Fauzi Bahar.
Dukungan selanjutnya dari para sesepuh minang, sebut saja Azwar Anas, Is Anwar, Fasli Djalal dan Fahmi Idris. Kehadiran mereka seolah menjawab permohonan dari para anak kemenakan agar para sesepuh Minang ini mau turun gunung untuk mendorong perubahan di Sumatera Barat. Belum lagi dukungan Indra Jaya Piliang yang mengkonsolidasi pemuda-pemuda minang intelektual yang mahir bersosmed-ria baik di ranah maupun di rantau.
Dukungan tokoh-tokoh, yang mayoritas merupakan sosok-sosk pemuncak di kawasan darek,  sontak menghapus isu calon pasisia. Isu ini merupakan strategi B pasangan incumbent, setelah strategi  A yaitu banyak pasangan agar cerai-berainya suara pemilih yang kecewa terhadap Irwan Prayitno, gagal dilaksanakan.
Ketiga, dukungan yang sifatnya primordial. Dukungan ini tergolong menarik. Lazim saja kalau Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) mendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Tapi kalau Ikatan Keluarga Pesisir Selatan (IKPS) kemudian mendukung Muslim Kasim – Fauzi Bahar tentu luar biasa. Pasalnya, Nasrul Abit, cawagubnya Irwan Prayitno, boleh disebut sebagai representasi dari Pesisir Selatan.
Ini juga mengingatkan saya pada DPC Gerindra Pesisir Selatan yang sebelumnya menolak Nasrul Abit sebagai cawagub-nya Gerindra Sumbar. Penolakan ini bahkan sampai ke ranah hukum.  Ada apa? Mengapa urang sekampuang Nasrum Abit justru menolak Bupati pesisir Selatan tersebut? Jika di kampuang  sendiri Nasrul Abit tidak didukung, bagaimana dengan pemilih di luar kampungnya?
Keempat, dukungan gerbong UNP. Pelopornya adalah alumni-alumni muda, di luar struktural kampus, yang berkutat di organisasi mahasiswa. Umur yang tidak terpaut jauh dan ikatan organisatoris ormawa ini menjadi tali perekat gerakan mereka. Bagi mereka  Pilgub Sumbar kali ini merupakan wahana untuk menyatukan barisan.
Dahulu, pada Pilgub 2010, gerbong UNP terpecah karena Muslim Kasim dan Fauzi Bahar maju sendiri-sendiri. Tetapi kali ini, dengan berkongsinya Muslim Kasim dan Fauzi Bahar menjadi kesempatan emas bagi para alumni muda UNP ini untuk menata barisan. Apalagi, duet Muslim Kasim dan Fauzi Bahar juga tidak bisa dilepaskan dari dorongan para alumni muda ini, baik yang dititipkan melalui para mahasiswa yang bersimpati dengan gerbong UNP, alumni UNP di parpol, sampai dorongan informal ketika Muslim Kasim – Fauzi Bahar bertemu dalam kegiatan-kegiatan resmi kampus.
Konon moment pulang kampuang lalu, di Kota Padang telah terjadi pertemuan antara alumni muda UNP baik yang bergerak di rantau maupun di ranah untuk berpadu memenangkan Muslim Kasim-Fauzi Bahar. Posko-posko pemenangan aktivis berlatar belakang kampus ini akan segera didirikan di berbagai kabupaten/ kota di Sumatera Barat.

Pekerjaan besar Syamsu Rahim selaku ketua tim pemenangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar  adalah mengkonsolidasikan semua mesin politik tersebut. Dengan manajemen kampanye yang apik, mesin-mesin politik ini akan mendorong  sebuah “bingbang” – ledakan besar, bagi pemenangang Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Selamat bekerja!

Senin, 03 Agustus 2015

SHADIQ PASADIGOE DUKUNG MUSLIM KASIM –FAUZI BAHAR, SYAMSU RAHIM MENYUSUL?

Sekali sahabat, tetap sahabat. Sempat bersitegang dalam memperebutkan  tiket Pilgub Sumbar, tidak membuat persahabatan Muslim Kasim dan Shadiq Pasadigoe meluntur. Konsolidasi politik yang mengantarkan Muslim Kasim – Fauzi Bahar sebagai pasangan  cagub-cawagub Sumatera Barat menantang pasangan Irwan Prayitno – Nasrul Abit, disambut  Shadiq Pasadigoe dengan suka cita. Bahkan Bupati Tanah Datar dua periode tersebut berikrar untuk mendukung  Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

“Saya lebih suka melihat ke depan. Bagaimana mem­ba­ngun Sumbar lebih baik, mem­benahi kesejahteraan masyarakat dan memajukan nagari. Saya dan keluarga mendukung Pak Muslim dan Pak Fauzi untuk kemajuan Sumatera Barat,” kata Shadiq kepada Muslim Kasim –  Fauzi Bahar  yang berkunjung ke kediamannya.

Shadiq menyarankan agar Muslim Kasim –  Fauzi Bahar dapat merangkul semua pihak dalam menghadapi Pilkada 2015. Selain itu, Shadiq juga akan me­minta para relawannya untuk terjun mendukung pasangan Muslim Kasim –  Fauzi Bahar.

”Istri saya Betti Shadiq Pasadigoe akan turun langsung membantu pemenangan Pak Muslim dan Pak Fauzi, tentu bersama relawan saya di lapa­ngan. Mari jalin keber­sa­ma­an, ba­samo mang­ko man­jadi,” tegas Shadiq. 

Pertanyaannya sekarang, kemanakah Syamsu Rahim merapat? Kemungkinan Bupati Solok ini akan mendukung pasangan Muslim Kasim - Fauzi Bahar. Potensi ini terlihat dari komunikasi Muslim Kasim dan Syamsu Rahim yang dibangun jauh-jauh hari.

Muslim Kasim, Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim sudah melakukan pendekatan guna menyiasati revisi UU Pilkada. Ketika itu ada potensi Sumbar memiliki dua wakil gubernur. Maka disepakatilah Muslim Kasim sebagai gubernur, sementara Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim masing-masing menjadi wakil gubernur.

Kedekatan Syamsu Rahim dan Fauzi Bahar juga tampak menjelang detik-detik pendaftaran paslon ke KPU Sumbar. Sebelum paslon Muslim Kasim  Fauzi Bahar terbentuk, pasangan Fauzi Bahar dan Syamsu Rahim sempatkan diwacanakan. Konon pasangan ini sudah diSK-kan oleh DPP Golkar, baik versi Abu Rizal Bakrie maupun Agung Laksono.Sayangnya kontelasi politik kemudian berjalan berbeda. Kedekatan antara Muslim Kasim, Fauzi Bahar dengan Shadiq Pasadigoe akan menjadi basis arah politik dari mantan Bupati Solok tersebut. Tinggal menunggu waktu saja sebelum Syamsu Rahim menyatakan dukungannya bagi Muslim Kasim - Fauzi Bahar. 

Jika ini yang terjadi, maka basis Syamsu Rahim khususnya di  Kab. Solok, Kab. Solok Selatan, Kota Solok dan Kota Sawahlunto akan tertarik ke Muslim Kasim – Fauzi Bahar. Bagaimanapun Syamsu Rahim pernah menjadi Bupati Solok, Walikota Solok dan Ketua DPRD Sawahlunto. Tentu ini akan menjadi dukungan bingbang bagi Muslim Kasim –  Fauzi Bahar.

Sabtu, 30 Mei 2015

Shadiq Pasadigoe "Siap Ulangi Sejarah Kalahkan Incumbent"


Dinilai sukses memimpin Tanahdatar selama dua periode, Bupati Tanahdatar Shadiq Pasadigoe digadang-gadang berpeluang mengalahkan incumbent pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar mendatang.
Bahkan, salah satu lembaga survei sempat menempatkannya sebagai salah satu calon yang memiliki elektabilitas tertinggi. Berikut bincang-bincang wartawan Padang Ekspres Hijrah Adi Sukrial dengan Shadiq Pasadigoe, kemarin (17/2).

Anda disebut-sebut penantang terkuat incumbent dalam Pilgub Sumbar mendatang, apa betul begitu? 
Saya menyambutnya dengan ucapan Alhamdulillah, dan kita tentu berterima kasih kepada masyarakat yang menyebut-nyebut tadi.
Yang jelas, tentu mereka mempunyai harapan kepada saya untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi sesuai amanah yang saya terima dari Allah SWT dan kepercayaan masyarakat. 

Sebetulnya, apa modal Anda maju sebagai Cagub Sumbar?
Saya dilahirkan, dibesarkan dan dididik di dalam keluarga yang taat beragama. Orangtua saya seorang pejuang perintis kemerdekaan (eks-buangan Boven Digoel), kemudian saya telah menyelesaikan pendidikan S-1 dua bidang (bidang hukum dan peternakan), serta satu S-2 (bidang sumber daya manusia), dan saya juga seorang pegawai negeri sipil yang pernah bertugas hampir 20 tahun di Provinsi Sumbar yang akan pensiun tahun 2020. 
Kemudian, sebelum menjadi bupati di Tanahdatar, saya sudah banyak terlibat di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, olahraga dan pemuda di tingkat provinsi.
Setelah itu, saya dipercaya menjadi bupati Tanahdatar dua periode: 2005-2010 dan 2010-2015. Lalu, pengalaman sebagai Sekjen Asosiasi Bupati Seluruh Indonesia, dan yang sangat penting adalah pengalaman dalam memimpin kabupaten yang topografinya sulit.
Sekitar 70 persen penduduk Tanahdatar hidup bertani. Pertanian masih dikelola dengan cara sederhana dan sulit dikembangkan menjadi pertanian modern. Alhamdulillah, dari 12 kabupaten di Sumbar, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tata kelola pemerintahan Tanahdatar paling terbaik.
Termasuk opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK tahun 2013 yang murni dalam bidang pengelolaan keuangan. Tentu, itulah hal-hal yang menjadi modal bagi saya ikut berkompetisi dalam pemilihan gubernur Sumbar periode 2015-2020.
Insya Allah, niat lurus untuk tidak melakukan hal-hal yang tercela sebagai seorang pemimpin.

Selama ini Anda dikenal sebagai salah seorang kader Golkar, tapi kenapa Anda mendaftar ke partai lain?
Saya mendaftar ke partai selain Golkar, adalah proses yang harus dilalui oleh seorang bakal calon menjadi calon gubernur Sumbar tahun 2015-2020. Sebab, bagaimanapun dukungan dari semua pihak untuk memajukan Sumbar terhadap gubernur yang terpilih adalah suatu hal yang sangat diperlukan.

Jika Anda akhirnya ditetapkan sebagai cagub Sumbar, siapa kira-kira cawagub Anda?
Saya akan memilih orang yang akan mampu bekerja keras dan paham kondisi Sumbar, dan apa yang dimaui oleh masyarakat di ranah maupun di rantau. Soal nama, kurang etis rasanya kalau saya ungkapkan. Sebab, siapa yang akan menjadi wakil tersebut tidak terlepas dari hasil musyawarah dengan partai pengusung.

Menurut Anda, siapa rival Anda dalam pilgub nanti?
Di dalam berjuang  dan berkompetisi, kita tidak boleh menganggap ada lawan yang berat. Tapi, kita tidak boleh takabur dalam perjuangan, dan berserah diri kepada Allah SWT. Jika kita yang terbaik, mudah-mudahan perjuangan itu dikabulkan Allah SWT dan berhasil.

Anda sudah menyiapkan modal dalam pilgub nanti? 
Sebenarnya ini kegamangan saya. Tapi, saya sudah pernah menjalani hal seperti ini saat saya akan maju menjadi calon bupati Tanahdatar tahun 2005 lalu.
Saat itu, saya mengalahkan incumbent dan saya haqqul yaqin kalau saya dikehendaki memimpin Sumbar tahun 2015-2020, pertolongan Allah SWT itu akan datang dengan sendirinya.
Dulu di Tanahdatar tahun 2005, ada masyarakat yang mengumpulkan beras segenggam dari rumah ke rumah lalu beras itu dijualnya. Hasil penjualan beras tersebut dibelikan ke kain dan cat untuk membuat spanduk untuk memilih saya dengan pasangan bapak Aulizul Syuib.

Apakah Anda sudah berkomunikasi dengan parpol di pusat?
Mana yang dapat saya lakukan, sudah saya lakukan. Kemudian soal kemungkinan saya akan diusung oleh partai tertentu, tentu mereka sekarang sedang menimang-nimang juga siapa yang akan diusungnya.
Kita berharap dan berdoa mudah-mudahan pertimbangan utama partai politik mengusung calon adalah semata kepentingan Sumbar ke depan yang lebih baik.

Selama memimpin Tanahdatar dua periode, apa saja prestasi Anda? 
Sebetulnya kurang etis kalau saya yang menceritakan prestasi saya, biarlah orang lain atau masyarakat yang menilainya. Tapi kalau ditanyakan apa yang bisa saya banggakan, saya akan jawab.
Pertama, empat tahun berturut-turut Tanahdatar kabupaten paling banyak lulusan SLTA masuk perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia. Dari yang lulus tersebut, 35 persen dari keluarga miskin.
Tidak ada seorang pun lulusan tersebut yang  tidak kuliah karena ketiadaan uang. Mereka dibantu APBD, BAZ, Bank Nagari dan perantau. Kedua, boleh dikatakan 99 persen permasalahan yang menyangkut kesehatan masyarakat dapat tertangani dengan baik, khususnya bagi keluarga miskin.
Ketiga, infrastruktur jalan dari 395 jorong yang tidak bisa ditempuh dengan mobil, kini lebih kurang 95 persen sudah diaspal, begitu juga irigasi. Keempat, pelebaran jalan Batusangkar-Ombilin, pembangunan irigasi Batang Sinamar, pembangunan Istana Basa Pagaruyung dan penanganan gempa tahun 2007. 

Apa saja menurut Anda keunggulan Sumbar yang selama ini belum dikelola dengan maksimal?
Adalah bidang pendidikan, kebudayaan dan pariwisata, perekonomian, sumber daya alam, serta kelautan. Potensi itu dapat dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumbar. (*)

Jumat, 15 Mei 2015

TIGA "PANDEKA" PENANTANG IRWAN PRAYITNO




Dalam politik ada istilah “bunuh sebelum berkembang”.  Artinya sebelum kekuatan politik pesaing itu semakin kuat, maka bunuhlah dia. Dalam konteks Pilkada Sumbar, strategi ini yang sedang berlansung, yang ujung-ujungnya adalah memperkuat posisi Irwan Prayitno sebagai petahana.

Berdasarkan pengamatan suara masyarakat -di sosial media, survei politik, sampai obrolan-obrolan warung kopi, kompetitor  Irwan Prayitno sejatinya hanya tiga orang. Mereka adalah para pandeka politik Sumbar: Muslim Kasim, Shadiq Pasadique, dan Fauzi Bahar. Ketiga nama ini selalu mengekor peluang Irwan Prayitno untuk “makan bertambuah” sebagai Gubernur Sumbar.

Keunggulan Tiga Pandeka
Sebagai Wakil Gubernur Sumbar, mantan Bupati Padang Pariaman dua periode, mantan birokrat, rencana politisi senior berumur kepala 7, Muslim Kasim, untuk maju sebagai Cagub dalam Pilkada Sumbar mendatang, jelas mengusik peluang Irwan Prayitno. Konon kunci kemenangan Irwan Prayitno di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman dan Kota Padang adalah akibat solidnya warga Piaman yang mendukung Muslim Kasim. Jangan pula dilupakan kekuatan media massa.  Harian Haluan adalah milik Basrizal Koto, besannya Muslim Kasim.

Selanjutnya Fauzi Bahar. Mantan walikota Padang 2 periode terus membayang-bayangi langkah Irwan Prayitno. Pengalaman pilgub Sumbar 2010 di mana Fauzi Bahar –Yohannes Dahlan berhasil meraup 324.123 pemilih membuat Fauzi Bahar tidak bisa dianggap enteng. Fauzi Bahar memang harus berbagi basis dengan Irwan Prayitno di Kota Padang, tetapi dengan lepasnya dukungan warga Piaman dari Irwan Prayitno karena ditarik Muslim Kasim, membuat posisi Fauzi Bahar akan semakin kuat di Kota Padang. 

Gerakan sosialisasi Fauzi Bahar pun terus berbuah. Elektabilitas Fauzi Bahar memang di bawah Irwan Prayitno, tetapi  perkembangan elektabilitas Fauzi Bahar kian positif.  Jika dilihat trend surveinya, harus diakui, Fauzi Bahar elektabilitasnya terus naik. Sementara, calon lain cenderung stagnan.

Apalagi kasak-kusuk #gerbongUNP yang dihembus-hembuskan alumni muda dan aktivitas mahasiswanya untuk mendukung Fauzi Bahar, sang ketua iluni Universitas Negeri Padang (UNP). Saat ini jumlah mahasiswa UNP adalah yang terbesar di Sumbar, 35.000 orang, berikut civitas akademika dan alumninya, jika solid tentu ini akan jdi kekuatan dukungan yang besar.

Bupati Tanah Datar Shadiq Pasadique demikian pula.  Meskipun elektabilitasnya masih di bawah Irwan Prayitno, tetapi tingkat penerimaan masyarakat Shadiq Pasadique adalah yang paling tinggi dibanding kandidat lainnya. Jika konsepnya adalah dikenal, disukai dan dipilih – maka strategi tim sukses Shadiq Pasadique boleh dibilang tinggal selangkah lagi. Sebagai Bupati Tanah Datar, Shadiq Pasadique memiliki mesin politik dari berbagai kalangan yang sangat kuat di Tanah Datar.

Ini bisa dilihat ketika Shadiq Pasadique memajukan sang istri, Betti Shadiq Pasadigoe, sebagai caleg DPR RI dalam Pileg lalu. Betti berhasil meraup sebanyak 77.663 suara pada Dapil Sumbar I, di mana masyarakat tanah datar menyumbang 58.919 suara. Ini artinya 21,5% dari total 274.103 pemilih yang terdaftar dalam DPT+DAK Kabupaten Tanah Datar ada memilih Betti.  Padahal, setelah Golkar, runner up di Kabupaten Tanah Datar untuk caleg DPR RI adalah PPP dengan total suara parpol + seluruh calegnya berjumlah  14.890 suara. Pertanyaannya berapa suara yang bisa diraup, jika sang suami yang maju?

Bongkar Pasang Paslon
Yang paling hot, adalah gerakan untuk “menjodoh-jodohkan” Muslim Kasim, Shadiq Pasadique dan Fauzi Bahar. Karena Muslim Kasim sudah bertegas-tegas tidak akan berlaga jika pada posisi cawagub, maka pilihan yang ada adalah 1) Muslim Kasim-Shadiq Pasadique; 2) Muslim Kasim-Fauzi Bahar; 3) Shadiq Pasadique-Fauzi Bahar, 4) Shadiq Pasadique-Fauzi Bahar. 

Model Muslim Kasim-Shadiq Pasadique sebenarnya sudah diapung-apungkan jauh-jauh hari. Ketiga Pilkada masih didasarkan pada Perppu di mana Sumatera Barat bisa memiliki dua wagub, sudah ada pembicaraan ke sana. Muslim Kasim sebagai Gubernur, dan wagubnya adalah Shadiq Pasadique dan Samsu Rahim.  Tetapi seiring dengan perkembangan dinamika politik, seperti Shadiq Pasadique masih menimbang-nimbang apakah akan maju sebagai cagub, atau cawagub berpasangan dengan Muslim Kasim.

Pertimbangan Shadiq Pasadique membuat model Muslim Kasim-Fauzi Bahar mulai diapung-apungkan. Adalah Basrizal Koto yang pertama kali mewacanakannya kepada publik. Dan ternyata  Fauzi Bahar pun menyahut dengan elegan –tidak menolak, tetapi juga tidak mengiyakan, dalam artian tetap mencermati dinamika politik di Sumbar.  Artinya, jika konstelasi politik mendukung, bisa jadi Fauzi Bahar “mewaqafkan” diri sebagai cawagub-nya Muslim Kasim.

Terlepas dari bongkar-pasang duet kandidat tersebut, pasangan manapun yang “deal” jelas akan menjadi pesaing kuat pasangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit, apalagi pasangan-pasangan kandidat yang lain. Karena itu ketimbang bertempur, strategi terbaik adalah mencegah ketiga kandidat ini berlaga.  Caranya? Kita kupas pada tulisan selanjutnya 

*Buyuang Binguang adalah analis kelas kampung yang masih suka linglung